Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Napak Tilas Ék Haji Orang Aceh (bag.2/tamat)

oleh Herman RN

hajiHarus diakui, Aceh adalah embarkasi haji pertama di Nusantara. Hal ini tercatat dalam lembar sejarah dunia. Itu sebab, Aceh dijuluki sebagai Serambi Mekkah. Tempoe doeloe, seluruh muslim dari Nusantara yang akan naik haji terlebih dahulu singgah di Aceh. Di negeri Iskandar Muda ini, para jamaah dari berbagai negara itu belajar ilmu agama, sebelum meneruskan perjalanan haji ke Mekkah melalui laut.

Konon, naik haji melalui perjalanan laut mulanya ditempuh dengan kapal layar. Tentu saja waktu yang dibutuhkan dalam perjalanan sampai berbulan-bulan. Satu sumber menyebutkan pelayaraan dari Indonesia ke Mekkah membutuhkan waktu 2-6 bulan. Ini pun jika tidak ada badai topan.

Dalam catatan H. Harun Keuchik Leumiek (2010:200), jamaah calon haji dari seluruh Indonesia pergi ke Mekkah melalui Selat Melaka. Mereka singgah di Aceh untuk belajar manasik. Kadang, mereka menetap di Aceh sampai berbulan-bulan. Ketika dianggap sudah matang manasik haji dan bekal ilmu agama, barulah jamaah calon haji ini meneruskan perjalan ke Mekkah Almukarramah.

Salah satu lokasi belajar manasik haji yang sangat terkenal kala itu ada di Pelanggahan, persis di pinggiran Krueng Aceh. Di sana, banyak nakhoda menambatkan kapal, baik karena urusan haji maupun karena urusan dagang. Seperti diketahui, Aceh juga terkenal sebagai pusat transit perdagangan, selain sebagai Serambi Mekkah tempat berkumpulnya jamaah calon haji.

Di Gampông Peulanggahan yang terkenal tempat belajar manasik haji itu berdiri sebuah balai pengajian. Tak jauh dari sana terdapat Masjid Teungku Dianjong, sebuah masjid yang sangat indah. Masjid itu kini sudah tidak ada lagi, dihantam gelombang laut tsunami akhir Desember 2004 silam.

Dalam sebuah literatur disebutkan peran Aceh sebagai embarkasi haji pertama di Nusantara sudah dimulai sejak abad ke-13 Masehi. Posisi Aceh yang strategis di tengah-tengah peta dunia menjadikan negeri ini sebagai pusat transit orang-orang di seluruh dunia. Seperti disebutkan di atas, seluruh bangsa singgah ke Aceh bukan hanya untuk naik haji atau menempuh perjalanan spiritual ke Mekkah, tapi juga menjadikan Aceh sebagai transit perdagangan dunia.

Pedagang Arab dan Timur Tengah pun kerap mendatangi Aceh. Tidak kurang mereka sengaja datang mencari rempah-rempah dan komuditas unggul di Aceh. Menurut Koninck (1977:29), interaksi antarbangsa di Aceh ketika itu menggunakan bahasa Arab dan Portugis, selain bahasa Melayu tentunya.

Pindah ke Sabang

Seiring waktu, keberangkatan jamaah calon haji lewat jalur laut tidak lagi melalui Pelanggahan, tapi pindah ke Sabang. Hal ini dimulai sejak masa penjajahan Belanda. Di Pulau Weh, Sabang, dibuat sebuah tempat untuk karantina haji (tempat berkumpul JCH). Ketika itu, para jamaah berangkat haji tidak lagi menggunakan kapal layar, tapi sudah dengan kapal uap.

Pesatnya alam perkembangan zaman telah pula mengantar keberangkatan jamaah calon haji dari kapal uap menjadi kapal mesin. Akhirnya, pada tahun 1952, keberangkatan haji melalui udara pun dimulai. Namun demikian, di tahun-tahun berikutnya masih tetap ada yang menempuh perjalan laut dan darat.

Naik haji menggunakan pesawat kala itu membutuhkan biaya Rp16.691. Ini baru ongkos dari Jakarta. Dibandingkan dengan udara, tentunya jalur laut lebih murah, sekitar Rp7.500. Sebab itulah, sampai tahun 1960-an, naik haji jalur laut masih menjadi pilihan banyak orang.

Tersebutlah kala itu sebuah perusahaan—mungkin semacam travel—yang memberangkatkan orang naik haji. Perusahaan itu bernama Perusahaan Pelayaran Musi (lihat: Deliar Noer, 1983:105). Perusahaan ini secara umum mengangkut jamaah haji asal Indonesia, bukan hanya Aceh.

Pemerintah Indonesia kemudian membentuk kepanitiaan haji dengan nama Majelis Pimpinan Haji yang kelak menjadi Tim Petugas Haji Indonesia, di bawah Departemen Agama Republik Indonesia.

Di Aceh sendiri, keberangkatan jamaah calon haji melalui udara baru dimulai sejak tahun 1960-an. Para jamaah dari Aceh ketika itu berangkat melalui Bandara Polonia Medan. Dapat disimpulkan bahwa sejak tahun ini, Aceh tidak lagi “mandiri” tetapi mulai bergantung pada Medan.

Namanya saja berangkat melalui bandara tetangga, tentu saja kuota haji dari Aceh mulai dibatasi. Alasan lain, karena pesawat yang mengangkut jamaah calon haji ketika itu masih berupa pesawat kecil. Di samping itu, Ongkos Naik Haji (ONH) yang ditetapkan pemerintah terbilang tinggi. Sedangkan sosial ekonomi masyarakat Aceh rata-rata menengah ke bawah. Karena itu, di tahun 1960-an, keberangkatan haji melalui jalur laut masih dianggap primadona.

Kendati naik haji melalui jalur udara sudah mulai populer, tetapi masih banyak orang Aceh yang berangkat melalui Pelabuhan Sabang. Mereka terkadang terpaksa memilih kondisi ini demi sampai ke Tanah Suci. Terkadang, para jamaah calon haji naik KM Abeto dengan tujuan Pelabuhan Jeddah. Kapal ini bukan kapal penumpang, melainkan kapal pengangkut barang sehingga para jamaah ditempatkan di palka kapal. Dalam kondisi kurang nyaman itu, animo masyarakat Aceh untuk ék haji tetap tinggi. Perjalanan haji melalui jalur laut lewat Pelabuhan Sabang baru berakhir tahun 1975.

Filed under: Feature, , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: