Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

RSZA, Rumah Sakit Zaman Aladin

Oleh Herman RN

(Serambi Indonesia, 9 Maret 2017)

KONON, lampu ajaib berbentuk teko yang ditemukan Aladin –tokoh dongeng dalam “Kisah 1001 Malam”– bisa mengeluarkan jin sakti. Jin itu baru keluar dari dalam teko setelah ada yang menggosok teko tersebut. Orang yang menggosok teko itu akan menjadi tuan dan jin menjadi abdi yang siap sedia mengabulkan permintaan si tuan. Kesaktian si jin mampu mengabulkan semua permintaan si tuan, mulai dari yang ringan sampai yang berat bagi ukuran manusia normal.

Tersebutlah ada sebuah Rumah Sakit Zaman Aladin yang boleh disingkat menjadi RSZA. Sebagai sebuah instansi pelayanan kesehatan zaman Aladin, di rumah sakit tersebut mungkin ada si tuan jin yang mampu melakukan sesuatu, termasuk memunculkan nama-nama “siluman” dalam daftar penerimaan pegawai atau tenaga kontrak. Pasalnya, beberapa nama tidak tertera dalam daftar kelulusan tes sebelumnya, tetapi bisa lulus di tahap akhir. Tentu ini ada ulah jin sakti dan tuannya.

Kabar yang disebar oleh sejumlah surat kabar baik cetak maupun during, ada “siluman” yang masuk dalam daftar penerimaan tenaga kontrak di rumah sakit zaman Aladin. Ternyata hal ini bukan sekadar kabar, tetapi memang benar dan diakui oleh bos RSZA.

Bos RSZA kemudian mencoba memberikan alibi bahwa dua nama yang lulus di hasil akhir setelah pertimbangan penurunan standar kelulusan. Pertanyaan penting, mengapa standar kelulusan baru muncul di sesi akhir, sementara dua nama tersebut tidak lulus psikotes di jenjang sebelumnya?

Hemat saya, jika hanya “nama siluman” yang disisipkan tentu masih sangat sederhana, karena idealnya rumah sakit zaman Aladin bukan hanya mampu menyulap manusia menjadi siluman, tetapi juga mengubah manusia menjadi jin beserta koloninya.

Bukan hal baru
Saya berani katakan begini, karena peristiwa “siluman” ataupun “anak jin” yang disisipkan sebenarnya bukan hal baru di lingkungan RSZA. Hanya saja mungkin baru kali ini ketahuan media, sehingga menjadi perbincangan khalayak. Oleh karena itu, sudah saatnya kepala pemerintahan Aceh, anggota dewan, dan ombudsman memberikan aksi sekaligus sanksi.

Masyarakat luas tentu ingin tahu siapa sebenarnya “tuan jin” yang telah menggosok teko Aladin di RSZA, sehingga ada nama-nama “jin” yang keluar pada pengumuman hasil akhir. Sejauh ini, baru terdeteksi dua nama “jin” yang tidak lulus psikotes, tetapi muncul pada pengumuman hasil akhir.

Di balik ini semua, bisa jadi ada nama lain yang tidak tertulis di pengumuman tahap akhir, tetapi akan tercatat dalam daftar tenaga kontrak kelak. Khalayak tidak pernah tahu pasti soal itu, tetapi semua bisa terjadi karena memang begitu lumrahnya rumah sakit zaman Aladin, yakni cukup gosok teko Aladin, semua nama siluman dan jin bisa berada di rumah sakit zaman Aladin.

Jika gubernur atau anggota dewan tidak mau mengambil tindakan tegas atas preseden buruk di rumah sakit zaman Aladin itu, bisa jadi hal ini akan mewabah di tahun-tahun berikutnya yang berimbas pada kualitas pelayanan. Sering kita dengar, pelayanan kesehatan di negeri ini seperti pelayanan Aladin, yakni siapa yang kuat menggosok teko ajaib, dialah yang lebih utama dilayani. Adapun rakyat kecil yang tidak punya teko ajaib sering mendapatkan kekecewaan.

Kualitas pelayanan kesehatan ala Aladin ini harus diubah menjadi pelayanan yang sesungguhnya, sesuai cita-cita dan ikrar kedokteran/keperawatan. Untuk mendapatkan pelayanan yang prima tanpa embel-embel Aladin, tentunya dibutuhkan suasana yang steril, dimulai dari sterilnya tata cara penerimaan pegawai sampai sterilnya lingkungan kerja. Jangan salahkan oknum pegawai tidak berkualitas memberikan pelayanan, karena bisa jadi mereka diterima di RSZA juga bukan dari hasil kualitas, melainkan gosok teko ajaib. Nah, terbongkar akhirnya kan?

Rumah sakit zaman Aladin atau RSZA disebut-sebut sudah tipe A dan menjadi rumah sakit pendidikan. Sebagai rumah sakit tipe A sekaligus rumah sakit kebanggaan rakyat Aceh, hendaknya RSZA bebas dari kolusi, korupsi, termasuk nepotisme. Kolusi dan nepotisme sangat non-syariah, apalagi jika disertai korupsi. Bagaimana mungkin RSZA bisa memberikan pelayanan syariah jika penerimaan tenaga kontrak saja sangat tidak syariah.

Sebagai instansi pelayanan kesehatan nomor wahid di negeri syariah, RSZA harusnya memberikan contoh syariah kepada instansi pelayanan kesehatan lain. Sebagai rumah sakit pendidikan, RSZA mestinya memberikan pendidikan yang benar-benar bernilai edukatif, bukan malah mempraktikkan kecurangan dalam pendidikan.

Tes penerimaan tenaga kontrak adalah bagian dari edukasi. Jika tes tersebut sarat kecurangan seperti diberitakan media, tentunya rumah sakit itu patut dipertanyakan sebagai rumah sakit pendidikan.

Tindakan tegas
Saya masih percaya, RSZA bisa diubah menjadi rumah sakit yang benar-benar syariah, bebas kecurangan dan praktik non-syariah. Hal ini bisa dilakukan manakala lembaga kontrol (DPRA) dan pengambil kebijakan (gubernur) tidak ikut-ikut menggosok teko Aladin. Artinya, wakil rakyat dan kepala pemerintahan Aceh harus mengambil tindakan tegas terhadap oknum di RSZA yang telah mencoreng kualitas dan prestise rumah sakit tersebut.

Beruntung, tes tenaga kontrak itu sejak awal diumumkan secara during. Jika tidak, kecurangan yang sudah menahun ini bisa akan terus terjadi sepanjang usia bumi. Masyarakat yang punya semangat kompetisi, akan percuma berkompetisi menjadi pelayan masyarakat di instansi kesehatan tersebut. Mengutip “meme” yang sedang populer sekarang, jangan sampai “kecurangan” di RSZA terjadi secara terstruktur, sistematis, dan massif.

Sekali lagi, semua pihak mesti turun tangan mengungkap siapa tuan Aladin yang menggosok teko jin di rumah sakit zaman Aladin itu. Mahasiswa dan LSM mesti melakukan advokasi untuk hal ini. Gubernur Aceh dan anggota dewan harus memberikan sanksi yang tegas. Jika tidak, sampai tutup usia bumi, rumah sakit itu akan tetap menjadi rumah sakit zaman Aladin. Oh, tidak!

* Herman RN, penulis dan cerpenis, tinggal di Banda Aceh. Email: hermanrn13@gmail.com

 

Iklan

Filed under: Opini, , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.399 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: