Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

JURI

(Serambi Indonesia, 28 Agustus 2016)

Oleh Herman RN

LOMBA kreativitas seni dan sastra untuk mahasiswa yang dikenal dengan nama Pekan Seni Mahasiswa Daerah (PEKSIMIDA) untuk tahun 2016 sudah selesai. Untuk Aceh, tahun ini tuan rumahnya Universitas Samudera Langsa (Unsam). Apresiasi untuk Unsam.

Sebagai ajang bergengsi dalam bidang seni, sudah seharusnya pelaksanaan kegiatan ini diwarnai dengan seni, dimulai seni menata lomba, seni menyambut kontingen dari berbagai kampus, dan seni dalam memberi apresiasi kepada para pemenang dan dewan juri. Saya yakin, tuan rumah tidak ingin melihat cela pada kegiatan seni yang bergengsi ini. Untuk itu, tanggung jawab tuan rumah harus memahami dan mengerti tatalomba, baik dalam bidang teknis maupun non-teknis.

Sudah rahasia umum, pekan seni cenderung dijadikan ‘anak tiri’ tatkala disandingkan dengan pekan olahraga. Hal ini semakin miris ketika kegiatan olahraga terjadwal lebih dahulu tinimbang kegiatan seni. Acap saya mendengar ‘keluhan’ dari beberapa panitia seni yang berujar, “Kegiatan kita (seni) tidak ada dana. Dananya sudah diplotkan untuk pekan olahraga…”

Walhasil, apresiasi untuk para juara lomba seni sangat memprihatinkan. Adakalanya nominal yang mereka terima sangat tidak sebanding dengan usaha yang mereka lakukan. Dana pembinaan bagi para juara lomba seni sangat tidak sebanding dengan dana pembinaan bagi para juara olahraga.

Hal ini terlihat juga pada Pekan Seni Mahsiswa Indonesia (PEKSIMI) baik tingkat kampus/universitas (PEKSIMITAS) maupun tingkat daerah (PEKSIMIDA). Lebih miris lagi, para juara lomba PEKSIMIDA tahun ini tidak mendapatkan apresiasi dalam bentuk apa pun dari panitia penyelenggara, kecuali sebuah pengumuman bahwa si fulan dapat juara sekian dan si fulen juara sekian.

Hal ini menjadi kelakar satu sama lain antara peserta dan teman-temannya. “Mana bukti kalau kamu juara? Jangankan uang atau piala, sertifikat pun gak ada,” begitu ledekan sejumlah orang kepada temannya yang baru pulang dari PEKSIMIDA Unsam.

Tanpa bermaksud menyalahkan Unsam sebagai tuan rumah kali ini, tahun-tahun sebelumnya juga sama, para juara pulang hanya dengan senyum setelah pengumuman. Namun, tahun-tahun sebelumnya, para juara PEKSIMIDA diberi sertifikat sebelum mereka kembali ke kampusnya masing-masing. Ini yang tidak mereka dapatkan dari Unsam. Sampai saat ini, sudah dua pekan lebih kegiatan PEKSIMIDA XIII selesai, banyak peserta masih bertanya-tanya apakah mereka diberikan sertifikat atau tidak oleh tuan rumah.

 

Mengapresiasi  Juri                        

Layaknya sebuah lomba, juri tingkat daerah (Povinsi) mestilah juri yang memiliki kapasitas dan mumpuni di bidangnya. Para panitia harus punya filter dalam memilih dan menetapkan dewan juri. Misalkan, seorang penari belum tentu bisa menjadi juri tari jika hanya memahami cara menari semata, tanpa mendalami makna/simbol dari setiap gerakan, sangkil-mangkus antara tema dan tarian, ilmu koreografer, dan sebagainya yang berhubungan dengan nilai-nilai tari.

Pertimbangan-pertimbangan seperti ini mungkin sudah dilakukan Unsam sebagai tuan rumah PEKSIMIDA XIII. Hal ini terbuti dari sederetan nama juri, ada yang sudah terbiasa ‘makan dolar’, tetapi masih loyal menjuri tingkat daerah. Oleh karena itu, mestinya pihak tuan rumah memberikan apresiasi yang layak kepada juri.

Juri bukanlah tenaga teknis, tetapi tenaga ahli. Artinya, setiap penyelenggara even apa pun, baik seni maupun olahraga, harus memposisikan juri sebagai tenaga ahli. Tenaga ahli sama seperti narasumber. Tenaga teknis posisinya seperti panitia.

Hal ini penting dipelajari oleh setiap panitia penyelenggara agar juri tidak merasa dirinya ‘tukang’. Suksesnya sebuah kompetisi karena independensi dewan juri, suksesnya acara karena kepiawaian para panitia. Koherensi ini harus saling dijaga. Semoga ke depan kegiatan seni tidak lagi jadi anak kedua setelah even-even lainnya.

 

 

Herman RN, pengkhidmad seni dan sastra

Menulis lepas di berbagai media.

Filed under: Essay, ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: