Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Aceh ‘Laboratorium’ Bencana

Oleh Herman RN

[Serambi Indonesia, 13 Desember 2014]

AKHIR Desember 2004 silam, simpati untuk Aceh datang dari berbagai belahan dunia. Kala itu yang luluh lantak daerah pesisir Aceh. Kali ini, giliran dataran tinggi Aceh yang ‘dicium’ gempa. Terlengkapi sudah bahwa gempa memilih Aceh bukan hanya pada dataran rendahnya dengan air laut yang naik ke darat, tapi juga dataran tingginya dengan kerusakan bangunan yang tidak kalah hebat.

Memasuki 2013, tepatnya 22 Januari silam, gempa juga sempat singgah di Tanah Iskandar Muda ini dengan pusat di Kecamatan Mane dan Geumpang. Akibat guncangan kali itu, satu orang meninggal dunia dan sejumlah bangunan retak bahkan ada yang ambruk. Selepas itu, beberapa gempa kecil terus mewarnai Tanoh Aceh. Kadang subuh, kadang siang, kadang menjelang malam, kadang pula tengah malam, selalu ada goyangan-goyangan kecil di bumi Aceh.

Selama 2013 lalu saja, walau tidak tiap hari, nyaris tiap bulan masyarakat Aceh merasakan gempa. Januari di Kecamatan Mane dan Geumpang, Februari giliran Simeulue yang digoncang gempa berkekuatan 5,0 SR, dengan kerusakan rumah-rumah penduduk. Tidak cukup pada Februari, daerah kepulauan Simeulue kembali diayun gempa pada April 2013. Bahkan, di April itu, kekuatan goncangan mencapai 8,9 SR dengan gempa susulan 8,5 SR, yang disebut-sebut berpotensi tsunami. Berbagai media menyiarkan bahwa gempa pada April itu sempat dirasakan oleh negara Malaysia, Singapura,dan, Thailan. Pada bulan yang sama, Aceh Barat juga merasakan gempa dengan kekuatan 5 SR. Berikutnya, awal Mei, gempa kembali singgah di kepulaun Simeulue. Pada Juni, memang tidak terjadi gempa di Aceh, tetapi memasuki Juli 2013, tanah Aceh kembali berguncang dengan pusat gempa di dataran tinggi Gayo.

Kesannya, Aceh dan gempa umpama lidah dan jalkun: begitu dekat, begitu erat. Kesan in sekaligus menunjukkan betapa akrabnya Aceh dengan bencana alam. Tahun ini saja, selain gempa, Aceh juga dilanda banjir dahsyat. Sepanjang April-Mei, beberapa daerah Aceh dilanda banjir bandang. Banjir awal Mei tahun ini sempat membuat ribuan warga mengungsi. Pada bulan yang sama, banjir juga melanda daerah lain di Aceh, seperti Bireuen, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Barat Daya, Nagan Raya, dan Aceh Tengah. Banjir pun membuat aktivitas pelaksanaan Ujian Nasional (UN) beberapa sekolah di Aceh sempat terganggu, selain arus transportasi yang lumpuh.

Tahun 2012, banjir bandang juga melanda Tangse, Aceh Pidie. Banjir kala itu membuat puluhan rumah hilang. Tahun sebelumnya juga tercatat banjir bandang melanda Aceh Tenggara, Subulussalam, dan Aceh Singkil. Rasanya, sungguh genap hitungan bencana alam di Aceh sepanjang tahun: jika bukan gempa, datang banjir. Cocoklah daerah dengan julukan negeri syariat itu dilakab “laboratorium bencana”.

Oleh karena itu, masyarakat juga mesti diberi pemahaman tentang imbas banjir. Tak dapat dinafikan bahwa penebangan hutan merupakan penyebab utama banjir dahsyat. Aceh Selatan, misalnya, sejak gunung Menggamat jadi lahan pengerokan tambang emas, banjir tahun ini lebih dahsyat dari tahun-tahun sebelumnya. Kendati yang dikerok gunung Menggamat, Kecamatan Kluet Tengah, imbas banjir dirasakan juga dengan dahsyat oleh masyrakat Kluet Utara, Kluet Selatan, Kluet Timur, dan Pasie Raja (Kluet Barat). Karenanya, pemerintah mesti mengkaji ulang regulasi pertambangan di Aceh.

 Penanda tsunami
Secara alamiah, gempa sudah dianggap penanda utama muncul tsunami. Mengingat Aceh sering gempa, perlu perhatian khusus soal jalur penyelamatan masyarakat. Saban gempa terjadi, setiap ruas jalan raya penuh dengan orang-orang yang lari lintang-pukang menyelamatkan diri. Hal ini karena kurangnya jalur evakuasi alternatif. Padahal, jika berkaca pada tsunami Desember 2004, mestinya, setiap pusat keramaian di Aceh harus ada jalur evakuasi dan gedung evakuasi (escape building).

BMKG juga diharapkan memiliki alat deteksi gempa dan tsunami yang akurat, selain bertindak cepat. Segala isu yang meresahkan warga mesti lekas ditampik BMKG bilamana belum tentu keabsahannya. Demikian dengan aparat keamanan yang merupakan pengayom masyarakat, mesti sigap mendahulukan keselamatan warga tinimbang menanti perintah atasan.

Bagi masyarakat sendiri, penting pula memahami tanda-tanda alam sebagai kearifan lokal. Jangan karena zaman sudah modern, gejala alam dikangkangi dan dianggap mitos besar. Di Aceh, sejak dulu ada kearifan lokal yang berkembang secara turun temurun, baik yang datang dari alam mapun yang mesti dilakukan oleh masyarakat sendiri. Sebut saja saat tsunami Desember 2004 silam. Dari arah laut banyak burung camar terbang berhamburan tidak menentu-padahal biasanya camar terbang membentuk lancip atau segi tiga ke samping (>). Sedikit sekali masyarakat yang paham bahwa camar yang terbang kacau balau dari arah laut itu merupakan penanda akan ada bencana alam (tsunami, kala itu). Kebanyakan orang sekarang tidak mempercayai lagi sesuatu yang muncul dari alam.

Kearifan lokal dalam bentuk yang mesti dilakoni, misal, soal bangunan rumah. Dulu, setiap rumah di Aceh ditanami pohon kayu besar pada bagian samping. Hal ini sebagai antisipasi jika banjir datang, arus tidak langsung menghantam badan rumah. Ini hanya contoh kecil, tentunya masih banyak kearifan lokal yang lain, yang kini mulai ditinggalkan perlahan dengan alasan teknologi sudah canggih. Padahal, kearifan lokal penting, disiplin ilmiah juga penting. Apalagi, bagi daerah laboratorium bencana alam.

Selain gempa dan banjir, Aceh juga memiliki empat gunung api yang aktif normal, yang mesti diwaspadai oleh setiap orang. Di Aceh Besar ada gunung Seulawah Agam. Di Pidie Jaya ada gunung Peut Sagoe. Di Bener Meriah ada gunung Burni Telong yang saat gempa Juli lalu sempat diisukan akan meletus. Disebutkan pula bahwa gunung Jaboi di Sabang juga dalam kondisi aktif normal. Meskipun masih aktif normal, Aceh mesti mawas diri karena suatu waktu gunung-gunung itu dapat berubah menjadi aktif waspada. Ingatlah, negeri ini sedang diuji-coba oleh alam sebagai ‘laboratorium’ bencana.

Herman RN, cerpenis dan pekerja sosial di Aceh, Alumnus Pascasarjana Unsyiah.

Filed under: Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: