Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Kesalehan Pemimpin

[Serambi Indonesia, 29 Juni 2016]

Oleh Herman RN

KAPAL berbendera India itu terdampar di Aceh dua pekan lalu. Tidak kurang dari 40 imigran Srilanka dalam kapal tersebut. Mereka terdampar di pantai Lhoknga, Aceh Besar, Provinsi Aceh, setelah terombang-ambing di samudera. Dalihnya, mesin kapal mereka rusak. Syahdan, kapal berisi awak Srilanka itu akan ke Pulau Krismas, Australia.

Ini bukan kali pertama kapal imigran asing terdampar di perairan Aceh. Sebelumnya ada imigran Rohingya, Myanmar, juga terdampar di pantai Aceh. Ada yang terdampar di Sabang, Ulee Lheue, Aceh Utara, dan Langsa. Sampai saat ini, sejumlah imigran Myanmar masih ada yang menetap di penampungan Langsa.

Hal ini membuktikan bahwa rakyat Aceh dan pemimpinnya sangat sosial. Di saat sejumlah negara menolak kedatangan imigran Myanmar kala itu, Aceh menampungnya dengan penuh kebaikan dan persaudaraan. Pemerintah Aceh, waktu itu, tidak perlu menunggu intruksi presiden atau wapres tentang kedatangan imigran Myanmar tersebut. Para imigran langsung ditempatkan pada penampungan yang layak dengan segala pelayanan yang manusiawi.

Hal ini sedikit berbeda dengan kedatangan imigran Srilanka. Seperti diberitakan media di Aceh, gubernur sempat melarang imigran Srilanka mendarat di Aceh. Sebaliknya, wakil gubernur malah menyambut kedatangan para imigran tersebut di tepi pantai. Walhasil, Wakil Presiden Jusuf Kalla menyurati Gubernur Aceh agar Pemerintah Aceh dapat menerima kedatangan imigran Srilanka tersebut secara baik.

Dalam kasus ini tampak soal kesalehan sosial para pemimpin, termasuk rakyat Aceh dengan berbagai komentarnya di media sosial. Dalam politik, perbedaan pandangan antara dua kandidat bakal calon kepala daerah adalah sebuah keniscayaan. Namun, dalam kehidupan sosial, hal-hal sederhana tetapi sensitif seperti ini hendaknya tidak sampai terjadi. Perbedaan pendapat dan cara pandang antara Gubernur Aceh dan wakilnya terhadap imigran Srilanka itu semakin memperlihatkan perpecahan antara kedua pemimpin Aceh ini.

Rakyat Aceh mestinya jangan ikut menghakimi sebelah pihak bahwa wagub lebih baik daripada guberbur atau sebaliknya. Soal imigran Srilanka ini dibutuhkan kesalehan sosial, bukan penghakiman sosial. Publik memang sudah tahu bahwa antara gubernur dan wakilnya mulai ‘pisah ranjang’ sejak dua tahun terakhir. Terlebih lagi, gubernur dan wakilnya kini sama-sama maju dalam pesta demokrasi 2017 mendatang. Konflik antara keduanya semakin jelas disuguhkan ke hadapan khalayak dengan munculnya sejumlah statetemen yang berbeda di antaranya keduanya. Di saat-saat seperti inilah dibutuhkan kesalehan dari setiap orang untuk meredam konflik antara amir kita.

 

Suri Tauladan

Bagi umat Islam, nabi dan rasul adalah suri tauladan. Dalam konteks lebih sempit, setiap pemimpin adalah tauladan bagi rakyat yang dipimpinnya. Sudah seharusnya presiden dan wakil presiden, gubernur dan wakil gubernur, walikota dan wakil walikota, dan seterusnya tidak memberikan kesan negatif kepada rakyat yang dipimpinnya. Manakala antara gubernur dan wakil, misalnya, secara terang-terangan memperlihatkan perbedaan kebijakan atau statemen, sudah pasti rakyat pun akan terpecah-belah.

Kesalehan setiap pemimpin bukan hanya terletak pada ibadah individu, tetapi juga pada sikap-sikap sosial yang kemudian dapat disebut sebagai kesalehan sosial. Artinya, kesalehan sosial tidak hanya dituntut pada rakyat kalangan bawah, tetapi juga pada setiap pemimpin. Oleh karena itu, kebijaksanaan para pemimpin bukan terletak pada seberapa besar manfaat yang akan ia dan keluarganya peroleh, bukan pula seberapa mampu ia membahagiakan tim suksesnya. Akan tetapi, kebijaksanaan seorang pemimpin terletak pada seberapa makmur rakyat yang dipimpinnya dan seberapa damai negeri yang dikelolanya.

Perihal kemakmuran dan kesalehan sosial hendaknya menjadi pelajaran penting bagi setiap pemimpin, mulai tingkat atas sampai tingkat bawah. Sudah menjadi rahasia umum, setiap pemimpin negeri ini, mulai tingkat pusat sampai tingkat gampông lebih senang melakukan kesalehan sosial kepada para keluarga, orang terdekat, lalu tim suksesnya. Manakala keluarga atau tim suksesnya memang berkapasitas, tentu hal itu pantas dilakukan. Sebaliknya, jika kesalehan sosial dilakukan sekadar membalas jasa tim sukses, ini sebuah petaka bagi negeri yang dipimpinnya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa para sahabat pernah bertanya kepada Nabi Muhammad saw. “Jika Engkau (Rasulullah) telah tiada, mana yang lebih baik bagi kami, perut bumi atau permukaan bumi?” Rasulullah saw. memberikan pandangan dengan bahasa kinayah, “Jika pemimpinmu adalah orang yang terbaik di antara kamu dan orang kaya pada masamu adalah para dermawan, permukaan bumi lebih baik daripada perut bumi. Sebaliknya, jika pemimpinmu adalah orang yang jahat di antara kamu dan orang kaya pada masamu adalah orang kikir, maka perut bumi jauh lebih baik daripada permukaan bumi.”

Istilah “perut bumi” dan “permukaan bumi” adalah bahasa sastra untuk menggambarkan “kematian” dan “kehidupan”. Artinya, kematian jauh lebih baik daripada hidup bersama pemimpin yang zalim dan orang kaya yang kikir. Pesan Nabi Muhammad saw ini sangat padat. Iktibar bagi setiap orang yang mau menjadi pemimpin untuk memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu agar ia mampu memperbaiki negeri dan orang yang dimpimpinnya.

Setiap pemimpin, sebelum mencalonkan diri menjadi pemimpin, haruslah mengubah dirinya menjadi lebih baik daripada kaum yang dipimpinnnya. Jika di sebuah provinsi masih terdapat orang-orang yang saleh, seorang pemimpin harus lebih saleh daripada orang-orang tersebut. Pada tingkat negara, manakala di negerinya masih banyak hidup orang saleh, setiap orang yang mau mencalonkan sebagai kepala negara harus mampu lebih saleh daripada orang-orang di negerinya. Ini adalah tugas pertama bagi setiap bakal calon pemimpin sebelum mencalonkan diri menjadi pemimpin.

Dapat dipahami bahwa kesalehan sosial bagi setiap calon pemimpin adalah pondasi dasar. Orang yang berkeinginan menjadi pemimpin dengan niat memperkaya diri, keluarga, dan orang terdekat, sangat tidak layak menjadi pemimpin. Semua orang paham ini, tetapi sedikit orang yang mau menjalani. Untuk itu, tugas setiap rakyat ke depan agar tidak perlu ikut memilih pemimpin yang tidak memiliki kesalehan sosial. Sudah menjadi tugas bersama mencermati calon pemimpin yang benar-benar layak diangkat sebagai pemimpin.

Kesalehan sosial pemimpin tidak terletak pada rakyat yang dipimpinnya semata, tetapi juga pada pendatang (tamu). Misalkan saja terhadap imigran Srilanka itu. Saya yakin, setiap orang yang diperlakukan secara baik, ia akan mengenang budi baik tersebut sepanjang hayatnya. Hal ini ternukil dalam hadih maja Aceh: tajak u pasi tatarék pukat, ladôm bak lamat, ladôm bak punca. Putéh tuleueng lôn di dalam jeurat, mantöng teuingat keu guna gata. Kira-kira terjemahan bebasnya, ‘pergi ke pantai menarik pukat, sebagian di pangkal sebagian di ujung. Putih tulangku di dalam kubur, masih kukenang budi baik Anda.”

 

 

Herman RN, menulis cerpen, puisi, dan esai.

Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unsyiah

Filed under: Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: