Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Hatyai Floating Market, Terbayang Jembatan Lamnyong

OLEH HERMAN RN, putra Aceh, sedang mengajar di Fatoni University Thailand Selatan, melaporkan dari Hatyai

[Serambi Indonesia, 11 Januari 2015]

akuTAK sampai 20 menit dari terminal bus Kota Hatyai, Thailand Selatan, kita bisa sampai ke Floating Market, sebuah pasar tradisional yang terapung di atas sungai. Tempat ini dikenal sebagai wisata kuliner dan belanja pakaian. Menariknya, para penjual kuliner menjajakan dagangan mereka dari dalam perahu di atas air.

Lokasi pasar tradisional Thailand Selatan ini tepat di bawah sebuah jembatan. Pertama sekali menginjakkan kaki di atas jembatan ini, saya langsung terbayang Jembatan Lamnyong yang menghubungkan Darussalam dan Lamreueng/Lamnyong, Banda Aceh. Dari atas jembatan, saya menatap ke bawah. Jejeran perahu warna-warni menjadi hiasan tersendiri petang itu.

Perahu-perahu kayu tersebut ditambatkan di tepi sungai. Entah mengapa, saya seperti melihat bantaran Sungai Lamnyong ke arah Jembatan Krueng Cut di Banda Aceh. Sekilas sangat mirip. Bedanya, Jembatan Lamnyong lebih panjang daripada jembatan di sini.

hatyaifloetPasar tradisional ini sebenarnya sederhana saja. Puluhan perahu dijejer, setiap perahu ada satu atau dua pedagang. Mereka menjajakan dagangannya dari dalam perahu itu. Ada yang menjual nasi putih, aneka nasi goreng, tom yam, dan bermacam penganan. Makanan ringan khas Thailand Selatan seperti gorengan, sup, mi, dan aneka jenis minuman tersedia dengan keunikan penyajiannya. Nuget dan sosis dari daging ikan dan daging ayam tak ketinggalan. Orang sini menyebutnya isan, daging ikan/ayam yang dijadikan penganan ringan.

“Muslims are selling here. You may eat anything,” ujar Phi Bun, sopir tuk-tuk yang membawa saya ke tempat wisata kuliner ini. Tuk-tuk adalah sejenis angkutan kota (angkot) mirip labi-labi di Aceh. Hanya saja tuk-tuk lebih kecil daripada labi-labi.

Secara tak langsung, lelaki yang saya sapa “Phi Bun” ini bukan hanya menjadi sopir tuk-tuk bagi saya, tetapi juga sebagai pemandu wisata dadakan. Dari dia, saya banyak tahu tentang pasar di atas sungai ini. Sebelumnya, ke mana pun saya hendak pergi untuk kawasan Hatyai dan Songkhla, saya cukup telepon Phi Bun. Kata mantan guru matematika yang sangat lancar berbahasa Inggris ini, “Khusus untuk orang Indonesia, saya beri harga diskon, apalagi untuk kamu.”

Kalimat itulah yang membuat saya menjadi salah satu langganannya. “Saya senang pada orang Indonesia,” ucapnya lagi.

Hatyai Floating Market kebanyakan dikunjungi turis dari Malaysia. Pasar tradisional di bagian utara jantung Kota Hatyai ini hanya dibuka petang hari. Orang-orang di sini menyebutnya Khlong Hae. Kalau hujan lebat, kemungkinan hanya pasar baju yang buka, itu pun sekadarnya. Jika gerimis, para penjaja makanan ringan di atas perahu tetap jualan. Mereka pasang tirai payung untuk melindungi diri dan dagangannya.

Menurut Phi Bun yang kelahiran Hatyai, Floating Market sengaja dibuka sebagai destinasi wisata kuliner. Pada dasarnya tak beda Floating Market dengan objek wisata lainnya di Hatyai. Keunikan pasar ini hanya pada penjaja dagangan di atas perahu.

Semua tampak sangat sederhana, tapi menarik. Pedagang di sini juga sangat kreatif. Penjual air kelapa, misalnya, mengemas air kelapanya dalam potongan bambu. Bambu sebesar lengan dipotong ruasnya dengan menyisakan satu ruas lainnya sebagai alas pengganti gelas. Setelah dibersihkan, ke dalam bambu itulah air kepala dibubuhi untuk disuguhkan kepada pembeli.

Sebagian pedagang lainnya ada yang mengemas minuman dagangan mereka dalam gelas boneka tanah. Tentu saja bentuknya unik dan menarik dengan beragam corak. Harga minumannya lumayan terjangkau, sekitar 20 bath. Harga kaos-kaos bertuliskan “I Love Hatyai atau I Love Thailand” juga dijual seharga pasaran, berkisar 100 sampai 150 bath. Jika 1 bath=Rp350, maka baju yang sudah disablon itu dapat dimiliki hanya dengan Rp35.000-Rp50.000. Lumayan murah bukan?

Saya berjalan dari ujung ke ujung, mengamati para penjual kuliner tersebut. Sebagian besar berjilbab (perempuan), berpeci, dan berjanggut (laki-laki). Saat mendengar mereka bertutur satu sama lain, ada yang menggunakan bahasa Melayu dialek Patani atau dialek Kelantan. Di Kota Budha ini, Melayu identik muslim. Benarlah apa kata Phi Bun, “Jangan khawatir makan apa saja di sini.”

Jika para penjual berada dalam perahu di atas sungai, sejumlah gubuk dan kursi persinggahan berjejer pula di tepi sungai. Jarak antara kursi persinggahan dengan bibir sungai hanya tiga meter. Setiap pemesan makanan akan meletakkan uangnya dalam keranjang milik perahu mana tempat ia memesan makanan. Tukang perahu mengambil uang dalam keranjang plastik itu dan di situ pula ia letakkan pesanan pelanggan. Ia ulurkan keranjang itu dengan tongkat kayu saat meminta uang dan menyerahkan dagangannya. Suatu interaksi menarik antara penjual dan pembeli di ujung tongkat kayu. Di bagian daratan yang lebih tinggi, ada pasar baju dan sejumlah kedai games. Menarik.

Lagi-lagi saya membayangkan Jembatan Lamnyong. Andai di bawah jembatan itu dibuat seperti Floating Market ini, saya yakin, Lamnyong lebih hidup karena punya kawasan lebih luas daripada di Floating Market Hatyai ini. Semoga!

Filed under: Feature

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: