Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Menakar Pemerintahan SAKA

oleh Herman RN
(acehtrend, 31 Juli 2016)

SakaSEJAK pertama dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Aceh Selatan, Teuku Sama Indra dan Kamarsyah (SAKA) belum pernah mendapatkan protes atau semacam kritik, baik dari lembaga mahasiswa, pemuda, maupun masyarakat setempat. Hal ini tentu saja berbeda dengan sejumlah kepala daerah pada kabupaten/kota lain di Aceh. Hampir setiap hari selalu ada saja berita tentang kepala daerah di kabupaten tertentu, baik tentang capaian kerja maupun tentang kritik yang dilontarkan masyarakatnya.

Berbeda dengan pemerintahan SAKA, sejak pertama dilantik, jikapun ada pemberitaan di media yang menyangkut tentang SAKA, hanya hal-hal seperti kunjungan ke suatu tempat untuk meresmikan sesuatu. Bahasa jurnalisnya, berita “gunting pita” semata. Lantas, di usia pemerintahannya yang hampir berakhir ini tentu menarik menilik dengan sebuah pertanyaan besar, “Ada apa dengan SAKA? Apakah keduanya antikritik atau memang tidak ada yang perlu dikritik karena pemerintahannya sudah sempurna?”

Sebagai lelaki yang lahir dan besar di  kabupaten penghasil nilam itu, saya tertarik melihat selintas “gebrakan” pemerintahan SAKA selama tiga tahun menjabat. Sejak dilantik pada April 2013 silam, sudah seharusnya banyak gebrakan yang dapat dilakukan oleh pasangan ini dalam memajukan pembangunan Aceh Selatan, bukan hanya gunting pita ke sana-sini.

Sungguh disayang, dari berbagai laman media yang saya coba googling, prestasi SAKA lebih banyak pada mutasi para pejabat di jajarannya. Boleh dikatakan, pasangan yang menang dengan angka 30,39 persen suara rakyat Aceh Selatan ini sama sekali tidak memiliki gebrakan apa pun dalam bidang pembangunan, selain sekadar meneruskan beberapa proyek irigasi yang belum tuntas oleh bupati periode sebelumnya. Jika mau disanding—tak usah disaing—dengan pemerintah kabupaten/kota lain, kepala daerah penghasil pala ini hanya menang pada ‘membangku-panjangkan’ para pejabat. Artinya, SAKA juara bidang mutasi pejabat saja.

Mutasi besar-besaran sudah dimulai sejak bulan kedua SAKA dilantik (Juni 2013). Mutasi kala itu menimpa 173 pejabat di jajaran Pemerintahan Aceh Selatan. Belum puas dengan mutasi sebesar itu, empat bulan kemudian SAKA kembali melakukan penggeseran para pejabat. Tidak kurang dari 400 pejabat ‘digeser’ dari posisinya. Barangkali, sandi 2:4:6 yang mengacu pada angka kelahiran Sama Indra, 24/4/64 menjadi langkah awal gebrakan mutasi pejabat sehingga ‘pemindahan’ para pejabat di jajaran Pemerintahan Aceh Selatan berlangsung pada bulan kedua, bulan keempat, dan bulan keenam Sama Indra menjabat bupati.

Selanjutnya, pada tahun 2014 juga terjadi mutasi besar-besaran oleh SAKA. Sekitar 111 pejabat digeser. Entah karena tujuan mencari sensasi di media massa, Sama Indra kemudian kembali melakukan ‘geser’ pejabat di jajarannya pada Juni 2015. Kali ini, 11 kepala sekolah turut kena ‘geser’ meskipun di antara mereka ada yang belum lama menjabat sebagai kepala di sekolah asal. Tercatat pula seorang kepala sekolah ‘dibangkupanjangkan’ menjadi guru biasa.

Awal tahun 2016, SAKA kembali menggelar mutasi. Sebanyak 214 pejabat eselon II, III, dan IV diberikan jabatan baru, sedangkan puluhan lainnya terkena nonjob. Singkatnya, mutasi bisa dikatakan sebagai “program unggulan” kepemerintahan Sama Indra-Kamarsyah (SAKA) sejak dilantik.

 

Membungkam Kritik

Mutasi di kalangan pejabat pada dasarnya adalah hal yang wajar dalam sebuah pemerintahan. Kalimat ini sering keluar dari para pemimpin. Tentu saja kalimat ini benar. Namun, sudahkah mutasi dilakukan secara profesional dan proporsional? Jika mutasi dilakukan karena “ketakutan” terhadap kritik dari bawahan, mutasi tersebut di luar kewajaran. Ironisnya, sebagai pegawai negeri sipil yang berada di kalangan bawah, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Oleh sebab itu, Aceh Selatan di bawah SAKA sepi kritikan.

Beberapa PNS di Aceh Selatan mengaku tidak berani membuka suara terhadap kepemerintahan SAKA karena “takut” dipindahkan. Bayangkan saja, jika suami istri PNS harus berpisah karena mutasi, satu di ujung barat dan satunya di ujung timur. Tentu saja akan banyak PNS memilih bungkam daripada kena imbas mutasi. Apakah mutasi seperti ini wajar, proporsional, dan profesional?

Pembungkaman kritik juga bisa terbaca pada kebijakan pengadaaan mobil dinas belum lama ini. Seperti diberitakan sejumlah media, ada 15 mobil baru yang diadakan dari sumber dana APBK tahun 2016. Mobil itu dibagi-bagikan kepada sejumlah instansi vertikal, seperti Polres Aceh Selatan, Kodim 0107 Aceh Selatan, Kejaksaan Negeri Aceh Selatan, Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Aceh Selatan (masing-masing 1 unit), dan 4 untuk DPRK.

Saya nyaris terpingkal membaca sasaran pengadaan mobil dinas oleh SAKA ini. Apa urgensinya instansi vertikal mendapatkan mobil dinas dari bupati? Bukankah ini erat kaitannya dengan upaya ‘membungkam’ kritikan? Bisa saja publik berasumsi kalau mobil dinas untuk kepolisian demi keamanan jika ada demo atau aksi lainnya dari mahasiswa dan masyarakat. Mobil dinas untuk TNI bisa jadi sebagai upaya “perlindungan” pengamanan dalam bentuk lain. Mobil dinas untuk kejaksaan bisa sebagai upaya “memuluskan” jika ada pemeriksaaan. Adapun mobil dinas untuk anggota legeslatif bisa jadi demi “membungkam” suara pengawasan dan kontrol dari lembaga dewan tersebut. Jika anggota dewan mau menerima mobil ini, sama saja mereka ‘gila hadiah’ sehingga bisa melemahkan fungsi dan wewenang lembaga dewan dalam hal kontrol dan pengawasan.

Demikian pula mobil dinas yang sengaja diberikan untuk Camat Tapaktuan, Camat Pasie Raja, dan Camat Trumon. Ada apa dengan tiga camat tersebut? Mengapa camat di kecamatan lain diabaikan? Apa dasar kelayakan dan urgensi pengadaan mobil dinas yang menelan Rp3,8 miliar uang rakyat itu? Bukankah ini bisa diasumsikan sebagai upaya lain “pembungkaman” sebelum ada kritikan?

 

Suara Pemuda dan Mahasiswa?

Di sisi lain, organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan asal Aceh Selatan sudah berada pada taraf impoten. Organisasi Pemuda Aceh Selatan (PAS) yang menjadi tumpuan dan sandaran para pemuda negeri nilam sampai saat ini juga belum berbuat apa-apa. dalam hal mengontrol dan mengawasi kebijakan pemerintahan SAKA.       Demikian halnya Himpunan Mahasiswa Aceh Selatan (HAMAS) yang memayungi organisasi paguyuban kecamatan. Berharap kepada organisasi ini untuk mengkritisi kepemerintahan SAKA, agaknya jauh panggang dari api. Untuk mengurus dana pendidikan (beasiswa) bagi para mahasiswa saja, HAMAS kewalahan.

Singkatnya, organisasi yang diharapkan dapat menjadi sandaran suara publik dalam mengkritisi kebijakan pemerintahan SAKA saat ini sudah vakum. Tidak diketahui pasti bagaimana pembungkaman suara organisasi ini bisa terjadi. Jelasnya, organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan di Aceh Selatan sekadar nama yang di dalamnya berisi sejumlah manusia. Ya, sekadar nama!

Aceh Selatan perlu ‘kritik pedas’ bukan ‘keripik pedas’ agar terbangun dari lelap. Negeri pala itu perlu pemimpin yang visioner, bukan otoriter dengan ancaman mutasi. Pemuda dan mahasiswa Aceh Selatan harus bangun dari tidur, tunjukkan bahwa pemuda benar-benar tonggak perubahan dan mahasiswa agen perubahan. Tunjukkan bahwa pemuda dan mahasiswa itu independen, tidak masuk ke dalam genggaman penguasa. Siapa pun pemimpinya, siapa pun pemudanya, siapa pun mahasiswanya, yang berbuat hari ini akan dikenang publik hingga mati. Ibarat kata orang tua dulu, “Tajak u pasi tatarék pukat, ladôm bak lamat, ladôm bak punca/ Putéh tuleueng kamoe i dalam jeurat, mantong teuingat keu guna gata.”

 

 

Herman RN, cerpenis dan esais,

Filed under: Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: