Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Syeh Said dari Pase, Pembawa Islam ke Patani

 

Oleh Herman RN

hernDI Asia dan mungkin di dunia, ada empat kerajaan bertitel Darussalam, dua di antaranya ada di Indonesia, yaitu Aceh Darussalam dan Palembang Darussalam. Dua lagi masing-masing Brunei Darussalam dan Patani Darussalam.

Tentu saja menarik mengkaji hubungan “Para Darussalam” ini. Apalagi, dari keempatnya, Aceh Darussalam merupakan kerajaan tertua. Lantas, apakah Aceh punya pengaruh pada tiga negeri Darussalam itu? Tulisan singkat ini mencoba mendedah satu saja, yakni Patani Darussalam.

Patani Darussalam merupakan sebuah wilayah di Thailand Selatan (sebagian orang Patani lebih suka menyebut Selatan Thailand, dengan maksud sebuah negeri di sebelah selatan Thailand, bukan Thailand Selatan). Masyarakat di sini masih rumpun Melayu dengan mayoritas penganut agama Islam.

Sahibul kisah, Patani dulunya adalah sebuah kerajaan. Dalam Hikayat Patani disebutkan nama “Patani” diambil dari kata petani. Ketika itu seorang raja yang berburu di hutan bertemu dengan seorang lelaki. Pengakuan lelaki itu, ia hanya seorang petani biasa. Raja kemudian membuka pemukiman di hutan tempat ditemukannya seorang petani tersebut. Mukim yang baru dibuka itu diberi nama Patani, dari kata petani.

Kisah lainnya menyebutkan kata Patani diambil dari Pantai Ini. Ketika raja yang sedang berburu, ia menemukan rusa buruannya di sebuah pantai. Saat itulah raja mengatakan, “pantai ini” yang lambat laun menjadi “Patani”.

 

Hikayat Patani

Tidak semua orang Patani menerima kisah dalam Hikayat Patani sebagai muasal Negeri Patani. Alasannya, hikayat itu tidak memiliki nama pengarang. Jika dicermati ciri-ciri karya sastra lama, di antaranya memang tidak tertera nama pengarang. Sebuah karya sastra yang anonim adalah milik masyarakat. Di sinilah kekuatan karya sastra lama.

Teew dan D.K. Wyatt adalah orang yang pertama sekali membukukan Hikayat Patani. Manuskrip pertama hikayat ini ditemui di Library of Cngress, Washington DC. Manuskrip ini berjudul History of Patani, a Kingdom of the East Coast of the Peninsula of Malacca, Near the Siamese Boundary. Manuskrip kedua terdapat di Institute of Social Anthropology University of Oxford dengan judul Salasilah Negeri Patani. Teew dan Wyat membagi hikayat ini dalam enam bagian, mulai dari sejarah Patani pada zaman Dinasti Hulu sampai dengan mengenai undang-undang Patani (lihat Hikayat Patani, yang diselenggarakan oleh Siti Hawa Haji Salleh, Kuala Lumpur, 2010).

Dalam Hikayat Patani disebutkan bahwa kerajaan Patani mulanya diperintah oleh Raja Phaya Tu Kerub Mahajana. Lokasinya di Kota Mahligai. Setelah ia meninggal, kerajaan dipimpin oleh putranya, Phaya Tu Antara yang digelar dengan Paya Tu Naqpa. Masa Paya Tu Naqpa, negeri Patani dibuka dengan nama Patani Dar al-Salam. Nama itu seiring masuknya Islam ke wilayah Patani.

Islam masuk ke Patani dibawa oleh Syeh Said, seorang guru bidang agama dari Pasai, Aceh. Paya Tu Naqpa pun berganti nama menjadi Sultan Ismail Syah. Ia memiliki tiga orang anak, paling tua diberi nama Sultan Mudaffar Syah, yang kedua seorang putri diberi nama Siti Aisyah, dan yang paling bungsu bernama Sultan Mansur Syah.

Sebelum memeluk Islam, ketiga anak itu masih bernama Budha, masing-masing Tunku Mahacai, Kerub Picai Paina, dan Mahacai Pailang. Anak tertua dan terbungsu, Mudaffar Syah dan Mansur Syah, kemudian menjadi penerus kerajaan. Setelah mereka, tidak ada lagi penerus tahta dari kalangan lelaki. Dinasti Patani kemudian dipimpin oleh raja-raja perempuan (ratu), keturunan dari Sultan Mansur Syah. Ratu pertama bergelar Raja Hijau.

Namun demikian, beberapa orang Patani menuturkan kisah yang sedikit berbeda tentang sejarah raja-raja Patani. Haji Abdullah, warga Bandar Yala, Provinsi Yala, mengatakan, raja terakhir yang memimpin Kerajaan Patani adalah Raja Kuning.

Menurut lelaki yang berusia nyaris seabad ini, Raja Kuning merupakan seorang perempuan, keturunan Raja Hijau. Masa Raja Kuning inilah, Islam masuk ke Selatan Thailand, wilayah Patani. Kendati sedikit berbeda kisahnya dengan apa yang termaktub dalam Hikayat Patani, Haji Abdullah juga berpendapat bahwa masuknya Islam ke Patani karena pengaruh seorang ulama dari Pasai, Aceh.

Hanya saja, dalam Hikayat Patani, disebutkan Islam sudah masuk ke Patani sejak dinasti Raja Paya Tu Naqpha yang kemudian bergelar Sultan Ismail Syah. Adapun nama Raja Hijau, Raja Kuning adalah keturunan dari Sultan Mansyur Syah. Artinya, Raja Hijau, Raja Kuning merupakan cucu dari Paya Tu Naqpha.[]

Filed under: Feature, Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: