Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Manusia Peulakén

Oleh Herman RN

(Serambi Indonesia, 7 Juli 2015)

DALAM kearifan orang Aceh ada hadih maja buet hana buet, cok peulakén culok bak pruet. Jika diterjemahkan secara bebas kira-kira maknanya ‘tidak ada kerja lain, ambil pelakin lengketkan di perut.’

peulakenPeulakén adalah aspal yang masih lembek, hitam, dan baru dimasak. Jika peulakén lengket di kain atau baju manusia, sulit dilepaskan. Sekilas, lengketan peulakén itu seperti kotoran atau tinja hewan. Oleh karena itu, tidak ada yang suka pada peulakén. Bahkan, jika peulakén lengket pada ban kendaraan pun, orang cenderung dongkol. Lantas, bagaimana dengan manusia peulakén?

Banyak klaim bahwa manusia adalah makhluk paling sempurna. Tentu saja klaim ini sesuai dengan Alquran Surah Al-Isra:70 dan Q.S. At-Tiin:4. Kesempurnaan itu dimulai dari bentuk fisik, yang berbeda dengan makhluk lain semisal hewan yang menghadapkan punggung ke langit atau tumbuhan yang tidak punya kaki untuk berjalan, tidak punya mata untuk melihat, dan sebagainya.

Dalam bentuk lain, kesempurnaan manusia dibekali adanya akal (otak). Dengan akal pikiranlah, manusia bisa membedakan baik-buruk, salah-benar, meskipun kebenaran mutlak hanya hak prerogratif Allah swt. Dengan akal pula, manusia menjadi makhluk yang memiliki peradaban. Oleh sebab itu, sudah seharusnya manusia dapat meletakkan sesuatu pada tempatnya, misal rumah ibadah tempat ibadah, sedangkan orasi bisa di jalan raya atau di depan gedung pemerintah ketika demonstrasi.

Namun, dalam kenyatannya manusia menjadi makhluk yang paling sering berbuat kerusakan di muka bumi, baik di darat maupun di laut. Tidak hanya merusak kehidupan ekosistem makhluk lain, sesama manusia pun cenderung saling merusak. Dalam bentuk lebih khusus, sesama umat Muhammad saw. pun, manusia acap saling caci, fitnah, piting, bahkan banting.

Dengan merasa akal pikiran dirinya atau kelompoknya paling benar, cenderung sekelompok manusia mudah mengklaim orang/kelompok lain salah atau menyimpang dari sunnah. Klaim ini terkadang sampai pada sesat menyesatkan yang berujung “menghalalkan” darah orang lain. Akibatnya, membacok, menampar, bahkan membakar orang hidup-hidup dianggap sebagai suatu sunnah, meskipun Nabi Muhammad saw tidak pernah melakukan hal tersebut. Pertanyannya, jika Nabi Muhammad tidak pernah membakar manusia hidup-hidup, apakah orang yang membakar manusia itu bisa dikatakan sebagai umat Muhammad?

Andai benar bahwa seseorang sudah sesat, sudah menyimpang dari teologi ketauhidan bahwa Allah itu Esa dan Muhammad adalah Rasulullah, lantas siapa yang berhak menghukum si sesat itu? Apakah main hakim massa menghukum si manusia sesat itu sudah “benar/lurus”? Mungkin kita lupa apa yang diwahyukan Allah swt. dalam Surah Al-Muddassir: 11 sehingga cenderung main hakim sendiri. Bahkan, saat tidak mungkin melakukan sendiri atau kelompok kecil, mulailah menyebarkan hasut untuk menggerakkan massa. Miris!

Mungkin saja ini sudah fitrahnya manusia berbuat kotor semisal saling hasad-hasut, sikat-sikut, karena proses penciptaan manusia memang dimulai dari sesuatu yang kotor. Ya, manusia memang makhluk sempurna, tapi proses penciptaannya dari sesuatu yang kotor. Entah karena ini manusia gemar berbuat kotor, mulai kotor mulut menyebar isu tidak benar, sampai kotor pikiran merasa diri paling benar.

Menyimak firman Allah di banyak surah dalam Alquran, manusia diciptakan dari tanah liat, antara lain Ali Imran:59, Ar-Ruum:20, Al-Fathir:11. Dalam surah yang lain disebutkan bahwa manusia tercipta dari tanah kering yang berasal dari lumpur hitam (Q.S. Al-Hijr:26). Hal ini menegaskan bahwa asal muasal manusia itu dari sesuatu yang kotor (tanah). Terlebih lagi tanah lumpur hitam, babi pun jorok padanya. Babi memang makan tanah, tapi babi tidak suka makan tanah lumpur sangking joroknya. Dengan demikian, manusia-manusia yang memposisikan dirinya sebagai tanah lumpur, jangankan malaikat, bisa jadi babi pun menjauh.

Dalam surah yang lain disebutkan bahwa manusia diciptakan dari mani (sperma). Menurut penelitian, salah satu air yang menjijikkan anjing adalah air sperma. Hal ini menegaskan bahwa manusia diciptakan dari sesuatu yang kotor, jorok, lalu diberi bentuk dan dijadikan sempurna. Sejatinya, tatkala menyadari diri tercipta dari sesuatu yang kotor tetapi punya potensi sempurna, seharusnya setiap manusia mencapai potensi kesempurnaan itu.

Manusia yang membiarkan dirinya larut dalam posisi kotor, sibuk menyebarkan fitnah, sibuk mencari kesalahan orang lain, sama halnya membiarkan dirinya larut dalam kerendahan, kekotoran. Seharusnya, setiap manusia bisa memposisikan dirinya sebagaimana firman Allah swt. dalam Q.S. At-Tiin:4 “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Sudah seharusnya kita mengejar kebaikan itu. Namun, terkadang banyak manusia membiarkan dirinya dalam posisi terendah, seperti disinggung Q.S. At-Tiin: 5 “Kemudian Kami kembalikan mereka ke tempat yang serendah-rendahnya.” Penegasan kata أَسْفَلَ (asfal) ‘paling rendah/serendah-rendahnya’ adalah neraka. Sama-sama kita yakini, tidak ada satu manusia pun yang bercita-cita masuk neraka, meski sadar fitnah itu lebih kejam daripada membunuh.

Di sinilah letak konotasi “asfal/aspal” dalam kearifan ureueng Aceh. Asfal menurut Surah At-Tiin adalah tempat terendah. Aspal dalam makna orang Aceh merupakan kiasan terhadap sesuatu yang tidak ada guna, jorok. Makanya ada hadih maja “Buet hana buet, cok peulakén siliek bak pruet”.

Semua orang tahu bahwa ter atau peulakén itu sesuatu yang kotor, mudah lengket dan susah dilerai. Bayangkan jika peulakén lengket di hati dan pikiran seorang manusia, tentulah sifat dan karakter buruk akan mendarah-daging, sulit dilepaskan. Salah satu penyakit yang sulit dilepaskan itu umumnya membicarakan perihal orang lain yang kalau bukan ghibah, akan menjurus ke fitnah. Ironis lagi, jika peulakén dalam kepala itu disebarkan kepada orang banyak dalam bentuk provokasi massa.

Setiap manusia harus punya filter demi mencegah peulakén  yang datang kepada dirinya. Terkadang, peulakén-peulakén itu muncul dari sahabat atau teman sendiri. Andai tidak tabaiyun, tentu kita yang menerima peulakén itu bakal menjadi manusia peulakén pula.

Akhirnya, di bulan penuh berkah, rahmat, dan ampunan ini, sama-sama kita bersihkan diri. Semoga ke depan kita jauh dari potensi difitnah maupun memfitnah. Sejatinya, coretan singkat ini hanya muhasabah bagi diri saya sendiri, untuk mengingatkan diri penulis agar tidak terpancing ke arah manusia peulakén. Alangkah indah jika warkah ini menjadi introspeksi bersama bagi semua tanpa pengecualian dari kelompok atau organisasi apa pun dia. InsyaAllah, wallahua’lam.

 

Herman RN, pengelana di rimba Tuhan, menuangkannya dalam bentuk tulisan

seperti cerpen, puisi, dan esai.

Filed under: Essay, ,

One Response

  1. Fistar Leasa mengatakan:

    Sering saya dengar tapi gak paham dg kata ini muhasabah, warkah teologi, tabaiyun, piting, dan prerogratif….
    Mungkin karna kurang membaca. Tulisan penulis sangat membantu penulis dalam menambah wawasan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: