Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Ramadan dan Rejeki yang Tak Terduga

ramadanHAMPIR saban hari ada saja hamba Allah yang meletakkan makanan di depan pintu rumahku. Hari pertama Ramadan, ada yang memberiku kurma satu bungkus. Esoknya giliran orang lain memberiku kurma. Sampai lima hari Ramadan selalu ada yang memberikan kurma hingga aku tak perlu lagi beli kurma. Hari keenam Ramadan, seseorang menggantungkan sekotak kecil kurma di depan pintu rumahku.

Keesokannya, ada yang meletakkan bubur, esoknya lagi gulai ikan, esoknya lagi gulai udang, esoknya lagi sup, esoknya buah nangka, esoknya air kelapa, esoknya air tuak, dan esoknya kue-kue yang aku tak tahu namanya, semacam penganan ringan khas Patani sini. Intinya, saat aku buka pintu sore hari menjelang berbuka, ada saja makanan tergantung di depan pintu. Makanan itu dari hamba Allah tanpa kutahu siapa.

Pernah suatu hari terong dan cabai tergantung di depan pintu. Kukatakan pada jiran sebelah rumah. “Abang, terima kasih terong dan cilinya.” Ia menjawab, “Oh, kemarin memang saya yang beri, tapi hari ini bukan saya. Itu mungkin dari tuan punya rumah.” Begitulah silih berganti mereka saling memberi.

Kemarin, aku numpang tut-tut di Yala, angkot khas Patani. Dalam angkot itu ada ibu-ibu yang baru pulang belanja kue dan baju lebaran untuk anaknya. Tiba-tiba si ibu mengeluarkan sekantong besar peyek. “Ini untuk Adik,” katanya.

Hari ini, aku buka puasa di masjid kampus. Sepulangnya, ada plastik (bahasa Patani: jabe) tergantung di depan rumahku. Kulihat isinya, es cendol dan rambutan lumayan banyak. Kadang pula aku heran pada ibu di kedai makan langgananku. Hampir setiap hari, ada saja yang ia lebihkan untukku. Kalau aku beli satu potong ikan, kadang ia sengaja memberiku dua potong. Kalau aku beli sebungkus bubur kacang hijau, ia berikan aku sebungkus lagi bubur jagung. Ada saja sedekah jariahnya untukku.

Subhanallah… begitulah kehidupanku setiap hari di sini, selalu ada saja rejeki dari Allah yang dikirimnya entah lewat siapa. Sampai saat ini, aku tak tahu siapa saja si pemberi yang saban hari meletakkan sesuatu di depan pintu rumahku. Aku hanya bisa bermohon pada Rabb, mudahkanlah rejeki mereka. Amin…

Seingatku, amalku masih banyak kurang, tapi Allah telah menunjukkan kelebihan bulan puasa ini bagiku. Aku memang pernah berbagi di bulan Ramadan ini. Kebetulan mertuaku datang bawa indomie dan roti bolu dari Aceh. Roti itu kami potong-potong dan kami bagikan dengan beberapa indomie ke lima rumah tetangga. Hanya lima rumah saja. Namun, Allah ternyata membalas itu dengan berlipat-lipat. Subhanallah… syukur ke hadirat-Mu ya Rahman ya Rahim… [Herman RN]

Filed under: Memory

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: