Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Milad “Prang Atjeh”

Oleh Herman RN

(Serambi Indonesia, 26 Maret 2015)

HEROIK perang Aceh atau dikenal dengan Prang Atjeh bukanlah kisah dongeng. Meski sedikit sekali orang Aceh yang mau menuliskannya sebagai catatan sejarah, kisah perang Aceh dicatat dunia sebagai salah satu perang termasyhur dalam sejarah Nusantara.

Sebagaimana dinyatakan Hasan Tiro dalam buku mungilnya Atjeh bak Mata Donya (1968), jauh sebelum Belanda menjajah Indonesia, Aceh sudah terlebih dahulu menghadapi Portugis. Perang melawan Portugis berlangsung selama 14 kali dan Aceh selalu menang. Akhirnya, 26 Maret 1873, giliran Belanda menyatakan perang terhadap Aceh, padahal sebelumnya hubungan Aceh dengan Belanda baik-baik saja. Maklumat “Prang Atjeh” oleh Belanda menjadi catatan sejarah yang terus diulang-kaji oleh banyak peneliti, baik peneliti dalam negeri maupun luar negeri. Tidak tertutup kemungkinan, heroik perang Aceh-Belanda menjadi catatan tersendiri bagi para penulis dan peneliti Belanda.

H.C. Zentgraaff, salah seorang penulis Belanda mencatat perang Aceh sebagai salah satu perang terdahsyat. Hal itu dinukilkannya dalam buku berjudul “Atjeh” yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul sama. Sebuah keniscayaan bahwa Zentgraaff yang kaphé Belanda itu banyak menyanjung pahlawan Aceh dalam bukunya.

Zentgraaff menegaskan bahwa Aceh adalah daerah yang tidak mudah ditaklukan. “Meski ditanam bom pada setiap helai daun rumput di bumi Aceh, niscaya Aceh takkan takluk,” tulis Zentgraaff. Ia juga melukiskan kesetiaan para perempuan Aceh yang ditinggal suami semasa berperang. Rasa kagum Zentgraaff terhadap para perempuan Aceh dinukilkan pada halaman 83: hampir semua wanita Aceh memiliki tanda-tanda mendiang suami mereka, dalam surat kuning pucat yang masih terlihat air mata darah. Menurut Zentgraaf, cinta dan kesetian para srikandi Aceh kala perang laksana kenangan yang tak basah ditimpa hujan dan tak lekang diterpa panas. Para perempuan Aceh selalu menyimpan surat suami mereka pada tempat yang seperti orang menyimpan benda-benda berharga atau senjata. Surat itu mereka anggap umpama jimat sebagai penyemangat menghadapi Belanda.

Soal Kedaulatan

Penting diketahui, sebenarnya Belanda terlebih dahulu minta pengakuan kedaulatan dari Aceh. Hal ini sesuai literatur sejarah yang banyak menyebutkan bahwa Islam masuk ke Aceh sejak abad 7-8 Masehi. Adapun Prang Atjeh versus Belanda meletus pada 18 Masehi. Dalam sebuah fragmen sejarah disebutkan Belanda butuh pengakuan Aceh untuk kedaulatan negeri kincir angin tersebut.

Kisahnya, Laksamana Sri Muhammad dan Mir Hasan dari Kerajaan Aceh pernah memberikan surat dan sejumlah dokumen tanda kerja sama Aceh-Belanda. Dokumen itu diterima langsung oleh Pangeran Maurits sebagai pemegang kekuasaan Dinasti Orange kala itu. Kerja sama ini atas permintaan Belanda yang kala itu sedang terjepit oleh penguasaan dagang Portugis dan Spanyol. Portugis dan Spanyol sedang jumawa karena mampu menguasai dan mengontrol perdagangan jalur laut mulai Gibraltar, Samudera Atlantik, hingga Samudera Hindia. Atas dasar itulah, Pangeran Maurits menyurati dan mengirim utusan kepada Kerajaan Atjeh agar dikabulkan kerja sama antara Aceh-Belanda.

Belanda merayu Aceh dengan ungkapan bahwa Portugis telah menjajah Aceh dan Belanda siap membantu. Orang Aceh yang memiliki sifat mudah dirayu langsung percaya pada Belanda. Kerajaan Aceh di bawah kepemimpinan Sultan Alauddin Riayat Syah mengirim utusan, Tuwanku Abdoel Hamid, yang kelak dikenal sebagai diplomat pertama Asia Tenggara untuk Eropa. Singkatnya, Aceh adalah kerajaan pertama di dunia yang mengakui kedaulatan Belanda atas dasar permintaan Dinasti Orange. Namun, Maret 1873 Belanda melancarkan agresi militer ke Aceh untuk menguasai hasil bumi. Maklumat perang untuk Aceh pun diproklamasikan oleh kaphé Beulanda tepat 26 Maret 1873.

Mengutip Hasan Muhammad Ditiro dalam Atjeh bak Mata Donja, perang melawan Belanda berakhir pada 1937. Artinya, sejak 1937 Aceh sudah bebas dari Belanda. Jika setelah tahun tersebut ada catatan yang menyatakan Aceh masih mengangkat senjata terhadap Belanda, itu merupakan pembelaan Aceh untuk daerah lain Indonesia. Seperti diketahui, tahun-tahun genting Indonesia dalam jajahan Belanda, Presiden Soekarno “hijrah”ke Bireuen, Aceh bagian utara. Di Kota Juang itulah Soekarno berkantor. Melalui satelit Radio Rimba Raya di Aceh Tengah, rakyat Aceh mengumandangkan Indonesia belum hancur, Indonesia masih ada: di Aceh. Dari sinilah, Belanda pelan-pelan akhirnya meninggalkan tanah Indonesia—disinyalir kepergian Belanda yang pelan-pelan itu karena mengetahui Aceh ternyata bahagian dari Indonesia.

Kenangan Sejarah

Perang telah usai. Tentunya ada banyak kenangan sisa Prang Atjeh, antara lain makam dan sejumlah manuskrip. Namun, Aceh lebih banyak memiliki nisan, sedikit sekali menyimpan naskah/manuskrip masa perang. Hal ini menunjukkan jiwa kepustakaan yang masih kurang dimiliki orang Aceh. Padahal, manuskrip adalah salah satu bukti sejarah yang ideal untuk anak cucu. Dalam hal ini, Aceh perlu belajar pada Belanda bagaimana cara merawat dan menyimpan peninggalan sejarah dalam bentuk catatan-catatan.

Sudah menjadi pemeo, kalau di negeri orang dongeng bisa jadi sejarah; di Aceh sejarah bakal menjadi dongeng. Untuk itu, diperlukan peran regenerasi muda melestarikan dan meneruskan riwayat Aceh. Terlalu banyak kisah sejarah di bumi Iskandar Muda yang terlontar bersama angin lalu, orang-orangnya tergamak pada nostalgia indah-indah, yang dituturkan dari mulut ke mulut semata.

Diakui atau tidak, sejarah Aceh lebih banyak ditulis oleh orang luar. Beberapa nama yang fenomenal mengisahkan riwayat Aceh antara lain Denys Lombard, Antony Reid, James Siegel, J. Kreemer, H.C. Zentgraaff, dan sejumlah nama lain yang tak mungkin dirunut dalam ruang terbatas ini. Artinya, langka menemukan orang Aceh yang menulis catatan sejarah Nanggroe Aceh. Kecuali Muhammad Said dan beberapa nama yang tak habis dihitung dengan jemari sebelah tangan, hampir tidak ada orang Aceh yang menulis riwayat dan sejarah tanoh indatu.

Sekali lagi, orang Aceh perlu belajar menjadi pustakawan demi menyelamatkan dan menyimpan catatan sejarah yang telah tertulis. Ada banyak kata mutiara yang menyatakan pentingnya menulis, meski sekadar potongan artikel. Sebut saja: jika ada sebuah buku yang mau Anda baca tapi buku itu belum ditulis orang, Andalah yang harus menulisnya (Toni Morrison); Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari sejarah (Pramoedya Ananta Toer); Jika kau bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka menulislah (Ali bin Abi Thalib). Akhirnya, selamat mengingat milad Prang Atjeh. Mari menuliskan Aceh, baik sebagai laboratorium perang, laboratorium bencana, maupun sebagai laboratorum politik!

HERMAN RN, cerpenis dan pegiat kebudayaan di Banda Aceh,

menulis lepas pada media lokal dan nasional.

Filed under: Opini, , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: