Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

UKBI dan TOEFL Belum Standar

Oleh Herman RN

ukbiPARA Linguis dan pemerhati bahasa Indonesia boleh berbangga dengan diundang-undangkannya Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI). Apalagi, UKBI mulai dijadikan sebagai patokan bagi setiap orang dalam berbahasa yang baik dan benar serupa tes TOEFL dalam uji kemahiran berbahasa Inggris.

Sejatinya, kedudukan UKBI dalam bahasa Indonesia memang seperti TOEFL dalam bahasa Inggris, yakni sebagai tes kemahiran berbahasa (language proficiency test). Namun, UKBI belum tentu bisa dijadikan tolok ukur seseorang sudah mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Sama halnya dengan TOEFL, seseorang yang mendapatkan nilai TOEFL di atas 600 belum bisa dikatakan sebagai orang yang sudah mampu berbahasa Inggris dengan baik dan benar. Hal ini karena orang yang cakap berbahasa Inggris secara lisan belum tentu memiliki nilai TOEFL yang tinggi.

Harus diakui, tes UKBI dan tes TOEFL sama-sama ujian tulis, meskipun di dalamnya terdapat sejumlah soal tentang mendengar, merespon kaidah bahasa, membaca, dan berbicara. Semua dijawab oleh peserta di atas kertas dalam bentuk tertulis. Artinya, kemampun seseorang dalam mengaplikasikan jawabannya dari atas kertas ke bentuk praktik belum bisa dibuktikan.

Dalam bahasa lisan, kita kenal istilah pragmatik, psikolinguistik, sosiolinguistik, dan sebagainya. Hal ini tidak kita dapati dalam bahasa tulis. Tes tulis bisa mempertanyakan tentang hal-hal di atas, tetapi tidak mempraktikannya. Hal inilah yang membuat tes UKBI dan TOEFL belum bisa dijadikan standardisasi seseorang sudah berbahasa dengan baik dan benar.

Perihal lain yang mesti dilihat dalam tes UKBI adalah sasaran. Siapa sasaran UKBI sebenarnya? Apakah orang Indonesia pentur bahasa Indonesia, orang Idonesia penutur bahasa daerah, orang asing penutur bahasa Indonesia, atau orang asing penutur bahasa asing? Hal ini penting dilihat karena menyangkut “tolok ukur”. TOEFL jelas memfokuskan bagi mereka di luar penutur bahasa Ingris. Artinya, sekadar uji kemahiran berbahasa Inggris. Sebaliknya, UKBI ternyata bisa diikuti oleh siapa pun, termasuk orang Indonesia penutur bahasa Indonesia.

Jika UKBI diperuntukkan bagi orang asing, misalnya, bagaimana mungkin nilai mereka akan menjadi tolok ukur kemampuan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar? Bagaimana jika nilai UKBI orang asing lebih tinggi tinimbang orang Indonesia penutur bahasa Indonesia? Apakah akan ada klaim bahwa orang asing lebih berhasil berbahasa Indonesia dengan baik dan benar dibanding orang Indonesia sendiri?

Hal inilah yang menimpa UKBI. Banyak orang Indonesia yang kuliah di Jurusan Bahasa Indonesia memiliki nilai UKBI jauh di bawah orang yang tidak kuliah di Jurusan Bahasa Indonesia. Tentu saja semua ini ditentukan beberapa faktor, antara lain faktor “nasib” dan “untung-untungan”. Artinya, bisa saja orang asing yang menjawab soal UKBI sambil tutup mata lebih tinggi nilainya dibanding orang Indonesia yang berusaha sungguh-sungguh.

Terlepas dari situ, UKBI harus disetarakan seperti TOEFL. UKBI dan TOEFL adalah alat ukur kemahiran berbahasa (tanpa embel-embel baik dan benar). UKBI dapat dijadikan sebagai syarat kelulusan untuk tes tertentu. Sama seperti TOEFL, syarat kelulusan untuk bisa diizinkan sidang sarjana atau masuk perguruan tinggi. Oleh karena itu, UKBI harus bisa diposisikan sama pentingnya dengan TOEFL.

UKBI dan TEOFL sebagai syarat kelulusan seseorang dalam hal kemahiran berbahasa tetap harus dipertahankan, meskipun bukan sebagai tolok ukur berbahasa yang baik dan benar. Setiap perguruan tinggi di Indonesia hendaknya tidak terlalu mengagungkan TOEFL tetapi melupakan UKBI. UKBI dapat dijadikan alat ukur kamahiran berbahasa Indonesia secara akademik. Sudah saatnya pusat bahasa-pusat bahasa di perguruan tinggi mengakomudasi UKBI, di samping tes TOEFL. Semoga ke depan UKBI bukan lagi sekadar embel-embel, tetapi bisa benar-benar dijadikan tonggak memajukan bahasa persatuan di tanah air Indonesia.

 

Herman RN, Pengkhidmad bahasa dan sastra.

Filed under: Essay, , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: