Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Abu Bakar, Bapaknya Para Mukmin

Oleh Herman RN

Abu BakrABU BAKAR as-Shiddiq, demikian nama sahabat Rasulullah yang satu ini. Ia merupakan satu dari empat sahabat terdekat Rasulullah saw. yang dijuluki sebagai khulafar rasyidin. Ada riwayat menyebutkan nama asli Abu Bakar adalah Abdullah bin Abi Quhafah. Ia merupakan salah satu orang yang tercepat masuk Islam. Baginya, apa pun yang disampaikan Nabi Muhammad saw. adalah sebuah kebenaran. Itu sebab, ketika Muhamamd mengatakan “Aku adalah utusan Allah,” Abu Bakar langsung bersyahadat.

Selanjutnya, di tangan Abu Bakar banyak pula yang masuk Islam. Halnya Rasul yang berdakwah diam-diam ke satu per satu penduduk jazirah Arab, Abu Bakar juga demikian. Ia mencari orang-orang yang akan diajaknya mengucap kalimah syahadat. Orang pertama yang diajaknya mengucap syahadat adalah Usman bin Affan, seorang kaya raya yang kelak juga dijuluki sebagai khulafaur rasyidin.

Setelah Usman memeluk Islam, Abu Bakar menjumpai Zubair bin Awwam yang kemudian terkenal dengan kuat ibadah. Zubair masuk Islam juga karena dakwahnya Abu Bakar. Di hari yang sama, Abu Bakar berhasil pula mengajak masuk Islam seorang lainnya, Saad bin Abi Waqqash yang terkenal dengan keberaniannya di medan perang. Saad sempat dijuluki juru kunci perang. Ia mengucap syahadat berkat Abu Bakar. Masih di hari yang sama, Abu Bakar berhasil mensyahadatkan Abdurrahman bin Auf yang terkenal dengan kesalehannya, dan Thalhah bin Ubaidilah, seorang pedagang cerdik masa itu.

Artinya, ada banyak orang yang langsung memeluk Islam ketika diajak oleh Abu Bakar. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa nama-nama yang memeluk Islam bersama Abu Bakar di atas adalah golongan sahabat yang dijamin masuk syurga.

Modal dakwah Abu Bakar sederhana. Gelar as-shidddiq pada dirinya telah membuat orang selalu percaya pada apa yang disampaikan Abu Bakar. Hal ini karena Abu Bakar dikenal selalu berkata benar. Orang-orang di jazirah Arab ketika itu belum pernah mendapati sekalipun Abu Bakar berkata dusta. Ini modal terbesar Abu Bakar.

Adapun Abu Bakar, baginya manusia yang tidak pernah dusta adalah Muhammad saw. Abu Bakar tidak pernah sekali pun menyangkal perkataan Rasulullah. Bahkan, ketika Rasulullah pertama sekali mengaku bahwa dirinya adalah nabi Allah, Abu Bakar langsung percaya. Tak pernah sekali pun ada sanggahan dari Abu Bakar sampai Rasul wafat.

Ketika Rasul mengajak kaum Quraisy mengucap syahadat, sering Rasul mendapatkan pertanyaan semisal “Apa benar kau nabi?”. Namun, ketika Muhammad mengaku nabi di hadapan Abu Bakar, tak pernah ada pertanyaan serupa itu. Abu Bakar langsung bersaksi “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah.”

Abu Bakar selalu membenarkan semua perkataan Rasul. Abu Bakar adalah orang pertama yang membenarkan peristiwa isra miraj tatkala semua orang di jazirah Arab masih meragukannya. Ketika itu, Rasulullah sedang tercenung mengingat peristiwa yang baru saja dilaluinya semalam. Beliau masih takjub akan persitiwa naik ke langit ketujuh dan berjumpa langsung dengan Allah hanya dalam waktu satu malam.

Dalam ketercenungannya, tiba-tiba sampai Abu Jahal. Abu Jahal bertanya pada Muhammad mengapa tercenung. Rasulullah menceritakan semua yang dilaluinya bahwa ia dari Mekkah ke Palestina lalu naik ke langit ke tujuh berjumpa Allah, dengan mengendarai buraq.

Bagi Abu Jahal, ini adalah cerita konyol. Ia berniat akan mempermalukan Rasulullah di depan orang banyak. “Muhammad, maukah kau menceritakan semua ini di hadapan orang-orang? Kalau mau, aku kumpulkan semua orang di jazirah Arab ini,” ujar Abu Jahal yang merasa punya senjata untuk mempermalukan Rasulullah.

Naiklah Abu Jahal ke sebuah batu dan memanggil semua orang Arab berkumpul. Mulanya orang heran, bagaimana mungkin Abu Jahal memanggil orang-orang hanya untuk mendengarkan perkataan Muhammad? Bukankah selama ini Abu Jahal selalu menentang Muhammad? Namun, orang-orang tetap berkumpul.

Di hadapan orang banyak, Rasululah menceritakan peristiwa isra miraj yang dialaminya. Banyak orang tidak percaya. Bahkan, dari kalangan sahabat yang sudah Islam pun ada yang masih ragu dengan cerita Rasulullah itu. Mereka berpikir, bagaimana mungkin perjalanan sejauh itu sampai ke langit ke tujuh hanya ditempuh satu malam?

Dalam keraguan seperti ini, para sahabat teringat pada Abu Bakar. Mereka mencari Abu Bakar. Kebetulan Abu Bakar sedang berada di kebun kurma miliknya. Beberapa sahabat menyampaikan perihal cerita Rasul kepada Abu Bakar. Abu Bakar segera mendatangi pusat kermaian.

Sesampai di hadapan Rasul, Abu Bakar bertanya, “Muhammad, apakah kau sedang menceritakan seperti yang dikatakan oleh orang-orang ini?”

“Ya,” jawab Rasulullah.

“Kau benar, Muhammad!” sahut Abu Bakar.

Beberapa orang mulai protes. “Ya Abu Bakr, bagaimana mungkin kau langsung percaya padahal kau baru mendengar cerita Muhammad?”

Dengan tenang Abu Bakar menjawab, “Andai Muhammad hanya di bumi lalu wahyu sampai padanya tanpa naik ke langit, niscaya aku tetap percaya.” Lebih dari itu, Abu Bakar menegaskan, “Andai di hadapanku ada dinding warna putih, tapi Muhammad mengatakan itu bukan putih, melainkan hitam, niscaya aku akan mengatakannya hitam. Aku akan katakan dinding itu hitam dan aku bohongkan mataku.”

Mendengar ucapakan Abu Bakar, orang-orang tak mampu berkata apa-apa lagi. Begitulah cara Abu Bakar membenarkan Rasulullah. Bahkan, dalam riwayat disebutkan Abu Bakar selalu berusaha meniru semua perlakuan Nabi tanpa kecuali.

Suatu kali setelah Rasulullah wafat, Abu Bakar bertanya pada Aisah. “Ya anakku, Aisah, kau adalah istri Muhammad, yang hidup bersama Muhammad. Kau pula adalah anakku. Coba jelaskan kepadaku, adakah satu sifatku yang tidak sama dengan Muhammad?”

“Tidak ada ya Ayahanda. Semua sifatmu sudah sama dengan Rasulullah,” sahut Aisah.

“Ingat lagi Aisah. Mungkin ada satu sifat Rasulullah yang belum pernah aku kerjakan.”

Aisah diam sejenak, mengingat-ingat. “Ada ya Ayah. Muhammad setiap sore pergi ke ujung kampung ini, menjumpai seorang perempuan Yahudi yang sudah tua dan buta. Ia memintaku mempersiapkan makanan yang akan ia suapi untuk perempuan Yahudi itu.”

“Kalau begitu, Aisah, kau siapkan makanan seperti biasa. Aku akan ke ujung kampung ini, menjumpai wanita Yahudi tua itu. Aku akan meneruskan pekerjaan Rasulullah menyuapi perempuan itu,” kata Abu Bakar.

Beginilah cara Abu Bakar mengagungkan Rasulullah. Ia tak pernah menyanggah Rasul sekali pun dan ia selalu berusaha meniru semua laku Rasulullah. Itu sebab ia sangat layak menyandang gelar “Bapaknya para mukmin.”

Tentang Abu Bakar, Rasul pernah bersabda, “Jika ditimbang iman Abu Bakar dengan iman seluruh umat yang ada di Madinah, niscaya lebih berat iman Abu Bakar,” (H.R. Al-Bayhaqi).[]

Filed under: Sosok

4 Responses

  1. fauzialhari mengatakan:

    Maaf, mungkin harus dikoreksi, pada bagian ini:

    Andai di hadapanku ada dinding warna putih, tapi Muhammad mengatakan itu bukan putih, melainkan hitam, niscaya aku akan mengatakannya putih. Aku akan katakan dinding itu putih dan aku bohongkan mataku.”

    mungkin yang benar:
    Andai di hadapanku ada dinding warna putih, tapi Muhammad mengatakan itu bukan putih, melainkan hitam, niscaya aku akan mengatakannya HITAM. Aku akan katakan dinding itu HITAM dan aku bohongkan mataku.”

    Wallahu A’lam

  2. AhmadRifai Maulidi mengatakan:

    “Andai di hadapanku ada dinding warna putih, tapi Muhammad mengatakan itu bukan putih, melainkan hitam, niscaya aku akan mengatakannya HITAM. Aku akan katakan dinding itu HITAM dan aku bohongkan mataku.”
    Kutipan ini riwayatnya bagaimana ya saudaraku ..? Hadistnya ..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: