Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Teks Sastra dan Kehidupan Sosial

Esai: Herman RN

(Serambi Indonesia, 6 Maret 2016)

KARYA sastra merupakan representasi sebuah zaman. Setiap teks sastra tidak bisa pula lepas dari kondisi sosial pengarang dan kehidupan sosial penikmat. Teks-teks sastra semisal Hikayat Prang Sabi, Hikayat Prang Kompeuni, dan sejenisnya lahir dari kondisi sosial masyarakat Aceh saat itu yang masih dalam suasana perang. Novel-novel kontemporer dewasa ini pun lahir dari kondisi setiap pengarang dan latar sosial suatu masyarakat. Sebab itu, sebuah teks sastra tidak lepas dari pengarang dan zaman.

Hal ini sudah tampak sejak dulu, sejak karya sastra mulai dikenal luas oleh masyarakat. Dalam konteks Indonesia, novel-novel yang lahir di masa Balai Pustaka selalu mencerminkan kehidupan sosial di masa itu. Tatkala Pujangga Baru muncul, karya-karya berbau perlawanan terhadap Belanda pun bermunculan. Demikian pula teks-teks yang lahir di masa Angkatan ’45 yang menggambarkan kondisi Indonesia selepas dari penjajahan, disusul teks-teks sastra angkatan 66 yang berbau protes terhadap tatanan kehidupan di negara bernama Indonesia.

Meskipun setiap karya sastra lahir tidak lepas dari kondisi sosial si pengarang dan zaman di masanya, ada karya-karya tertentu yang juga masih “hidup” di zaman berikutnya. Sebut saja di antaranya Langit Makin Mendung karya Kipanjikusmin atau Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. Meskipun teks-teks sastra ini hidup di zaman sebelum ’60-an, gambaran sosial dalam teks tersebut masih menjadi katarsis (penyucian jiwa) bagi penikmat di zaman kini bahkan di masa akan datang, di saat umur dunia akan tamat.

Ambil contoh Langit Makin Mendung. Terlepas dari kontroversial tokoh dan jalan cerita, kondisi sosial yang digambarkan pengarang dalam cerpen tersebut masih tampak nyata hingga sekarang di tanah air bernama Indonesia. Pemerkosaan masih marak, pencurian kian meraja lela, korupsi dan nepotisme tidak usah ditanya. Artinya, pengarang Langit Makin Mendung yang berkisah tentang kondisi di masa itu ternyata mampu menangkap isyarat kehidupan sosial di masa kini. Di sinilah kelebihan pengarang sastra dibanding penulis sejarah. Penulis sejarah hanya mencatat peristiwa di masa yang telah lewat. Namun, penulis karya sastra mampu mencatat peristiwa yang telah lewat, sedang terjadi, dan masa akan datang.

Demikian pula cerita Robohnya Surau Kami. Pembaca dituntut untuk menyeimbangkan antara dunia dan akhirat. Tentu saja hal ini menjadi ‘itibar’ bagi setiap umat bahwa Tuhan Yang Esa bukan gila sembah, gila puji. Peduli dengan sesama insan juga menjadi jalan menuju cinta Tuhan. Begitulah disatirkan Navis, pengarang sastra yang juga seorang ulama dari Sumatera Barat.

“….kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua? Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang Aku menyuruh engkau semuanya beramal walau engkau miskin. Engkau kira Aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu tidak lain hanya  memuji-muji dan menyembah-Ku saja? Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!”

Bantuan Sosial

Cuplikan teks Robohnya Surau Kami di atas menjadi pembelajaran bagi setiap insan tentang “bekerjalah untuk duniamu seolah engkau hidup selamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan engkau mati esok hari.” Maka, apa yang dilakukan sejumlah orang, seperti Edi Fadhil, dalam membangun rumah bagi masyarakat miskin adalah bentuk lain beribadah kepada Tuhan, menyeimbangkannya dengan kehidupan sosial.

Ibadah dalam artian ‘berbakti kepada Tuhan’ tidak bisa ditafsirkan sekadar menyembah dan memuji Dia. Ibadah dalam makna luas harus diterjemahkan bagaimana menyenangi Tuhan, mencintai Tuhan. Menyenangi hamba ciptaan Tuhan tentu bagian dari menyenangi Tuhan. Mencintai cipataan-Nya tentu bagian mencintai Dia. Di sinilah maksud tersirat Navis dalam Robohnya Surau Kami.

Sebalik dari itu, soal keikhlasan hanya si hamba dan Tuhan yang tahu. Bisa jadi seseorang membantu orang lain karena berharap pujian, jabatan, dan sebagainya. Katakanlah seorang anggota dewan yang memberikan bantuan sosial dari dana aspirasi. Kenapa setiap sumbangan harus dibenturkan dengan birokrasi dan persen? Dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati seseorang tiada yang tahu. Bisa saja, yang berpakaian sufi dan saban hari di atas sajadah kelak menjadi penghuni kerak neraka. Sebaliknya, yang hidup biasa-biasa saja mungkin akan menghuni surga. Itu semua hak prerogatif Tuhan, tentunya dengan penilaian terhadap setiap amal. Apalagi, Tengsoe Tjahjono pernah menyatir lewat puisi Hom Pimpa:

//apa katamu bila hidup ini hompimpa/ siang orang sufi malam berkostum pencuri/ topeng-topeng tergantung pada setiap biliknya/ maka berubahlah setiap saat/ biar perut terganjal, panjang usia dipersempit limitnya//.

 

Herman RN, pengkhidmad sastra di Banda Aceh.

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: