Pinto Aceh dalam Sinetron CHSI

oleh Herman RN

catatan hatiANDA suka sinetron? Jika Anda penggemar sinetron Indonesia, tentu Anda kenal sinetron Catatan Hati Seorang Istri (CHSI). Film yang diangkat dari novel Asma Nadia ini sedang booming di Tanah Air. Sinetron yang baru jalan tayang sebulan ini telah berhasil menduduki posisi dua besar dalam kancah perfilman televisi di Indonesia.

Dalam episode 65-66, sinetron ini telah berkisah banyak hal dalam kehidupan manusia umumnya. Apa yang dipertontonkan dalam sinetron ini dianggap cermin dari dunia nyata, setidaknya itu tampak dari twitter banyak orang yang melakukan hastag ke #CHSI. Dalam apresiasi sastra, kisah pada sebuah cerita fiksi memang bisa berupa cermin dalam dunia nyata (mimesis).

Alur CHSI episode 65-66 ini sudah sampai pada jatuh sakitnya Muslimah, istri ustaz Jufri. Pada adegan Muslimah mencari suaminya karena cermin di rumah mereka mendadak berubah hitam semua, tampak Jufri sedang salat. Di sampingnya ada mebelmotif “Pinto Aceh”.

Furnitur itu diletakkan sebagai salah satu hiasan di ruang salat rumah Jufri. Furnitur tersebut warna kuning dan tampak indah. Pinto Aceh sejatinya adalah suatu motif tradisional Aceh. Pinto Aceh hanya salah satu dari ratusan motif tradisional yang ada di Aceh.

Mulanya, motif ini disematkan pada kancing baju, bros, dan sejenisnya. Motif “Pinto Aceh” juga sering dijadikan motif batik Aceh, yang dilukis/diukir pada baju, peci, dan aksesoris pakaian tradisional Aceh. Belakangan, motif Pinto Aceh juga sering dibuat di kain rentang sejumlah acara yang berlangsung di Aceh. Motif ini seakan menjadi ikon dari ratusan motif tradisional Aceh.

Dari sejumlah referensi disebutkan bahwa motif Pinto Aceh muncul sekitar tahun 1935. Motif ini diciptakan oleh seorang pengrajin Aceh, Mahmud Ibrahim. Toh Mud—sapaan Mahmud Ibrahim—menciptakan motif ini berdasarkan corak pinto khop, monumen peninggalan Kerajaan Iskandar Muda.

Pinto AcehToh Mud mengkreasikan motif Pinto Aceh berawal dari permintaan seorang opsir Belanda. Opsir itu tertarik dengan corak pinto khop. Ia ingin memberikan hadiah kepada istrinya dalam bentuk sesuatu yang unik, yang tidak ada di negaranya. Pinto khop mengispirasi dia untuk sebuah hadiah. Maka dipanggillah Toh Mud.

Kini, motif Pinto Aceh yang diambil dari corak pinto khop itu sudah semakin tenar. Sering bros bentuk Pinto Aceh sekarang dijadikan sebagai buah tangan dari Aceh, selain motif rencong tentunya. Maka, suatu kebanggan bagi rakyat Aceh jika motif ini mulai dikenal di dunia luas.

Diperlukan pengawasan dari pihak berwenang, karena Pinto Aceh tidak dikenal dengan baik oleh masyarakat luar. Mereka hanya paham bentuknya, tapi tidak paham makna bahkan tidak tahu namannya. Setidaknya itu pengalaman saya saat memberikan hadiah baju batik motif Pinto Aceh kepada seorang teman di Thailand.

“Ini batik Aceh. Itu motif Pinto Khop atau sering disebut Pinto Aceh,” kata saya menjelaskan, sedangkan dia hanya asek-asek ulee.

Kiranya, perlu sosialisasi bahwa corak pintu berbentuk langsing itu adalah motif tradisional Aceh dan perlu dipatenkan. Rakyat Aceh pun patut bangga motifnya sudah semakin digemari banyak orang di banyak tempat, termasuk dalam sinetron Ramadan yang bertajuk CHSI.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s