Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Napak Tilas Ék Haji Orang Aceh (bag.1)

Herman RN

haji

Labbaik Allahumma labbaikh… Labbaikaa laa syarika laka labbaikh… Innalhamda wanikmata laka walmulk laa syarikalakh…

Begitulah bacaan yang selalu terdengar dari Jamaah Calon Haji (JCH) di seluruh dunia. Doa talbiyah itu, jika diterjemahkan kira-kira bermakna “Aku datang memenuhi panggilan-Mu… Aku datang memenuhi perintah-Mu… Ya Allah, sesunguhnya segala puji dan nikmat itu adalah milik-Mu…”

Saban musim Haji tiba, bacaan ini bergema ban sigom donya. Tak terkecuali Aceh, Asrama Haji Banda Aceh yang terdapat di Jeulingke menjadi saksi atas kalimah zikir, tahlil, tahmid, dan doa talbiyah dari segenap JCH seluruh Aceh. Di televisi-televisi pun mulai bermunculan iklan Haji yang sayup-sayup memperdengarkan bacaan talbiyah tersebut.

Bagi ureueng Aceh, naik haji atau ék haji merupakan suatu yang sangat diidamkan. Proses untuk mencapai ke sana dilalui terkesan sacral, misalnya saja, dana yang digunakan sebagai ongkos jak u haji, mestilah dari harta yang bersih lagi dibersihkan.

Naik haji bagi orang Aceh bukan sekadar mencapai kepuasan spiritual, tapi juga bahagiaan penghambaan kepada titah Allah atas penyempurnaan rukun Islam. Selain itu, ada kerinduan bagi sebagian ureueng Aceh untuk berjumpa dengan orang Aceh yang sudah lama menetap di Mekkah Almukarramah. Kabarnya, orang Aceh yang sudah memilih menetap di Mekkah Almukarramah itu selalu menyambut kedatangan jamah dari Aceh dengan suka-cita.

Seperti diketahui, orang yang sudah naik haji akan mendapat titel “Pak Haji/Bu Haji”. Akan tetapi, di Aceh sedikit sekali orang yang disapa demikian, meskipun yang berangkat naik haji tidak sedikit. Bagi orang Aceh, berhaji bukan untuk mendapat sapaan “Pak Haji/Bu Haji”, melainkan untuk kepuasan spiritual dan sebagai bentuk penghambaan terhadap Allah swt.

Karena itu, sejak dulu, animo ureueng Aceh untuk naik haji sudah ada. Kian tauhun, animo masyarakat Aceh untuk naik haji semakin meningkat. Akibatnya, banyak calon haji yang terpaksa antre sampai lima belas tahun untuk mendapat giliran. Beda dengan zaman dulu, siapa yang mau naik haji, bisa melalui jalur laut. Untuk itu, setiap tahun, masyarakat Aceh mengumpulkan segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai ongkos naik haji. Tak ayal, orang Aceh sampai mengumpulkan pisang, kelapa, beras/padi, atau apa saja demi tercapai jak u haji.

Barang-barang kebutuhan pokok itu kerap ditabung sampai setahun-dua, lalu ditukar dengan ongkos naik haji. Tatkala sudah dirasa cukup untuk ongkos, berita sesiapa yang akan naik haji pun tersebar ke seluruh gampông, tentunya melalui geuchik. Di saat itulah, tampak kekerabatan ureueng Aceh yang tolong-menolong, bahu-membahu. Artinya, mendengar ada tetangga yang mau naik haji, bukan sifat iri yang ditonjolkan, melainkan ramah tamah membantu sebisa mungkin. Imbalannya adalah doa semisal ucapan, “Sesampai di Mekkah nanti, tolong doakan saya agar bisa menyusul juga.”

Untuk diketahui, sebagai komunitas masyarakat yang sudah mendarah-daging dengan Islam, harta yang dikumpulkan sebagai ongkos naik haji sangat diperhatikan. Tidak sembarang harta bisa digunakan untuk bekal atau ongkos naik haji. Jika harta tersebut diperkirakan bercampur dengan barang subhat, biasanya harta atau baynah itu tidak diperuntukkan untuk ongkos naik haji. Cukup untuk dimakan di rumah saja. Begitulah cara orang Aceh menjaga kesucian haji, dimulai dari tabungan “baynah”.

Seiring perjalanan waktu, baynah yang ditabung tidak lagi berupa barang pertanian atau perkebunan, tapi sudah berupa emas. Adakalanya emas itu ditukar sebagai tiket naik haji. Dalam perkembangannya, , ongkos naik haji pun semakin canggih, harus dalam bentuk uang seperti yang kita rasakan sekarang.

Satu hal yang menarik dalam ék haji orang Aceh masa lalu adalah munculnya meuseraya gampông. Misalnya, jika di sebuah gampông ada orang yang mau naik haji, cenderung masyarakat gampông, di bawah koordinasi geuchik, bahu-membahu untuk memuluskan dan meringankan beban orang yang mau berangkat haji tersebut.

Selain itu, orang Aceh masa lampau, sebelum naik haji, terkebih dahulu mendalami ilmu agama di dayah-dayah. Tatkala akan berangkat, segenap orang gampông pun hadir dalam acara peusijuek jak u haji. Hal ini masih hidup di sejumlah gampông di Aceh sampai sekarang sebagai tanda masyarakat Aceh sangat menjaga nilai silaturrahim. Kuatnya nilai-nilai silaturrahim masyarakat Aceh tergambar dalam hadih maja lam udép ta meusaré, lam meuglé ta meubila/ lam lampôh ta meutulông alang, lam meublang ta meusyedara.

Filed under: Essay, , , ,

One Response

  1. Fistar Leasa mengatakan:

    Penulis senang sekali menggunakan kata “Saban”. Saya sering mendengar kata ini, tapi blum mengerti sekali ini kata sinonimnya dg kata apa. Animo dab titah juga saya tidak paham.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: