Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Mayat Tak Dikenal

Cerpen Herman RN

[Serambi Indonesia, 25 Januari 2015]

IlustrasiKAMPUNG Lamkutang dihebohkan penemuan sosok mayat tak dikenal. Mayat yang nyaris membusuk di tepi sungai itu masih misterius. Baunya menyengat hingga ke lubang hidung paling dalam. Diperkirakan sudah ada beberapa hari ia tenggelam atau hanyut lalu tersangkut di tepi sungai kampung Lamkutang.

Orang-orang kampung mengerumuni lokasi penemuan mayat tersebut. Mereka menutup hidung dengan telapak tangan masing-masing. Meski begitu, warga tetap berusaha menarik mayat itu dari tepi sungai. Sembari  melawan bau busuk, beberapa pemuda mencoba menyeret mayat itu ke darat.

Setelah berhasil dibawa ke darat, semua mata tertuju ke sosok mayat. Tak seorang pun mengenal sosok tak bernyawa itu. Seseorang mengusulkan agar menghubungi kepala kampung.

“Halo, Pak. Ada mayat ditemukan warga,” ucap seorang pemuda melalui saluran telepon.

“Hallo. Mayat?! Di mana?”

“Di tepi sungai, Pak. Persis di tempat tumpukan sampah. Sepertinya sudah beberapa hari mayat ini tersangkut di sini. Bau sekali, Pak. Bagaimana, Pak? Kemana dibawa, Pak?”

“Sudah lapor polisi? Saya sedang di luar. Kemungkinan petang baru saya sampai di kampung,” ujar kepala kampung.

“Sudah, Pak. Polisi sedang menuju lokasi.”

“Baik. Biar dilakukan otopsi oleh polisi. Saya tunggu perkembangan berikutnya. Nanti sore saya ke lokasi.”

“Ok, Pak. Terima kasih.”

Tidak lama berselang, polisi sampai di lokasi kejadian. Mayat yang sudah menyebarkan bau menyengat itu dimasukkan ke dalam kantong mayat. Polisi mengambil dompet dari saku celana si mayat. Hanya ada selembar uang dua puluh ribu dan sehelai kartu tanda penduduk (KTP) dalam dompet itu. Selebihnya kosong. Tak ada tanda pengenal lain.

EMPAT JAM KEMUDIAN

Kamar mayat di kantor polisi Kecamatan Suak Paleh sedang gaduh. Mayat beridentitas tapi tak teridentifikasi itu jadi buah bibir. Sosok yang ditemukan di tepi sungai Lamkreh itu jadi pembicaraan sesama polisi. Beberapa anggota polisi silih berganti menjenguk mayat tersebut.

Biasanya para polis suka nama mereka dicatut juru tulis. Kali ini, beberapa polisi memilih menghindar dari wartawan. Mereka bingung harus menjelaskan identitas si mayat kepada wartawan yang sudah penuh sesak menunggu keterangan dari kepolisian.

Seorang polisi baju lengan pendek dengan rompi polisi masuk ke kamar mayat. “Siang, Dan,” sapa beberapa polisi kepada si lelaki yang baru masuk.

“Bagaimana? Sudah diidentifikasi mayat siapa dan dari mana?” tanya lelaki yang disapa komandan.

“Namanya.. Anu, Dan,” sahut seorang polisi.

“Anu apa?”

“Anu, Dan.”

“Anu apa?!”

“Anu namanya, Dan.”

“Anu…?!”

“Siap, Dan. Benar. Anu.”

Komandan polisi mengelus dagunya sendiri, menarik-narik beberapa helai janggut di sana. Matanya tak lepas menatap wajah mayat yang sudah pucat pasi itu. “Orang mana dia?” tanya sang komandan lagi tanpa menoleh.

“Belum diketahui, Dan.”

“Kan ada di KTP!”

“Nomaden, Dan.”

“Apa?!”

“Siap, Dan. Tinggalnya nomaden, berpindah-pindah alias tidak tetap, Dan. Ini KTP-nya.”

Sang komandan mengambil KTP mayat dari tangan anak buahnya. Ditatapnya KTP tersebut. Lama komandan polisi itu terdiam. Ia perhatikan foto di tanda pengenal tersebut. Ia samakan dengan wajah yang terbaring pucat. Raut wajah komandan tampak serius. Sesekali ia lihat ke KTP, sekali ia amati wajah si mayat.

“Ada nomor kontak kepala kampung Lamkutang?” tanya sang komandan dengan nada meminta sembari mengeluarkan telepon genggamnya.

“Siap, Dan. Kosong lapan tiga belas enam satu….”

Komandan mencatat nomor kepala kampung di telepon genggamnya. “Halo, benar ini Kepala Kampung Lamkutang?” sapanya kemudian.

“Benar. Saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya dari kepolisian Kecamatan Suak Paleh. Bapak sudah tahu tentang mayat yang ditemukan di Kampung Lamkutang?”

“Oh Pak Polisi. Maaf, Pak, apa maksudnya mayat yang di sungai tadi pagi? Saya memang sudah dapat laporan dari ketua pemuda kampung, tapi saya belum melihat langsung, Pak. Tadi saya masih di luar.”

“Mayatnya sudah kami tangani. Sekarang ada di kamar mayat kantor kepolisian. Namun, kami kewalahan mengidentifikasi mayat ini. Di KTP-nya tak ada alamat tempat tinggal. Apa warga Anda ada yang hilang, mungkin belum lama ini?”

“Oh begitu, Pak? Setahu saya warga kampung kami tak ada yang hilang. Kalau ada yang hilang, pasti kami sudah melapor ke Bapak terlebih dahulu. Mungkin itu mayat warga kampung tetangga Pak.”

“Baik kalau begitu. Terima kasih. Nanti akan kami hubungi kembali jika diperlukan.”

Komandan polisi menutup telepon genggamnya. Sekejap kemudian ia tiggalkan kamar mayat dan kembali ke ruang kerjanya.

Di ruang kerjanya, komandan polisi masih tampak bingung. Ditatapnya kembali KTP milik si mayat. Ia sandarkan tubuh ke kursi. Ia hela napas dalam-dalam. Matanya tak berkedip dari KTP si mayat.

Tak lama kemudian, seorang sekretaris masuk membawa map. “Ini, Dan, daftar nama dan nomor telepon kepala kampung dalam wilayah Kecamatan Suak Paleh,” ujar sekretaris berjilbab itu.

“Terima kasih,” balas sang komandan.

Ia perhatikan daftar nama kepala kampung yang baru saja diberikan sekretarisnya. Komandan polisi meraih gagang telepon kantor di atas mejanya. Satu per satu kepala kampung dalam wilayah Kecamatan Suak Paleh ia hubungi.

“Halo, kami dari kepolisian. Apa benar ini Kepala Kampung Lamsulet? Apa warga Bapak ada yang dikabarkan hilang mungkin belum lama ini? Soalnya kami baru saja menemukan sesosok mayat tak dikenal di sungai.”

“Maaf, Pak. Saya belum menerima berita kehilangan dari warga. sepertinya warga kami tak ada yang hilang. Kalau ada yang hilang, pasti kami sudah melapor ke bapak polisi.”

“Baik, terima kasih.”

Komandan polisi kembali menghubungi kepala kampung lainnya. “Halo, apa benar ini dengan Kepala Kampung Lamsupot…..”

“Hallo.. apa ini Kepala Kampung Lamtet…”

“Hallo… benar ini nomor Kepala Kampung Lamjawapalis….”

“Hallo… ini Kepala Kampung Lamsipak….?”

Satu per satu nomor kepala kampung dalam wilayah Kecamatan Suak Paleh terus dihubungi sang komandan. Namun, tak satu pun kepala kampung mengaku ada warganya yang hilang. Jawaban para kepala kampung nyaris sama, jika ada warga kampungnya yang hilang tentu mereka sudah hubungi polisi jauh-jauh hari.

Komandan polisi membanting punggungnya ke sandaran kursi. Matanya masih tertuju pada KTP si mayat. Perlahan ia baca sendiri identitas di KTP tersebut. “Nama: Anu. Lahir: di rumah bidan, tanggal sekian, bulan pulan, tahun pulen. Golongan Darah: dihapus. Pekerjaan: dihapus. Alamat: nomaden.

Komandan polisi bergeming beberapa saat, lalu ia memanggil ajudannya. Tak lama menunggu, sang ajudan sudah berada di depan komandan. Setelah memberi hormat kepada komandan, ajudan dipersilakan duduk.

“Semua kepala kampung sudah saya hubungi. Tak satu pun mengaku ada warganya yang hilang. Bagaimana solusi atas mayat ini?” tanya sang komandan.

Ajudannya mengernyitkan dahi. Tangan si ajudan bermain di depan bibirnya. Ia tampak sedang berpikir keras. Beberapa kali alisnya terangkat dan dahinya mengernyit.

“Apa yang kau pikirkan, Briptu?”

“Siap, Dan.. Iya, Dan. Berpikir, Dan… Anu, Dan..”

“Iya, saya minta kau pikirkan bagaimana caranya tangani mayat bernama Anu itu!” suara sang komandan sedikit meninggi.

“Siap, Dan. Sedang dipikirkan, Dan.”

“Ah… hidupmu berpikir terus dan terus berpikir. Kapan kau berhenti berpikir! Kapan kau bisa langsung memberikan ide, huh!”

Sang komandan diam sejenak. Ajudannya juga masih bergeming. “Begini saja, kau panggil imam masjid kita,” ujar komandan kemudian.

“Siap, Dan. Laksanakan!”

Si ajudan keluar dari ruangan komandannya. Namun, tak sampai lima menit, ia kembali masuk ruangan itu. “Lapor, Dan. Maaf, Dan. Pak Imam sedang di luar.”

Sang komandan mengambil KTP mayat di atas mejanya. Ia serahkan KTP itu kepada ajudannya. “Bawa identitas mayat ini dan tangani segera. Saya tak mau tahu. Harus selesai sebelum matahari terbenam. Beri saya laporan secepatnya.”

Ajudan berpangkat brigadir satu itu meninggalkan ruangan komandannya sambil memainkan KTP si mayat. Komandan masih tampak serius. Sepanjang kariernya, baru kali ini ia merasa sangat pusing menghadapi kasus penemuan mayat.

Tiga jam kemudian, telepon genggamnya berbunyi. Ia kenal itu nomor ajudannya. Ia angkat telepon ajudannya.

“Lapor, Dan. Sampai sekarang belum diketahui pasti identitas detail mayat si Anu. Tim penyidik menunggu perintah Komandan. Mayat ini tak bisa lama-lama di tempat kita. Sekian, Dan,” kata sang ajudan.

“Sudah, bersihkan mayat itu dan kuburkan saja,” ucap komandan ketus.

“Tapi, Dan…”

“Tapi apa?”

“Dikuburkan bagaimana, Dan?”

“Ya dikuburkan sesuai syariatlah, pantengong!”

“Maaf, Dan. Dia bukan Islam, Dan.”

“Ya sudah, Bakar saja. Buat persiapan ngaben,” sahut komandan sedikit melunak.

“Tapi, Dan, dia bukan Hindu.”

“Ya sudah, antar ke geraja sana. Itu saja susah. Kaplat!” suara sang komandan kembali meninggi.

“Tapi, Dan, dia bukan Kristen.”

“Ah… kau panggil saja biksu kalau begitu.”

“Tapi, Dan, Dia bukan Budha, Dan.”

“Lalu agamanya apa? Kau bilanglah. Jangan berbelit-belit!” suara sang komandan semakin meninggi. Tanpa sengaja tangan komandan melabarak meja kerjanya.

“Tidak diketahui, Dan. Kolom agama di KTP-nya kosong.”

Sang komandan terdiam. Badannya terasa lemas. Nyaris saja telepon itu jatuh dari genggamannya.

“Halo, Dan. Bagaimana, Dan? Apa yang harus kita lakukan, Dan?” suara dari seberang terus berbunyi di pelantam telepon sang komandan.

“Halo, Dan. Masih di posisi Dan? Masih dengar suara saya Dan? Halo, Dan. Mohon perintahnya, Dan.”

“Ya, saya di sini,” sahut komandan lemas.

“Jadi bagaimana, Dan? Kami tuggu perintah, Komandan.”

“Bungkus saja. Kirimkan ke istana negara. Buat memo, mayat tak beragama!” sahut komandan ketus.

“Siap, Dan. Laksanakan!”

“Tunggu! Ja.. Ja.. Jangan…. kita….”

Telepon dari seberang terputus. Untuk kesekian kalinya, sang komandan menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi.

Pattani, November 2014

Herman RN, menulis cerpen, puisi, esai, dan resensi.

Filed under: Cerpen, ,

2 Responses

  1. Eva mengatakan:

    info yang sangat menarik, sepertinya harus dicoba🙂 , Adoncia

  2. Abil mengatakan:

    wkwkwk, polisinya terlalu lelah😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: