Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Gereja yang Menjadi Masjid

Herman RN

gerejaACEH boleh jadi sedang memasuki masa ‘krisis sosial’ antar-umat beragama dengan kejadian memilukan di Aceh Singkil. Banyak pendapat mengatakan bahwa dalam usia riwayat Aceh, belum pernah ‘perang’ antar-umat beragama.

Kenyataan sekarang, di tahun 2015 ini, media memberitakan perkara yang memilukan, gaduh antara umat Kristiani dan Muslim. Padahal, di Banda Aceh, gereja dan masjid berdiri berdampingan. Demikian pura dan wihara di Peunayong, tiada siapa yang mengusik. Boleh dikatakan, Aceh mestinya menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia bahwa di Tanah Iskandar Muda ini, setiap pemeluk agama bisa hidup damai saling berdampingan.

Pilu, miris, dan entah apa lagi kata dan rasa yang cocok melukiskan kejadian di Aceh Singkil. Dengan tanpa bermaksud memihak ke mana pun apalagi sampai memperkeruh suasana, setiap umat beragama mungkin perlu mencontoh negara-negara luar, baik di negara yang dihuni mayoritas umat muslim maupun yang minoritas umat muslimnya.

Katakan saja di Amerika yang penduduk muslimnya minoritas. Ternyata masjid bisa berdiri megah di negeri Adi Daya itu. Bahkan, gereja bisa disumbangkan menjadi masjid. Hal ini lumayan membuktikan betapa umat Kristiani di Amerika adalah orang-orang yang mampu ‘berlapang dada’ kendati mereka sebagai mayoritas di negara tersebut.

Dalam sebuah media disebutkan, pascateror 11 September 2001 silam, pertumbuhan masjid di Amerika melonjak hingga 80 persen. Komunitas muslim yang notabene berasal dari Indonesia mendekati umat Kristiani di sana. Setelah musyawarah, komunitas Muslim membeli gereja First Church di Georgia Av, Silver Spring, Maryland, lalu menyulapnya menjadi masjid. Komunitas Kristiani di sana tidak komplain. Tiada ada yang marah. Tak ada yang bertindak anarkis.

Sebelumnya, komunitas muslim  negara-negara Afrika Timur juga melakukan hal yang sama. Mereka membeli sebuah gereja  tua  St. John di negara bagian Minnesota untuk kemudian mengubahnya menjadi masjid. Bukankah ini cukup menggambarkan hidup saling berdampingan antar-umat bergama?

Gereja St. John merupakan  bangunan tua bersejarah yang telah berusia  127 tahun. Luas bangunannya mencapai  1800 m², lengkap dengan ruangan belajar dan kamar para staf. Ketika  jemaatnya masih banyak, gereja itu juga membuka kelas untuk sekolah dengan memanfaatkan gedung belakang yang cukup besar.  Setelah jemaatnya menyusut,  semua ruangan itu tidak terurus sehingga kotor dan berantakan. Ini salah saru alasan lain gereja itu dijual kepada komunitas muslim.

Walhasil, muslim Afrika Timur membeli bangunan itu tidak hanya dijadikan sebagai masjid, tapi juga sebagai pusat kebudayaan Islam yang diberinama  Darul Ulum Islamic Center. Sejak beroperasi Juli 2014 lalu, Darul Ulum Islamic Center kini menjadi pusat kebudayaan Islam terbesar di negara bagian Minnesota.

Komunitas muslim New York yang bergabung dalam  The Northside Learning Center pada akhir 2013 juga membeli sebuah gereja Khatolik Holy Trinity di  Syracuse, New York. The Northside Learning Center adalah sebuah organisasi yang didirikan warga muslim Amerika untuk membantu para imigran di wilayah Syracuse.

Gereja yang diubah menjadi masjid menjadi tren di Amerika. Sekali lagi, ini merupakan penanda antara muslim dan umat non-muslim sebenarnya masih terbuka celah untuk hidup damai berdampingan dalam sosial, meski berbeda dalam akidah.

Indonesia bukanlah negara pertama yang mendirikan masjid di Amerika.  Beberapa negara Islam di wilayah Asia juga memberi dukungan kepada warganya untuk membangun masjid di sejumlah negara bagian Amerika Serikat.  Paling fenomenal adalah Turki, yang membangun sebuah masjid kolosal  di wilayah  Lanham, Maryland, pada awal 2012.

Kiranya kisah gereja menjadi masjid di negeri Paman Sam itu bisa menjadi contoh bagi Aceh atau daerah lain di Indonesia. Betapa hidup ini diperlukan saling berdampingan, bukan saling bermusuhan. Secara kepercayaan (akidah) boleh berbeda, tapi secara sosial, semua agama menganjurkan umatnya agar bisa hidup rukun dan damai.[]

 

Filed under: Feature, , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: