Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Syariat Sosial

Oleh Herman RN

[Serambi Indonesia, 27 April 2016]

padamSUATU hari seorang petugas pencatat sekaligus penagih rekening listrik menghampir rumah sewa tempat saya tinggal. Ia sodorkan secarik kertas yang berisi nominal meteran listrik rumah yang saya tempati. “Tak kena bayar, biaya pemakaian bulan ini hanya 50 bath, sudah ditanggung pemerintah distrik.” Begitu kalimat yang keluar dari petugas PLN tersebut.

Tentu saja saya terkejut, karena di negeri saya: Indonesia atau di Aceh, lebih khusus Banda Aceh, tidak pernah saya temukan hal seperti ini. Hidup bersyariat sosial seperti ini malah saya dapati di negeri Budha, Thailand. Meskipun yang saya alami itu di daerah muslim Patani, pemimpin distrik (setara kabupaten) daerah Selatan Thailand adalah seorang penganut Budha. Itu sebab saya kaget, kok bisa si Budha mengatur tatanan kehidupan sosial seperti syariat yang dianjurkan Islam? Sebaliknya, di negeri syariat Banda Aceh, orang-orang bahkan si pemimpin sibuk bicara syariat Islam, tetapi sebatas tatacara jualan bagi pedagang pinggir jalan dan aturan berpakaian.

Hemat saya, syariat tidak sebatas mengatur tatacara pedagang kecil berjualan, pun bukan sekadar aturan berpakaian. Lebih dari itu, syariat yang mencerminkan kota madani adalah di saat si pemimpin mampu mengatur tatanan kehidupan sosial menjadi bersih, rapi, ramah lingkungan, nyaman, dan damai. Hal ini semua bisa dimulai dari kebutuhan dasar seperti air bersih, listrik, sanitasi, termasuk di dalamnya membentuk sikap dan pola pikir masyarakat yang sosial. Bukan malah membentuk sikap masyarakat agar takut akan WH dan satpol PP.

 

Listrik mati

Coba bayangkan, masyarakat Aceh menandai masuknya waktu maghrib dengan matinya lampu. Menandai masuknya waktu berbuka puasa dengan mati lampu. Bahkan, dalam sebuah pemeo disebutkan perbatasan Aceh dengan Sumatera Utara itu ditandai dengan kawasan mati lampu. Belum lagi soal mati lampu tiba-tiba, mati lampu yang sampai seharian bahkan sehari semalam. Inikah gambaran negeri syariat? Perkara penerangan saja masih amburadur. Konon, untuk mencukupi penerangan di negeri kaya raya ini, pemerintahnya masih bergantung pada provinsi tetangga. Duh hai!

Syariat mesti dilihat dari sisi seperti ini. Orang yang hidup di kota besar tidak bisa lepas secara total dari arus listrik. Mau berwudhuk butuh listrik, mau beribadah butuh listrik, meskipun beberapa rumah mulai mencari antisipasi semisal menyediakan ganset atau lampu penyimpan energi. Namun, berapa lama lampu penyimpan daya itu mampu bertahan, sedangkan  listrik mati sampai seharian? Belum lagi soal alat elektronik rumah tangga yang hangus karena hidup mati dan kurangnya arus listrik.

Jika syariat sosial seperti ini belum mampu diatur oleh sang pemimpin, baiknya simpan dulu syariat pada pakaian dan tatacara pedagang kecil jualan. Bukan berarti syariat pada pakaian itu tidak penting. Itu juga bagian dari syariat, tetapi jangan fokus di pakaian semata lalu melupakan hal yang lebih penting daripada itu, yakni kebutuhan dasar publik. Hasil evaluasi kementerian menunjukkan pelayanan publik Kota Banda Aceh menurun dari 51,48 persen menjadi 47,62 persen. Harusnya perbaiki layanan publik, baru kejar-kejar orang pacaran.

 

Air bersih macet

Halnya kebutuhan terhadap listrik, demikian pula pentingnya air bersih. Jika listrik mati, air bersih susah naik ke kran. Sebaliknya, jika aliran air mati, percuma hidup arus listrik. Air sebagai sumber kehidupan adalah kepentingan sosial di atas segala kepentingan lainnya.

Air bersih bukan hanya untuk mandi dan bersih-bersih, tetapi juga untuk bersuci, baik dari hadas maupun najis. Tanpa air bersih, bagaimana oang bisa bersih setelah BAB dan BAK? Mengusap qubul dan dubur dengan tisu bukanlah budaya Aceh dan bukan anjuran agama kita. Di sinilah air bersih sangat diutamakan.

Bayangkan jika sang pemimpin sibuk berdakwah mengajak masyarakat kota madani untuk ke masjid, sedangkan air untuk BAB saja susahnya bukan kepalang. Apa mungkin seseorang bisa beribadah dalam keadaan bernajis? Belum lagi bagi warga yang sudah berkeluarga, kebutuhan nafkah batin di malam hari bisa terjadi di malam apa saja, tidak mesti malam Jumat. Maka, tatkala di malam tertentu ada suami-istri yang menjalankan ibadah sunnah, keduanya dalam keadaan berjanabah, sementara keesokan harinya tiba-tiba aliran air bersih PDAM mati dan di rumah itu tidak ada sumur atau sumurnya sedang kering, betapa suami istri itu tidak bisa bersuci seharian sekaligus tidak boleh menjalankan ibadah wajib.

Pernahkah sang pemimpin kota madani berpikir tentang hal sederhana ini? Untuk apa sibuk mengejar orang-orang berduaan di hotel—yang belum tentu mereka sampai berhubungan badan—sementara di rumah-rumah penduduk banyak bapak dan ibu yang dalam keadaan berhadas besar? Harusnya sang pemimpin yang bersyariat bisa memilah dan memilih skala prioritas. Prioritaskan kebutuhan umat, baru bicara soal maksiat satu dua orang, sebab maksiat yang lebih besar adalah ketika di sebuah kota hidup puluhan suami istri dalam keadaan berhadas besar dan tidak ada air untuk bersuci.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa bumi beserta segala isinya menggil dan menjerit tatkala ada orang berhadas besar menginjakkan kaki di perut bumi. Di saat itu juga, bumi mengutuk orang-orang yang berhadas besar berjalan bebas di atas perut bumi. Bayangkan, jika ada ratusan orang berhadas besar berjalan di kota madani, lalu seisi bumi mengeluarkan kutukan. Bukankah wajar jika bencana Allah swt. akan semakin dekat di bumi madani ini? Maka, air bersih adalah hal utama agar bumi tak sampai mengutuk seisi kota Madani. Pasalnya, tatakala bencana datang, sang pemimpin dan sejumlah orang, sibuk menuduh dan menuding bahwa bencana datang karena banyaknya pelaku maksiat di muka bumi madani. Mereka lupa bahwa bencana itu juga bisa datang karena bumi mengutuk orang-orang berhadas besar berjalan bebas di atas perut bumi, sedangkan sang pemimpin tidak mampu merapikan penyediaan air bersih.

Oleh karena itu, ke depan diperlukan pemimpin yang visioner, bersyariat sosial, dan mengutamakan kepentingan umat. Andai hal-hal mendasar seperti listrik dan air bersih bisa diatasi oleh sang pemimpin, niscaya Aceh akan menjadi madinatusshalihin dan Banda Aceh akan mawujud jadi kota madani. Allahumma amin.

 

Herman RN, warga Banda Aceh,

pengkhidmat sastra, sosial, dan budaya.

Filed under: Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: