Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Melacak Gaung ISIS

isisENTAH dari mana muasalnya, tiba-tiba dunia terguncang dengan kehadiran kelompok yang mengatasnamakan Negara Islam Irak dan Suriah atau yang lebih populer dengan sebutan ISIS.

Sampai saat ini, kehadiran kelompok yang menjual nama Islam ini masih kontroversi. Kematian demi kematian kian berhimpit oleh ulah ISIS. Mereka terang-terangan berani memamerkan “kejahatan” yang mereka lakukan dalam bentuk video dan gambar.

Muncul pertanyaan, apa yang mendasari kemunculan kelompok ini? Dari mana pula mereka memperoleh kekuatan, bukan hanya kekuatan pasukan, tapi juga logistik? Benarkah ada sejumlah negara Teluk yang mendanai mereka?

Mau tidak mau, kecurigaan demi kecurigaan terus bergulir. Kehadiran ISIS membuat sejumlah bangsa saling tuding. Pada tingkat para pengamat pun banyak yang berspekulasi. Ada yang menuduh, ada yang menyanggah.

Pemerintaj Irak, misalnya, menuding Arab Saudi mendukung perang yang dilancarkan ISIS. Tudingan itu dilontarkan Perdana Menteri Irak, Nuri al-Maliki. Akan tetapi, tentu saja pihak Arab Saudi membantahnya.

Meskipun pemerintah Arab membantah tudingan itu, pihaknya juga menolak ajakan kerja sama pemerintah Rusia untuk bergabung dengan pemerintah Suriah melawan ISIS. Arab Sudi menyatakan bahwa pihaknya mustahil bekerja sama dengan Presiden Bashar al-Assad.

“Posisi kami tidak berubah, tidak ada tempat untuk Assad dalam masa depan Suriah. Kami menganggab Assad adalah bagian dari masalah, bukan solusi,” kata Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir.

Belum selesai tudingan terhadap Arab Saudi, pemerintah Amerika Serikat juga diuduh bermain di belakang layar. Namun, lagi-lagi saling sanggah tak dapat dielak.

“Tudingan Perdana Menteri Irak itu tak tepat dan telah menghina kami,” tepis Jen Psaki, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS di Washington.

Menurut sejumlah pengamat dan peneliti, tidak mudah menuduh bangsa atau negara yang “berada” di balik sepak terjang ISIS. “Sulit menemukan bukti kuat yang melandaskan keterlibatan pemerintah sebuah negara dalam pembentukan dan pendanaan ISIS sebagai organisasi,” ujar Charles Lister, peneliti Brookings Doha Center.

Menariknya, pemimpin Pusat Kajian Arab di Universitas Mainz, Gunter Meyer, menyatakan tidak ada keraguan keterlibatan negar-negara Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab dalam menyokong materi perjuangan ISIS.

Kontroversial ini memang akan terus bergulir. Pasalnya, ISIS memiliki perlengkapan senjata bertaraf Internasional. Karena itu, kecurigaan bahwa ada sokongan dana yang besar mengalir ke dalam organisasi ini tidak dapat dipungkiri. Namun, menuduh tanpa bukti bukanlah sebuah kebijaksanaan.

Apa pun bentuk kontroversi itu, banyak negara tidak sepakat dengan apa yang dilakoni ISIS. “Membunuh secara keji tidak lebih dari perbuatan Iblis,” demikian statemen resmi lembaga studi Islam terkemuka di Mesir, Al-Azhar, seperti dikutip antaranews.

Pihak Taliban, yang selama ini juga mengatasnamakan sebagai kelompok pejuang Islam, turut menyatakan ketidaksukaannya terhadap ISIS. Pasalnya, cara ISIS membunuh sangat keji tidak manusiawi.

Antisipasi ISIS

Keresahan terhadap sepak terjang ISIS sudah menjadi milik dunia. Sejumlah bangsa pun membentuk koalisi bersama melawan kelompok ISIS. Koalisi Internasional yang dipelopori oleh AS ini berupaya merancang strategi militer, kontra terorisme, dan intelijen untuk melawan ISIS.

Perdana Menteri Irak, Haidar Abadi, mengkritik koalisi tersebut. Menurutnya, selama Arab Saudi tidak menghentikan aliran para pejuang asing, selama itu pula ISIS tetap kuat dan solid.

“Sejujurnya, kami membutuhkan kegiatan politik dari negara-negara koalisi. Kami ingin penjelasan kenapa banyak teroris dari Arab Saudi, Teluk, Mesir, dan negara-negara Eropa? Jika ini karena situasi politik Irak, kenapa ada pejuang Amerika, Perancis, dan Jerman di Irak?” ujarnya.

Sikap Indonesia

Di tengah gencarnya kolasi negara-negara melawan ISIS, di mana posisi Pemerintah Indonesia? Pasalnya,  Indonesia diisukan menjadi salah satu penyuplai pejuang ISIS terbesar.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Arrmanatha Nasir, menyatakan bahwa Indonesia selalu menentang kelompok terorisme. Namun, bukan berarti Indonesia serta merta masuk dalam koalisi negara-negara melawan ISIS yang diketuai oleh AS itu.

“Koalisi tersebut bersifat militer, makan Indonesia hanya ikut andil di bawah keputusan PBB saja,” ujarnya.

Sikap Indonesia ini kemudian diikuti sejumlah negara ASEAN. Dari 60 negara koalisi internasional melawan ISIS, hanya satu negara ASEAN yang tergabung, yakni Singapura.[herman/dbs]

Filed under: Kabar, , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: