Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Memimpikan Pemimpin Cinta Seni

Oleh Herman RN

(Serambi Indonesia, 3 Februari 2016)

“Dengan seni hidup menjadi indah; dengan ilmu hidup menjadi mudah; dengan agama hidup menjadi terarah.”

PEPATAH yang sudah populer sejak ’70-an itu masih menjadi jargon dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan pepatah tiga klausa itu, manusia diberitahu tentang keselarasan dalam menjalankan hidup: seni yang membuat sesuatu menjadi indah, ilmu yang membuat hidup menjadi mudah, dan agama tidak boleh dinafikan sebagai arah dan tujuan hidup setiap insan.

Tiga hal ini tidak bisa lepas dari setiap lakon kehidupan, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Setiap tutur kata yang indah akan membuat orang yang mendengar menjadi suka/senang bahkan takjub. Sama halnya seperti kita membaca kitab suci. Hampir semua kitab suci agama samawi berisi kata-kata indah. Terlebih lagi Alquran, kitab suci umat Islam. Bukan hanya barisan aksaranya yang indah, tetapi juga syarat makna, tegas, dan lugas. Bahkan, para penyair dunia sepakat bahwa puncak selera sastra tertinggi di muka bumi ini adalah Alquran, meski Alquran bukanlah karya sastra.

Tatkala dibaca, Alquran pun dilantunkan dengan selera seni tinggi sehingga muncul beragam irama. Sebut saja ada irama tilawah, ada irama tartil. Dalam tilawah ada pula sejumlah gaya lagi agar ayat demi ayat itu tersampaikan dengan indah, mulai irama bayati hingga jiharka. Hal ini menandakan bahwa seni adalah pondasi dasar dalam setiap lakon kehidupan, ia ada dalam segala dimensi, mulai gaya hidup hingga agama, mulai perbuatan hingga ucapan.

Dalam konteks kebudayaan, karya seni bisa dijadikan sebagai warisan budaya. Namun, ironi masa kini tatkala seni hanya dijadikan sebagai hiburan, sisipan, dan figuran belaka. Kegiatan seni selalu dijadikan nomor sekian setelah olahraga dan politik. Kegiatan kesenian tak ubah hanya pelengkap penghibur dalam agenda olahraga dan politik. Lebih kasar dari itu, pelaku seni dianggap sebagai rakét bak pisang, ‘oh lheuh dijeumeurang than soe hiroe lé. Hal ini semakin jelas nanti di masa-masa kampanye pemilihan kepala daerah. Hampir di setiap acara kampanye digelar perhelatan seni sebagai penghibur, diberi bayaran sekian, lalu disuruh pulang. Esoknya, tak ada seorang pemimpin pun mengingat tentang si pembaca puisi, si pembawa hikayat, atau si pelawak.

Beda halnya dengan pelaku olahraga, para elite politik (pemimpin) selalu punya kebijakan unggulan untuk kegiatan olahraga. Meskipun para atlit tidak digunakan untuk kampanye, mereka tetap mendapatkan porsi lebih dari para pemimpin setelah pesta demokrasi selesai. Jarang sekali kita dengar (lihat) ada genda khusus untuk kegiatan seni semisal lomba tertentu yang sengaja digelar oleh pemerintah (pemimpin). Singkatnya, kegiatan seni sangat jauh ketinggalan dibanding kegiatan olahraga.

Lihatlah atlit olahraga, jika seorang atlit dianggap berprestasi, akan ada dana pembinaan untuknya. Namun, seniman yang berprestasi, meskipun prestasi internasional, tidak pernah mendapatkan dana pembinaan dari pemerintah. Bahkan, sering terdengar keluhan dari para seniman yang gagal menghadiri suatu pertemuan tingkat nasional dan internasional karena pemerintah tidak menyediakan transportasi keberangkatan. Namun, kalau atlit yang akan berangkat, ke negara ujung dunia dan berapa pun jumlahnya, pemerintah selalu mencari jalan.

Perbandingan ini tidak hanya antara atlit dan seniman, tetapi juga lembaganya. Lembaga olahraga kerap mendapat support dari pemerintah. Lembaga kesenian cenderung terabaikan. Jikapun ada lembaga kesenian yang mendapat bantuan langsung dari pemerintah, itu hanya lembaga yang berada langsung di bawah pendopo. Artinya, pemerintah tidak pernah tahu secara pasti lembaga-lembaga kesenian di luar binaan pendopo.

Halnya pula perkara gedung pertunjukan kesenian, masih jauh panggang dari api—baik perlengkapan seni maupun fisik bangunannya—dibanding gedung olahraga. Untuk kebutuhan olahraga, pemerintah selalu siap menyediakan alat hingga kostum. Untuk gedung kesenian, bisa dilihat sendiri.

 

Piala Gub/Wagub

Dalam olahraga, sering kita lihat atau dengar even Piala Gubernur atau Piala Wagub. Di tingkat kabupaten/kota, ada pula perebutan Piala Bupati atau Wabup. Mungkin pula sampai di tingkat gampông ada lomba olahraga tertentu memperebutkan piala geuchik. Intinya, selalu ada even olahraga memperebutkan piala pemimpin semisal Pertandingan Futsal Piala Wagub. Namun, tidak pernah terdengar ada kegiatan seni semisal Lomba Baca Puisi Piala Gubernur atau lomba tari tradisi piala DPRA.

Di tingkat nasional pun sering diperlombakan even olahraga memperebutkan piala presiden atau menteri tertentu. Bahkan, sekarang mulai ada piala atas nama orang tertentu dalam even olahraga. Terlepas dari pencintraan politik karena ia seorang anggota dewan atau DPD, lantas menggelar lomba futsal memperebutkan piala atas nama dirinya, kiranya perlu juga dipertimbangkan kegiatan seni memperebutkan piala gubernur atau wagub atau nama tokoh tertentu. Betapa indah andaikan ada lomba saman piala bupati, lomba teater piala wakil gubernur, atau lainnya.

Demikian pula untuk cabang agama, kenapa tidak mungkin digelar Musabaqah memperebutkan Piala Gubernur atau lomba ceramah piala DPRA? Lebih indah pula jika ada lomba ceramah agama berbahasa Aceh, bisa diperoleh dua hal: membangkitkan seni sekaligus melestarikan bahasa poma.

Intinya, gubernur/wagub, bupati/wabup, DPRA/DPRK, harus berpihak secara adil. Olahraga ditingkatkan, seni digalakkan, dan agama jangan dilupakan. Tentu pada ketiganya diperlukan ilmu pengetahuan. Siapa pun pemimpin Aceh ke depan, diharapkan sosok yang paham terhadap semua ini. Jangan lagi menjadikan seni sekadar rakét bak pisang. Berikan ruang pada kegiatan kesenian, karena di sana terselip peradaban!

 

 

Penulis, pengkhidmad kebudayaan, mengajar di FKIP Unsyiah.

Filed under: Opini, , , ,

One Response

  1. Elfiyani FF mengatakan:

    Luar biasa, benar2 lantang tinta ini….
    Pesannya amat tersampaikan, mungkin para pemimpin ke depan y hobi baca koran pasti akan sdikit mnjdi nasihat tegas untuk dirinya. Sungguh kritikan y kritis dan sangat membangun….
    Luar biasalah🙂 Sang penulis y hebat mampu mengajak pembcanya untuk sedikit menjadi lebih hebat….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: