Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Ini Kali Giliranmu

MASIH kuingat tahun lalu dan dua tahun sebelumnya, aku, Nek Mah, Nek Nur, dan Nek Lot, makan bersama ketika buka puasa di rumahku, tepatnya rumah ayahku. Nek Mah adalah nenekku yang tertua, sedangkan Nek Lot yang terbungsu.

Sejak beberapa tahun terakhir, tepatnya sejak aku selesai kuliah, kalau libur puasa, aku pulang kampung. Biasanya aku mudik lima hari menjelang lebaran. Biasanya pula, pada hari 26 puasa, kuajak Nek Mah, Nek Nur, dan Nek Lot buka puasa bersama di rumah.

“Gigi sudah tak punya pun masih suka ngunyah paha ayam,” begitulah kelakar Nek Lot untuk Nek Mah.

“Jadi, mau gimana? Saya kan juga mau makan enak sesekali. Apalagi ini harkat cucuku,” sanggah Nek Mah.

Nek Nur ketika itu iseng memasukkan tulang ikan asin ke dalam piring Nek Lot. Tulang ikan asin itu ia masukkan ketika Nek Lot minta tolong agar Nek Nur mengisi nasi tambah. Aku lihat itu sembari tersenyum.

“Asin..asin.. kakekmu asin.. kenapa asin.. mati asin.. siapa mau cepat kawin.. masak asin-asin. Punahlah.. rupanya ikan asin,” ucap Nek Lot.

Nek Lot memang latah. Suatu kali, ia pernah diperolok-olok oleh bibi. “Pukul..pukul pakai sandal, Mak!” ujar bibi. Nek Lot kemudian memukul Nek Mah dengan sandal. Kalau sudah begitu, biasanya bibi yang bakal kena semprot.

Betapa masa-masa itu jadi mimpi, terngiang saban ramadan. Tahun ini, tentu saja canda tawa dan keramaian serupa itu tidak ada lagi. Tiga hari menjelang ramadan lalu, sebuah pesan singkat masuk ke ponselku. “Nek Lot sudah mendahului kita…”

Pesan yang dikirm oleh bibi, anak Nek Lot itu, membuat tanganku gemetar. Saat itu juga tubuhku terasa melemas. Terngiang kembali canda Nek Lot untuk Nek Mah yang mengunyah tanpa gigi. Tentu saja, sapaan Nek Lot untukku yang tidak sanggup kulupa, “Cucu tertua”.

Sebelum mudik, kutelpon ke nomor bibi yang juga sama-sama menggunakan kartu prabayar dengan jaringan provider Telkomsel. “Bi, besok aku pulang.”

Di atas nisan Nek Lot, kuutarakan sebuah kalimat, “Nek Lot, tahun ini tak ada buka puasa bersama. Nek Mah pun sudah memutuskan untuk masuk panti di pesantren. Nek Nur mungkin menyusul. Nek Lot, ini kali giliranmu, jangan lupa…” kalimatku putus, tapi bukan karena jaringan Telkomsel.

Cerpen Herman RN

Filed under: Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: