Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Maqam Perempuan dan Lelaki dalam Islam

Oleh Herman RN

genderSEBENARNYA, perdebatan relasi gender dalam Islam sudah selesai sejak dulu kala. Namun, banyak orang masih senang memperbincangkannya. Perbincangan itu kadang “tersesat” pada hak mendapatkan kebebasan dan pekerjaan. Sedikit sekali orang melihat relasi gender dari sisi lain.

Secara umum orang sudah paham bahwa kemuliaan seorang perempuan berada di atas lelaki. Bahkan, disebutkan bagi seorang perempuan saat ia sudah menjadi ibu, maqamnya tiga kali di atas seorang lelaki. Begitulah Islam memposisikan kemuliaan perempuan.

Hal ini sesuai hadis nabi tatkala ada seseorang menjumpai Rasulullah dan bertanya, “Ya Rasulullah, setelah Allah dan engkau, kepada siapa lagi aku harus berbakti?” Rasul menjawab “Ibumu.” Orang tersebut bertanya lagi, “Lalu kepada siapa lagi?” Rasul menjawab “Ibumu.” Kembali orang itu bertanya, “Lalu siapa lagi?” Rasul masih memberi jawaban yang sama, “Ibumu.” Pertanyaan yang sama keempat kalinya, barulah Rasul menjawab “Bapakmu.”

Di sinilah tanda bahwa maqam perempuan itu lebih tinggi dibanding maqam lelaki. Namun, hal ini harus dicermati kembali. Maqam perempuan itu berada di atas lelaki tatkala perempuan itu berlaku sebagai seorang ibu. Islam mencoba memberikan kemuliaan bagi setiap ibu yang telah berjerih-payah mengandung, melahirkan, dan membesarkan anaknya.

Meskipun perempuan lebih mulia dibanding lelaki, ia juga harus ingat posisinya sebagai istri. Dalam posisi seorang perempuan sebagai istri, kondisi bagaimana pun ia tetap berada di bawah suami (lelaki). Suami adalah imam dalam rumah tangga. Hal ini sesuai firman Allah dalam Alquran Surrah an-Nisaa yang menyebutkan “Lelaki adalah pemimpin bagi setiap perempuan…”

Di sini penting dicermati. Amal sunnah sekali pun yang dilakukan seorang istri, tanpa seizin suami akan dianggap dosa. Dimisalkan, seorang istri masa mudanya adalah seorang muslimah yang taat. Suatu hari, ia katakan pada suaminya, “Bang, saya besok puasa sunnah Senin-Kamis ya.”

“Puasa sih boleh, tapi Abang besok cuti kerja kan? Kalau kamu puasa, Abang gimana?” sahut suaminya.

Perkataan suami yang secara tak langsung keberatan ini mesti dipatuhi oleh si istri. Kalau istri tetap puasa, ia tidak mendapatkan pahala puasa sunnah itu. Contoh lain, suatu ketika datang seorang peminta sedekah ke rumah. Si istri mengambil uang di kantong pakaian suaminya untuk diberikan kepada peminta sedekah. Kebetulan suaminya tak ada di rumah dan si suami tak tahu serta tidak diberi tahu oleh si istri. Alasan si istri baik, mulia. Ia hendak bersedekah dan sedekah hendaknya diberikan dengan tangan kanan tanpa sepengetahuan tangan kiri. Namun, karena uang di kantong suaminya yang diambil dan mungkin itu uang dibutuhkan oleh suaminya, maka si istri tidak mendapatkan pahala, melainkan dosa. Pahala sedekah jatuh pada suami.

Hasil jerih payah suami memang hak istri. Namun, segala suatu hendaknya didiskusikan bersama suami. Sebaliknya, hasil jerih payah perempuan berhak dikelola oleh si perempuan, termasuk jika ia hendak berbagi dengan ibu atau saudaranya. Namun, sekali lagi, alangkah lebih baik jika semua itu dilakukan dengan terbuka bersama suami. Suami yang baik tentu tidak akan melarang pekerjaan baik yang dilakukan oleh istrinya. Di sinilah letak sakinah mawaddah warahmahnya sebuah rumah tangga.

Begitulah Islam mengatur kesetaraan gender antara lelaki dan perempuan. Adakalanya maqam perempuan itu berada di atas lelaki sampai tiga kali. Hal ini jika si perempuan dipandang sebagai seorang ibu. Namun, adakalanya maqam lelaki lebih tinggi di atas perempuan, jika si perempuan berposisi sebagai istri. Sangat adil bukan?

[disarikan dari berbagai sumber]

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: