Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Menantang Anak Aceh Jadi Dai Entertain

Herman RN

aksiSelama ini, dakwah ureueng Aceh identik di mimbar-mimbar masjid dan acara tertentu semisal maulid. Sedikit sekali anak Aceh muncul dalam dakwah televisi.

Masih ingat nama Fadhli? Mahasiswa Universitas Almuslim, Peusangan, Bireuen ini telah membawa harum nama Aceh di jenjang nasional. Aksi Fadhli dalam Kontes AKSI (Akademi Sahur Indonesia) yang disiarkan stasiun televisi Indosiar tahun 2014 kemarin benar-benar sebuah prestasi cemerlang bagi Aceh. Boleh dikata, Fadhli adalah satu dari sekian anak Aceh yang membuktikan bahwa Serambi Mekkah punya bibit dan bobot menjadi juru dakwah.

Menyahuti tuntutan zaman yang serba industri ini, mimbar dakwah harus diperluas dari dayah, meunasah, masjid, hingga ke televisi dan radio. Di sinilah pentingnya kemahiran berpidato di depan televisi yang ditonton orang dari Sabang sampai Meurauke.

Percaya atau tidak, media televisi dan radio merupakan salah satu medium dakwah yang luar biasa di zaman ini. Banyak masyarakat di dunia, termasuk di Aceh, gemar menonton acara televisi. Oleh karena itu, sudah saatnya, ureueng Aceh mengambil kesempatan muncul berdakwah di media audio visual, sebuah tantangan bagi anak Aceh di zaman serba industri ini.

Fadhli, sinyak Aceh yang lahir di Blangpuloe, 14 Desember 1989 silam ini telah membuktikan bahwa Aceh tidak salah menyandang gelar Tanah Aulia, tanahnya para ulama, tanahnya para dai. Meski tidak memiliki latar belakang qari dan bukan hafiz, lelaki bernama lengkap Muhammad Zulfadhli Razali ini tetap berhasil mengantar nama Aceh sebagai Serambi Mekkah, dengan keberhasilannya meraih juara III kontes dakwah AKSI Indosiar.

Siapa Saja?

Muncul pertanyaan, mengapa hanya nama Fadhli yang disebut-sebut sebagai peserta AKSI dari Aceh? Apakah memang Aceh tidak memiliki juru dakwah pemuda selain mahasiswa Program Studi Bahasa Inggris Universitas Almuslim itu? Atau jangan-jangan orang Aceh kesulitan mengikuti audisi AKSI di daerah?

“Saya ikut audisi pertama sekali di kampus UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Waktu itu, tahun kedua AKSI diadakan. Saya mendapat mandat dari kampus Almuslim untuk mengikuti audisi tersebut,” kata Fadhli, Kamis (20/08/2015).

Lelaki yang pernah menjadi Ketua Remaja Masjid Agung Islamic Center Lhokseumawe ini menuturkan, dalam audisi tersebut ada 3 anak Aceh yang lolos. Selain dirinya, ada nama Widya dan Windy yang berangkat ke Jakarta. Keduanya merupakan santri muda.

“Ada juga anak Aceh yang ikut audisi di Jakarta, namanya Noval. Dia juga lolos melalui audisi di Jakarta. Jadi, tahun keduaAKSI ada empat anak Aceh yang naik panggung AKSI,” ujarnya.

Menurut Fadhli, sebenarnya anak Aceh punya kemampuan di atas rata-rata menjadi seorang juru dakwah. Namun, kata dia, pidato dan ceramah ada bedanya. Selain itu, Fadhli berpendapat bahwa pidato di televisi punya tuntutan skill tambahan, selain kemahiran pidato di mimbar-mimbar umum.

“Waktu audisi di UIN, saya lihat rata-rata peserta punya latar belakang luar biasa. Ada yang memang qari MTQ. Mulanya saya sempat minder juga melihat identitas teman-teman yang ikut audisi. Saya coba pelajari pidato peserta AKSI lewat youtube. Dari sana saya belajar. Alhamdulillah ternyata saya dihubungi sebagai peserta yang lolos audisi,” kisah Fadhli.

Mantan Ketua BEM Universitas Almuslim ini mulanya tidak pernah menyangka dirinya akan lolos audisi. Pasalnya, peserta yang ikut audisi kali itu mencapai 120 orang. Ditambah lagi, latar belakang para peserta audisi ada yang memang sudah punya pengalaman sebagai penceramah.

Berkaca dari pengalaman, Fadhli mengamanahkan kepada regenerasi Aceh ke depan agar cakap dalam membawa pidato. Namun, cakap berpidato saja, tambahnya, belum cukup. “Juga harus mampu tampil entertain. AKSI itu dunia televisi!” tegas Fadhli.

Kisi-kisi Dai Entertain

Selain punya kecakapan dan kesadaran entertain, putra pasangan Teungku Razali dan Zarniah ini juga memaparkan beberapa kisi-kisi menjadi dai televisi. Kata Fadhli, seorang dai harus punya modal dasar, yaitu mampu mengaji dan membaca zaman.

“Harus bisa mengkombinasikan kebiasaan zaman dengan dalil-dalil yang relevan. Boleh saja membawa nilai-nilai kedaerahan, tapi tetap harus diingat, kita tampil di televisi nasional, maka harus sadar panggung menasional,” tuturnya.

Lebih jauh, Fadhli mengungkapkan bahwa ciri khas kedaerahan adalah salah satu modal penting. Akan tetapi, janganlah bahasa daerah terlalu mendominasi, sebab tampil di televisi akan disiarkan ke seluruh wilayah Indonesia.

“Meskipun orang Jawa, juri tetap menekankan agar tidak terlalu dominan menggunakan bahasa Jawa. Bahasa daerah, terutama berkaitan dengan syair atau peribahasa daerah, itu penting, juri membenarkan hal itu. Bawakan saja, tapi terjemahkan dan jangan terlalu banyak bahasa daerahnya,” tambah Fadhli.

Ia sendiri, dalam aksinya di AKSI tersebut, sering menyebut kata beu meuhase yang diiramakannya. Walhasil, beu meuhase menjadi jargon setiap penampilan Fadhli. Banyak penonton di arena AKSI yang kemudian meniru jargon tersebut.

“Selesai AKSI, saya pernah mendapat telpon dari Jakarta. Kata mereka, kalau lama saya di sana (Jakarta), bisa-bisa orang Jawa pun pandai bahasa Aceh,” ujarnya sambil tertawa.

Tak jauh berbeda dengan Fadhli, para juri AKSI juga menuturkan bahwa setiap dai televisi harus punya modal entertain. “Modal utama seorang dai televisi itu punya ciri khas, ilmu pemahaman, dan keunikan,” kata Ustaz Subki Albughurry, salah seorang juri AKSI Indosiar, saat dihubungi melalui akun twitternya.

Ciri yang dimaksud oleh Ustaz Subki, salah satunya adalah ciri khas kedaerahan. Keunggulan lain, tulis Ustaz Subki, mampu menghapal Alquran, terutama yang berkaitan dengan topik yang disampaikan.

“Mampu membaca dan memahami syair Arab juga jadi modal menjadi dai,” tegasnya.[]

Filed under: Feature, , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: