Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Bahasa Aceh untuk Indonesia

Oleh Herman RN

[Serambi Indonesia, 1 November 2016]

BAHASA Indonesia sebagai bahasa persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia termaktub dalam butir ketiga Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Sebelum disebut sebagai bahasa Indonesia, mulanya masih sebagai bahasa Melayu. Dengan demikian, usia bahasa Indonesia sama tuanya dengan bahasa Melayu di Nusantara.

Bahasa Melayu sudah ada sejak abad 13 masehi. Hal ini ditandai dengan sebuah karya sastra Melayu klasik “Naskah Undang Undang Tanjung Tanah” yang ditemukan oleh Uli Kozok, filolog asal Jerman. Selanjutnya, tradisi menulis dalam bahasa Melayu semakin pesat sejak munculnya Hamzah Fansuri di abad 16 masehi. “Syair Perahu” merupakan satu di antara sekian karya fenomal Fansuri. Sebagian peneliti bahkan menganggap syair itu sebagai pelopor sastra tulis dalam tamadun Melayu.

Jika bahasa Indonesia diyakni berasal dari rumpun Melayu, berarti bahasa Indonesia sudah ada sejak Fansuri, sastrawan Aceh itu hidup. Dengan demikian, bisa dikatakan satu lagi sumbangan terbesar ureueng Aceh terhadap Indonesia adalah melahirkan sebuah bahasa persatuan yang kelak disebut sebagai bahasa Indonesia. Pertanyaannya, di manakah posisi bahasa Aceh masa itu, masa kini, dan masa akan datang dalam bingkai Indonesia?

Berdasarkan literatur yang ada, bahasa Aceh tempoe doeloe hanya digunakan untuk kalangan kerajaan. Artinya, bahasa Aceh hanya menjadi bahasa rumah tangga kerajaan atau bahasa yang digunakan oleh rakyat Aceh. Adapun bahasa pengantar yang digunakan masa itu adalah bahasa Melayu. Interaksi dengan orang asing yang berdatangan ke Aceh masa itu menggunakan bahasa Melayu. Poin penting yang dapat dipetik, bahasa pengantar ke luar istana pada adalah bahasa Melayu, sedangkan bahasa Aceh lebih digunakan untuk kalangan ke dalam istana tetapi sekaligus penyokong keberadaan bahasa Melayu masa itu.

 

Bahasa Aceh Sekarang

Bahasa Aceh sekarang dalam kedudukannya di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebagai salah satu bahasa daerah. Sebagai bahasa daerah di Republik Indonesia, bahasa Aceh memiliki fungsi (1) pendukung bahasa nasional/Indonesia; (2) bahasa pengantar pada tingkat sekolah dasar; (3) sumber kebahasaan untuk memperkaya bahasa Indonesia; dan (4) pelengkap bahasa Indonesia dalam penyelenggaraan pemerintahan tingkat daerah.

Mencermati fungsi-fungsi tersebut, bahasa Aceh memilik peran penting dalam keberlangsungan bahasa Indonesia atau bahasa Melayu hingga sekarang. Sebagaimana diketahui, tidak ada bahasa yang lengkap atau sempurna di muka bumi ini. Penerjemahan dan penyerapan dari bahasa lain adalah sebuah keniscayaan pada setiap bahasa. Demikian halnya dengan bahasa Indonesia, dimungkinkan melakukan penyerapan terhadap bahasa asing dan bahasa daerah, termasuk dari bahasa Aceh.

Penyerapan dalam dunia kebahasaan tidak hanya menimpa bahasa Indonesia, tetapi juga oleh bahasa lain, termasuk bahasa Inggris yang dianggap sebagai salah satu bahasa tertua di dunia. Hal ini tampak dalam beberapa contoh kosa kata durian, rambutan, papaya, bamboo, dan seterusnya. Artinya, bahasa Ingris juga melakukan penyerapan dari bahasa Indonesia/melayu, baik penyerapan secara total/langsung maupun penyerapan sebagian atau penyesuaian afiks.

Di sinilah peran bahasa Aceh sebagai bahasa daerah di Indonesia agar dapat menyumbang sejumlah kosa kata bagi pengayaan bahasa Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi keempat sudah termaktub beberapa kosa kata bahasa Aceh. Namun, jumlahnya masih jauh kalah dibanding dengan bahasa-bahasa dari daerah lain, terutama dari bahasa Jawa, Sunda, Minangkabau, dan lain-lain.

Beberapa kosa kata dari bahasa Aceh yang diserap ke dalam KBBI edisi keempat itu ada pula yang masih perlu diluruskan penulisan dan artinya. Misalkan kata meunasah yang ditulis menasah (tanpa huruf u). Selain keliru dari segi penulisan, makna meunasah dalam kamus tersebut juga masih perlu penelusuruan. Di sana disebutkan bahwa meunasah bermakna “bangunan umum di desa-desa untuk melaksanakan upacara agama, pendidikan agama, dan musyawarah.” Sejatinya, meunasah dalam pemahaman orang Aceh sama dengan surau atau musalla bagi orang Jawa, fungsi utamanya bukan tempat musyawarah, melainkan tempat ibadah. Demikian pula dengan kata dayah yang termaktub dalam KBBI tersebut, bermakna “orang perempuan (ibu) yang diserahi mengasuh atau menyusui anak orang lain.” Tentunya makna itu perlu diluruskan.

 

Peran Ureueng Aceh

Tatkala didapati sejumlah kekeliruan dalam KBBI, peran orang Aceh patut dipertanyakan. Mengapa tim penyusun KBBI itu bisa salah menuliskan artinya? Apakah karena tidak ada orang Aceh dalam tim penyusun kamus tersebut?

Orang Aceh juga harus berperan untuk menjadikan bahasa Aceh sebagai salah satu penyumbang kosa kata ke dalam bahasa Indonesia/Melayu. Bagaimana caranya? Pertama, banyaklah menulis. Dengan menulis, semua orang bisa menyisipkan kosa kata bahasa daerahnya masing-masing, bukan hanya kosa kata bahasa Aceh, juga bisa kosa kata dari bahasa Aneuk Jamee, bahasa Gayo, atau bahasa daerah lainnya. Kaedah ejaan menetapkan bahwa penulisan kosa kata bahasa asing dan bahasa daerah harus dimiringkan. Ini adalah tahap pertama memperkenalkan kosa kata bahasa daerah ke ranah nasional. Biarlah mulanya ditulis dengan huruf miring. Lambat laun tatkala sudah berterima dalam masyarakat luas, kosa kata yang sudah menjadi lazim akan ditulis tegak sejajar dengan kosa kata bahasa Indonesia/Melayu. Hal ini seperti kata “rencong” yang diserap dari kata rincong.

Kedua, rajinlah berpidato. Seiring dengan menulis, berpidato juga dapat menjadi sarana penting memperkenalkan bahasa daerah Aceh ke ranah nasional. Penting menyisipkan kosa kata dari bahasa daerah Aceh dalam pidato-pidato di acara pemerintahan. Tentunya dibarengi dengan maknanya dalam bahasa Indonesia. Penyisipan kosa kata dari bahasa daerah Aceh juga dapat dilakukan dengan berpantun dalam bahasa daerah—mungkin di awal atau di akhir pidato.

Ketiga, buatlah film. Kita sering menonton film Indonesia, baik sinetron maupun layar lebar yang diperankan oleh artis-artis ibukota asal Jawa. Pada dialog-dialog tertentu, kerap mereka berujar dalam bahasa Jawa atau Sunda. Hal ini membuat bahasa Jawa dan bahasa Sunda lebih cepat dikenal dan tersebar ke seluruh Indonesia. Hasilnya, bahasa Jawa dan bahasa Sunda menjadi penyumbang terbesar khasanah kosa kata bahasa Indonesia. Hal inilah yang perlu dilakukan oleh sineas asal Aceh. Bagaimana caranya dalam adegan tertentu dimasukkan dialog bahasa Aceh. Bisa dimulai dari kosa kata yang sudah sangat populer.

Tatkala bahasa Aceh mampu menjadi salah satu penyumbang terbesar untuk kosa kata bahasa Indonesia, tentu bahasa Aceh akan semakin lestari di masa akan datang. Tidak mustahil, bahasa Aceh bisa menjadi rujukan bahasa-bahasa lain di dunia dalam ranah penyerapan bahasa. Apalagi, bahasa Aceh memiliki kadar kosa kata yang relatif cukup. Contoh, untuk mengatakan bau busuk saja, bahasa Aceh ada banyak: bè kh’ieng, bè khôp, bè chue’ng, bè cingèh, bè anyi, dan lain-lain. Bandingkan dengan kosa kata bahasa Indonesia tatkala menyebut bau busuk, paling hanya beberapa saja.

Singkatnya, jika masa lalu orang Aceh berperan penting dalam memperkenalkan bahasa Melayu bansigom donya, kini saatnya bahasa Aceh dijadikan penyumbang kosa kata terhadap bahasa Indonesia atau bahasa Melayu di dunia. Semoga!

 

Herman RN, menulis cerpen, esai, dan puisi.

Buku kumpulan cerpennya yang baru terbit “Pembunuh Ketujuh”

(Bandar Publishing, 2016)

Filed under: Opini, , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: