Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Kearifan Memberikan Bantuan

Oleh Herman RN

(Serambi Indonesia, 21 Desember 2016)

bantuanALKISAH suatu masa, hiduplah dua sahabat: seekor kera dan seekor ikan. Mereka tinggal pada sebuah hutan di tepi danau yang indah. Suatu ketika, banjir lebat datang, air danau tempat tinggal si ikan melimpah ke daratan. Banjir yang sangat luar biasa itu membuat kera gelisah akan kondisi sahabatnya.

Kera bergelantungan dari satu dahan ke dahan lain. Ia mencoba mendekati danau tempat si ikan. Dari dahan kayu tempat ia berlindung, si kera melihat ikan melompat-lompat ke permukaan air. Kera semakin gelisah. Ia merasakan si ikan sedang minta pertolongan dari banjir raya tersebut. Singkat kisah, kera meloncat ke arah dahan kayu yang condong ke permukaan danau. Ia menunggu waktu yang tepat. Begitu melihat si ikan melompat ke permukaan, dengan sigap kera menangkap ikan tersebut, lalu membawanya ke dahan yang besar untuk berlindung. “Aku sudah membantumu keluar dari banjir besar itu, sahabatku,” begitu gumam si kera. Namun, tatkala ia membuka genggaman tangannya, kera melihat si ikan sudah tidak bernapas lagi.

Apa yang dapat kita petik dari cerita di atas? Ternyata, memberikan bantuan itu harus dengan kearifan. Lurusnya niat memberikan bantuan belum tentu meluruskan hasil yang diperoleh oleh mereka yang kita anggap membutuhkan bantuan. Niat si kera sangat mulia. Ia ingin menyelamatkan si ikan dari musibah banjir dahsyat. Akan tetapi, si kera lupa bahwa bukan itu yang dibutuhkan si ikan.

Demikian harusnya setiap orang menyikapi musibah yang datang secara beruntun di nanggroe ini. Gempa dahsyat yang mengguncang Pidie Jaya 7 Desember lalu bukanlah musibah yang pertama melanda daerah Aceh. Namun, animo masyarakat dalam menyalurkan bantuan sangat patut diapresiasi. Masalahnya, sudah arifkan bantuan sosial tersebut sehingga tepat sasaran dan benar-benar dibutuhkan oleh korban?

Harus diakui bahwa bantuan datang dari berbagai penjuru, bukan hanya dari orang Aceh, tetapi juga dari luar Aceh bahkan dari luar negeri. Namun, bisa saja bantuan yang diberikan bukan berdasarkan analisis kebutuhan korban, melainkan prasangka atau perkiraan si pemberi bantuan. Hal ini menarik dicermati agar bantuan yang diberikan kepada korban gempa Pidie Jaya tidak seperti kera membantu si ikan dalam cerita ilustrasi di atas.

Hari pertama dan kedua setelah gempa, misalnya, orang-orang sibuk melakukan penggalangan dana di ibukota propinsi dan berbagai daerah lain. Begitu dana terkumpul, orang-orang mulai disibukkan membeli beras dan bahan sembako lainnya. Demikian pula bantuan pakaian, banyak orang sibuk mengumpulkan pakaian bekas untuk dikirim ke Pidie Jaya, ke lokasi gempa tersebut. Pertanyaannya, benarkah itu semua yang dibutuhkan para korban di hari pertama dan kedua musibah terjadi?

Hal ini menarik dicermati kembali oleh setiap pemberi bantuan, baik lembaga maupun individu. Hemat saya, hari-hari pertama musibah terjadi bukan dana dan pakaian yang dibutuhkan korban, melainkan uluran tangan langsung setiap orang untuk mencari dan mengangkat mayat dari balik reruntuhan. Saat-saat pertama musibah gempa atau banjir raya terjadi, yang sangat dibutuhkan masyarakat di lokasi bencana adalah relawan untuk memindahkan puing-puing reruntuhan, membersihkan lokasi dari sisa-sisa reruntuhan yang kemungkinan berbahaya, dan bantuan mengangkat mayat-mayat. Di sinilah kearifan memberikan bantuan itu diperlukan, yakni membantu sesuai kebutuhan korban, bukan sesuai perkiraan si pemberi bantuan.

Demikian pula bantuan pakaian, sejauhmana hal itu benar-benar sangat dibutuhkan masyarakat korban gempa? Jika benar, pakaian seperti apa yang dibutuhkan? Apakah pakaian bekas yang sudah tidak dipakai lagi oleh pemiliknya layak disumbangkan kepada para korban?

Perlu pula meninjau kembali bantuan pangan atau logistik sembako. Bukankah pemerintah daerah sudah membuka dapur umum? Apalagi, musibah yang sudah berstatus bencana provinsi, tentunya dinas sosial sudah sangat peka menyalurkan bantuan sembako. Dengan demikian, lembaga swadaya masyarakat atau lembaga kampus atau organisasi mahasiswa mestinya memikirkan hal lain dalam memberikan bantuan kepada para korban gempa, tidak usah ikut-ikutan dinas sosial dan pemerintah daerah yang menumpuk-numpuk logistik di lokasi bencana. Tatkala terjadi penumpukan indomie dan pakaian bekas, tentu bukan ketenangan yang dirasakan para korban, melainkan “musibah” dalam bentuk lain.

Hari-hari berikutnya setelah gempa terjadi, bantuan yang diperlukan para korban sebenarnya lebih kepada terapi konseling atau trauma healing. Terlebih lagi bagi anak-anak usia sekolah, pendampingan konseling jauh lebih utama tinimbang penumpukan pakaian bekas dan makanan ringan. Selain itu, melihat gempa susulan masih sering terjadi, tentu para korban tidak berani kembali ke rumah mereka. Maka, tenda darurat jauh lebih mereka butuhkan daripada beras dan telur ayam.

Selain mencermati prioritas kebutuhan, perlu kearifan dalam menyikapi bantuan yang masuk ke Aceh. Hal ini bukan membangun kecurigaan, melainkan waspada sebelum terjadi. Bisa saja, bantuan-bantuan yang masuk dari luar disisipi sesuatu yang tidak disukai oleh rakyat Aceh. Seperti diketahui, dalam setiap kesempitan akan ada kesempatan. Bisa saja ada oknum tertentu, misalnya, menyalurkan bantuan bahan bacaaan bagi anak-anak sekolah dasar ke bawah tetapi isi buku tersebut disisipi dengan gambar-gambar yang menyimpang dari ajaran agama dan budaya Aceh. Untuk itu, diperlukan pengawasan juga dalam menerima bantuan dari luar.

Hal ini turut saya masukkan dalam kearifan memberikan bantuan, mengingat dewasa ini segala hal tentang penistaan agama dan budaya orang lain mungkin saja terjadi. Pengalaman masa tsunami, ada sejumlah anak Aceh yang mendapatkan pembagian kitab agama tetangga, permen bertuliskan lambang tertentu dalam agama tertentu, dan sebagainya. Tentu saja saya khawatirkan dalam bantuan buku cerita bagi anak SD, misalnya, terselip gambar atau kartun Nabi Muhammad yang sedang heboh di media sosial. Semoga saja itu tidak sampai terjadi dalam bantuan kepada korban gempa Pidie Jaya. Amin!

 

 

Herman RN, menulis cerpen, esai, dan puisi.

Kumpulan cerpennya yang baru terbit “Pembunuh Ketujuh”.

Cerita rakyat yang akan terbit “Putroe Kaoy”.

Iklan

Filed under: Opini, Uncategorized, , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.399 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: