Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Bahasa Variasi Label

oleh Herman RN

[terbit: kolom balai bahasa, Serambi Indonesia, 3 Agustus 2014]

PARA ahli sudah menyepakati sejumlah hakikat bahasa. Disebutkan bahwa bahasa sebagai alat komunikasi hakikatnya universal, unik, arbitrer, konvensional. Bahasa juga dapat berupa simbol dan tanda. Dalam sifat lain, bahasa juga bervariasi dari sisi media, situasi, dan penuturnya.

bahasa

Sejauh ini, para ahli sepakat bahwa variasi bahasa ditinjau dari sisi penutur dapat diklasifikasikan dalam bentuk idiolek (individu penutur), dialek/logat (daerah penutur), kronolek (zaman), sosiolek (sosial budaya), dan fungsiolek (fungsi penutur). Berikutnya, ditemukan pula variasi balek, yakni bahasa yang dituturkan dalam bentuk mengganti atau membalik unsur vokalnya. Di Aceh, variasi balek lumayan banyak, misalnya haba beulanjéh-abéh beulanja, sabang blahdéh-sabé meuglang, gampông punggét-gapét punggông, dan lain-lain.

Dalam komunikasi sehari-sehari, ternyata ada juga variasi label. Variasi label dapat dimaknai bahwa ada suatu nama benda yang dilekatkan untuk menggeneralisasi benda-benda serupa.        Label ini tercipta karena popularitas nama benda tersebut sebagai suatu hasil kebudayaan. Benda-benda yang terlebih dahulu muncul akan mendominasi ‘nama’ terhadap benda-benda lain yang mirip dan muncul kemudian.

Bahasa variasi label terhadap suatu benda ini paling umum terjadi pada pengucapan nama merek. Sebut saja jenis air mineral. Aqua merupakan merek air mineral oleh perusahaan Danone. Kata “Aqua” kemudian mendominasi sejumlah air mineral merek lain yang muncul kemudian.

Kerap dalam kehidupan sehari-hari orang menyebut “Aqua”—bahasa lisan sering diucapkan “Akua”–padahal air yang diminumnya bukan merek Aqua. Pengunjung kedai atau cafe, misalnya, memesan minuman “Akua satu, Bang.” Boleh jadi saat itu petugas cafe membawa pesanan yang bukan merek Aqua. Kemungkinan merek Sling, I-Qua, MonQua, atau lain-lain. Namun, itu semua sudah dianggap sebagai Aqua.

Variasi label semacam ini terjadi pula pada produk mie instan. Karena “Indomie” merupakan produk mie instan yang sudah ‘dekat’ dalam pendengaran masyarakat, orang-orang kerap menyebut “indomie” untuk beberapa merek mie instan lainnya. Kalimat “Saya baru selesai makan indomie,” boleh jadi yang dimakan adalah sarimi, supermi, sakura, atau mie merek lainnya.

Variasi label tidak hanya terjadi pada produk makanan dan minuman. Merek kendaraan tertentu juga kerap memunculkan variasi label. Hal ini biasanya terjadi di kampung-kampung. Masyarakat Aceh umumnya menyebut kendaraan roda dua dengan “Honda”. Honda merupakan merek salah satu sepeda motor. Bagi masyarakat Aceh, apa pun sepeda motornya, selalu disebut Honda. Bi Honda droen siat ‘Saya pinjam Honda kamu sebentar’. Lon tuwo aneuk gunci Hondalon bunoe alèh dipat ‘Saya lupa kunci Honda saya tadi di mana’.

Ucapan-ucapan di atas sekilas biasa saja. Namun, kata “Honda” dalam setiap ucapan tersebut tidak selalu merujuk sepeda motor dengan merek Honda. Adakalanya sepeda motor itu merek Suzuki, Yamaha, TVS, dan lainnya. Karena masyarakat Aceh sudah lebih mengenal Honda terlebih dahulu, mereka selalu menyebut kata Honda untuk segala merek kendaraan bermesin yang roda dua itu. Khusus untuk sepeda motor merek Vespa terkadang diucapkan Honda Verspa.

Variasi label terhadap benda atau produk tertentu ini selalu muncul pada setiap daerah dengan kekhasan masing-masing. Hal ini tidak terlepas dari budaya dan kebudayaan. Bahasa sebagai produk budaya tentu tak dapat lekang dari kebudayaan yang muncul di suatu tempat. Bahasa dan budaya tamsil kuah dan isi, laksana kulit dan ari. Oleh karena itu, tak ada yang salah dengan bahasa variasi label, hanya saja penting kiranya men-takrif-kan benda yang hendak diucapkan.

Dalam tindakan lisan, variasi label tersebut tidak dapat disangkal. Akan tetapi, dalam bahasa tulis, hendaknya perlu ditegaskan benda yang sebenarnya hendak diucapkan sehingga yang punya merek terhadap suatu produk tidak merasa terugikan hanya karena sebuah kosa kata. Perlu diingat, tingkap papan kayu persegi/riga-riga di pulau Angsa/ indah tampan karena budi/tinggi bangsa karena bahasa.

 

Herman RN, saat ini mengajar pada Fakultas Sastra,

Universitas Fatoni, Thailand.

Filed under: Bahasa Daerah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: