Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Pungo, Pujian Ureueng Aceh

{Serambi Indonesia, 7 Mei 2017}

oleh: Herman RN , Pengkhidmat sastra dan budaya Aceh, mengajar di PBSI FKIP Unsyiah

kelapa“Biet pungo jih.” Kalimat singkat ini sering terdengar dalam komunikasi sehari-hari masyarakat Aceh. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, kalimat itu berbunyi “Benarbenar gila dia.” Dalam bentuk lain, ada kalimat “Sép pungo, ék jipeulaku ata nyan!” Kalimat-kalimat tersebut tidak selamanya ditujukan kepada orang yang hilang ingatan atau gila, tetapi lebih sering diungkapkan bagi mereka masih waras atau normal. Bahkan, kalimat tersebut bisatertuju kepada rakyat biasa sampai kepada pejabat negara.

Dalam konteks Aceh, makna “pungo” memang tidak jauh beda dengan kata “gila” dalam bahasa Indonesia atau “crazy” dalam bahasa Inggris. Gila berarti ‘sakit ingatan, sakit jiwa, tidak normal, dan yang sejenis dengan
itu’. Demikian tertulis pada laman KBBI. Makna gila yang dimaksud oleh KBBI itu disematkan kepada sesuatu yang negatif.

Orang yang sudah hilang ingatan, misalnya, disebut gila. Dalam bahasa lain dikatakan “sakit jiwa”. Namun, pungo dalam konteks Aceh tidak selamanya bermakna negatif. Pungo tidak selalu hanya disematkan kepada orang sakit jiwa atau hilang ingatan. Pungo dalam makna orang Aceh bisa ditujukan kepada sesuatu atau seseorang yang dianggap luar biasa, yang mampu melakukan suatu hal di luar batas kelaziman. Dalam konteks ini, pungo diartikan sebagai ungkapan pujian.

Maksud yang sama juga kerap kita dengar dalam kalimat bahasa Indonesia yang menegaskan bahwa “gila” tidak selamanya berkonotasi negatif. Kata “gila” juga bisa digunakan untuk menyatakan ketakjuban semisal “Gila, sedap benar kopi di sini.”
Pungo sebagai interjeksi pujian bukanlah makna baru dalam tuturan bahasa Aceh. Sejak dulu, orang Aceh suka menggunakan kata pungo untuk memujiseseorang yang dianggap mampu melakukan hal luar biasa. Tidak diketahui apakah ini bagian dari penerjemahan dari bahasa Indonesia yang juga gemar memuji orang dengan kata-kata “gila”. Pastinya, dalam tuturan lisan, orang Inggris juga terbiasa mengucapkan “He is so crazy can do that!”

Istilah pungo bagi orang Aceh tidak hanya digunakan oleh orang Aceh. Sejak masa perang, Belanda sudah memberikan gelar pungo kepada orang Aceh sehingga ada frasa Aceh pungo. Bagi Belanda, semangat perang dan jiwa patriot yang dimiliki ureueng Aceh merupakan sesuatu yang pungo. Hal ini, setidaknya, tergambar dalam kalimat singkat H.C. Zentgraaff, wartawan masa perang Belanda dalam bukunya yang menyebutkan “Meskipun ditanam bom pada setiap helai rumput yang tumbuh di bumi Aceh, niscaya Aceh takkan takluk.”

Inilah pungo orang Aceh yang sudah diakui oleh Belanda sejak dulu sehingga mereka pada akhirnya meninggalkan bumi Aceh. Sekarang pun, banyak penilaian orang luar bahwa orang Aceh itu pungo. Lihat saja, orang Aceh memanjat pohon kelapa dan pohon pinang dalam keadaan kaki terikat.

Bagi sebagian orang, memanjat pohon dengan kaki terikat tentu suatu hal yang luar biasa, yang layak dianggap pungo. Selanjutnya, pada bulan puasa, salah satu makanan orang Aceh itu adalah rotan. Bayangkan, rotan kok jadi makanan, dimakan sebagai lauk pula. Ini merupakan makanan khas Aceh Selatan di bulan puasa Ramadan.

Sesuatu yang aneh mungkin bagi orang di luar sana, tetapi lumrah bagi orang Aceh. Pungo-nya orang Aceh lagi, mereka bisa menghabiskan waktu di kedai kopi seharian, berbual dengan teman, walau hanya memesan segelas kopi. Bertambah pugo lagi selama ada smartphone, anak-anak Aceh lebih menyayangi handphone mereka daripada dirinya sendiri.

Pungo acap disematkan kepada seseorang yang nekad melakukan sesuatu tanpa menimbang risiko. Dengan demikian, pungo dalam kearifan orang Aceh terkadang memang diperlukan. Hanya dengan karakter pungo, segala sesuatu dapat dicapai. Misalkan saja, soal pembahasan APBA tempo hari.

Mengapa bisa terlambat? Tentu karena anggota legeslatif tidak mau pungo sehingga setiap tahun pembahasan Anggaran Pendapatan Belanja untuk daerah Aceh selalu terlambat.

Tahun lalu, Gubernur Zaini Abdullah pernah berkata bahwa huruf [P] pada kata RAPBA-P tidak selamanya bermakna RAPBAPerubahan, tetapi bisa menjadi RAPBAPungo. Artinya, untuk mencapai target, penuntasan APBA
hanya bisa dilakukan jika dilakoni oleh orang-orang pungo.

Nah,ternyata anggota legeslatif di DPRA tidak sanggup untuk pungo, melainkan seu-iet dengan segala alasan yang dibangun sehingga pembahasan APBA selalu terlambat. Namun, pungo-nya, mereka selalu berdebat soal dana aspirasi agar diperbesar nominalnya. Mengapa titik nol peradaban Islam Nusantara diletakkan di Barus, Sumatera Utara? Hal ini bisa jadi karena orang Medan lebih pungo.

Sebaliknya, orang Aceh lebih banyak seu-iet dalam bayangan nostalgia masa lalu. Tatkala tugu tersebut sudah disahkan di negeri orang, barulah orang Aceh pungo dan gabuak dalam cuca meucuca. Kondisi ini tergambar dalam hadih maja “Jeut keu geuchik lagè boh pik hana sagoe, jeut keu waki lagè keubiri gatai asoe, jeut keu rakyat udah-uduh lagè ureueng pungo.”

Artinya, pungo sudah menjadi karakter orang Aceh. Sumpah serapah yang dilafazkan pun terkadaang pungo. Ada yang au melompat dari menara Masjid Raya Baiturrahman, ada yang sanggup koh jaroe, ada pula yang mau berjalan dari Darussalam ke pusat kota dengan telanjang (hanya pakai celana dalam). Semua sumpah itu mereka ucapkan hanya karena perihal politik pungo sehingga mereka benar-benar pungo.

Jika sumpah itu terlaksana, semakin melekatlah kata Aceh pungo bagi negeri ini, negeri yang sebagian orangnya memang sudah pungo

Iklan

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: