Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Menaklukkan ‘Api’ di Gedung Tsunami

Ini feature lama saya yang sudah terbit di Aceh Kita. Saya re-post di sini sebagai bahan dokumen pribadi.

oleh Herman RN

MATAHARI perlahan beranjak meninggi. Embun di pucuk-pucuk daun halaman belakang geudung Tsunami Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Ulee Lheue, pelan-pelan memuai. Gedung TDMRC akrab dengan sebutan gedung riset dan mitigasi bencana tsunami.

Hari itu, Minggu, 17 Juli 2011, sekitar pukul 10.00 WIB. Orang-orang sudah berkumpul di sana sejak sejam yang lalu. Sebuah panggung kecil di sebelah barat dipasang menghadap ke timur laut. Di hadapannya terdapat teratak sepanjang kira-kira dua puluh meter. Puluhan kursi plastik –dari jumlahnya yang seratusan—tampak telah diduduki banyak orang. Ada yang mengenakan pakaian tari, ada yang kostumnya mirip pencuri, ada berlagak hitam serupa korban tsunami.

Mereka menyeringai karena teriknya matahari. Beberapa anak sekolah dasar dan sekolah menengah atas mulai memainkan kipas mungil mereka. Di antaranya ada yang hanya menyeka keringat di bagian wajah dengan tisu atau belakang tangannya sendiri.

Tiba-tiba saja di tengah halaman belakang TDMRC itu muncul api. Api tersebut berasal dari sebuah drum. Agaknya drum itu telah berisi air dan bensin. Beberapa suara mulai berteriak kecil “Api..api..”

“Eh..copot, api..copot terbakar..eh..” suara latah seorang perempuan muncul juga dari keramaian.

Seketika itu pula, seorang lelaki dewasa berbadan tegap, dengan kostum serba donker, mengambil selembar goni. Goni yang telah dibasahinya terlebih dahulu itu ditelungkupkannya ke api yang sedang menyala. Pada topi si lelaki tertulis “pemadam”. Agaknya ‘kebakaran’ baru saja terjadi. Namun, berkat sigapnya si pemadam, api kini telah padam. Perlahan, menipis pula asap yang mulanya berwarna kelam, lalu hilang, tanda kebakaran telah teratasi.

“Nah, cara memadamkannya tidak boleh berlawanan dengan arah angin,” kata seorang lelaki dewasa bertubuh jangkung. Lelaki berbaju putih itu tidak jauh berdiri dari sisi si pemadam tadi.

Dari cara ia bertutur, pakaiannya, dapat ditebak bahwa lelaki itu adalah komandan pemadam kebakaran Kota Banda Aceh. Adapun si lelaki yang memadamkan api dengan goni adalah seorang anggotanya.

Simulasi mengatasi kebakaran secara tradisional tersebut dipertunjukkan Satuan Pemadam Kebakaran dari Kota Banda Aceh dalam kegiatan yang digelar oleh TDMRC Ulee Lheue. Selain cara tradisional, mereka juga memperagakan memadamkan api secara modern, dengan menggunakan tabung pemadam.

“Jadi, begitu kalau terjadi kebakaran di rumah, dari mana pun penyebabnya, termasuk dari kompor. Salah satu antisipasi dapat dilakukan dengan goni basah,” tambah komandan pemadam.

Ia juga mempersilakan seorang tamu di sana untuk mempraktikkan cara memadamkan api dari drum seperti yang dilakoni anggota pemadam itu sebelumnya.

Ketua Panitia, Mukhlis A. Hamid, menyampaikan, kegiatan itu berlangsung dua hari, 16-17 Juli 2011. “Ada lomba mewarnai, lomba menulis cerita berdasarkan gambar, lomba tari. Ada juga musikalisasi puisi,” ujarnya.

Anek lomba yang digelar sepanjang dua hari itu untuk tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas, yang lokasi sekolahnya berada di sekitar lokasi tsunami, Ulee Lheue serta Peukan Bada.

“Acara ini bekerja sama dengan PMI Kota Banda Aceh, Walhi Aceh, dan Pemadam Kota Banda Aceh,” imbuh dosen sastra Unsyiah itu. []

Filed under: Feature

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: