Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Negeri Para Taklid Buta

Sajak Herman RN

 

Lihat! Harga BBM akan naik lagi

Orang-orang diam

Orang-orang memuja dalam diam

Yang mengalir dianggap air

Yang melata tidak dianggap apa

 

Ingat! Masa negeri ini dipimpin mereka

Soeharto, Megawati, Susilo, atau lainnya

Berkali-kali BBM dinaikkan

Berulangkali kritik disampaikan

Oleh mereka para intelektual

Oleh mereka para aktivis

Oleh mereka para mahasiswa

Turun ke jalan unjuk rasa

Bila perlu bakar ban segala

 

Kini! BBM akan dinaikkan lagi

Kebijakan presiden baru negeri Pertiwi

Meski belum disumpah-lantik oleh mahkamah tinggi

Orang-orang malah memuji

Orang-orang mencari alibi

Membenarkan semua kebijakan itu ini

Seolah menaikkan BBM keharusan negeri

Seakan menaikkan BBM jalan menuju suci

 

Nun di sana

Mereka membincang Hak Asasi Manusia

Bahwa yang menindas rakyat adalah pelanggar HAM

Bahwa yang menyiksa jelata adalah pelanggar HAM

Mereka lupa

Kenaikan BBM lebih menindas daripada sepatu lars

Kenaikan BBM lebih menyiksa daripada popor senjata

 

Hancur sudah kredibilitas intelektual

Hilang sudah jati diri aktivis

Punah sudah indetitas mahasiswa

Tertutupi oleh kebijakan pemimpin baru

Yang dipilih pada Juli lalu

Karena pernah berjaya pada tingkat kota

Si pemimpin selalu dipuji-puja

Tak peduli menaikkan segala harga

Tak peduli rakyat gelisah setiap kala

 

Inilah negeri mereka

Para taklid buta pada suatu masa

Selalu mengangungkan pemimpinnya

Melebihi suci para aulia

Kalau ada yang menyela

Memberi kritik atau sedikit menduga

Orang itu dilabeli “Penuh Kebencian”

Hendak mereka

Jangan pernah ada kritikan

Pada pemimpin yang mereka pilih kemarin malam

 

Inilah negeri mereka

Para taklid buta pada suatu ketika

Jika ada yang kritik pemimpinnya

Para pemuja balik menghardik sambil bertanya

“Lalu menurut kau solusinya apa?”

Tentu saja maksudnya agar jangan banyak memberi kritikan

Demokrasi dibunuh seketika

Tak boleh bersuara jika menyentil pemimpinnya

 

Inilah negeri mereka

Para takklid buta pada suatu masa

 

 

Akhir Agustus 2014

Filed under: Puisi, , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: