Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Mengapa Barus?

Oleh Herman RN

(Serambi Indonesia, 17 Mei 2017)

kmislamSEJAK istilah “Islam Nusantara” bergulir di Tanah Air, nama Barus mulai disebut-sebut. Upaya penggiringan Barus sebagai titik nol Islam Nusantara pun berujung happy ending setelah Presiden Joko Widodo menandatangani tugu titik nol di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Hal ini merupakan sejarah baru bagi Indonesia bahkan dunia. Presiden Jokowi dianggap sangat berani mengambil risiko menetapkan kota tua Barus sebagai awal mula masuknya Islam ke Nusantara. Dimungkinkan Presiden Jokowi dapat penghargaan suatu hari kelak atas jasanya mendirikan tugu tersebut.

Sejak dulu, para sejarawan dan sastrawan dari Asia dan Eropa sepakat bahwa awal mula Islam masuk Nusantara melalui Aceh. Sejumlah literatur menyebutkan Islam pertama masuk ke Aceh melalui Peureulak sekitar abad 6 Masehi, lalu berkembang ke Pasai sekitar abad 8 Masehi.

Mengutip Ameer Hamzah dalam sebuah catatannya, Aceh sebagai pintu gerbang Islam di Nusantara bukanlah sekadar hikayat atau mitos. Hal ini sudah pernah diseminarkan secara ilmiah tahun 1963. Dalam seminar internasional yang digelar di Medan, Sumatera Utara, itu dihadiri para pakar dari penjuru dunia. Hasilnya disepakati bahwa Islam pertama masuk Nusantara melalui Pereulak, Aceh.

Seminar yang sama pernah digelar di Peureulak pada tahun 1984. Hasilnya masih sama, Peureulak adalah pintu masuk Islam ke Nusantara. Ketika itu, ada wacana pembangunan sebuah tugu penanda masuknya Islam ke Peureulak. Namun, bicara tugu sama halnya dengan bicara batu. Perkara batu bagi masyarakat Aceh yang sangat kental dengan islam, akan selalu berbenturan dengan akidah. Ada anggapan bahwa batu sama dengan berhala sehingga bertentangan dengan islam. Anggapan yang mungkin terlalu berlebihan inilah yang membuat tugu tersebut tidak pernah jadi dibangun di Peureulak hingga sekarang.

Budayawan Nab Bahany mencatat ada tiga kali seminar tentang sejarah dan perkembangan Islam di Nusantara, tahun 1967 di Medan, 1973 di Banda Aceh, dan tahun 1980 di Kualasimpang, Aceh Tamiang. Hasilnya pun masih sama, pintu gerbang Islam di Nusantara adalah Aceh yang berpusat di tiga titik: Peureulak Aceh Timur, Pase Aceh Utara, dan Lamuri Aceh Besar.

 

Unsur Politis

Tatkala Presiden Jokowi menetapkan kota tua Barus sebagai titik nol Islam Nusantara, banyak orang Aceh yang terusik. Ada dugaan bahwa hal itu sarat unsur politis. Tatkala Presiden Jokowi meminta jangan kaitkan agama dengan politik, mestinya beliau juga tidak mengambil kebijakan yang dapat mempengaruhi situasi politik di Tanah Air. Publik di Aceh berhak curiga pada penetapan Barus sebagai titik nol Nusantara, sebab belum ada seminar resmi yang menyebutkan Barus sebagai awal mula Islam di Nusantara. Jikapun ada yang mengatakan bahwa Islam lebih mula masuk lewat Barus, itu adalah temuan terbaru beberapa penulis. Namun, hasil temuan tersebut belum diseminarkan secara nasional sebagaimana dulu ada seminar tentang Aceh sebagai awal mula masuknya Islam.

Aceh sebagai awal mula masuk Islam di Nusantara sudah dibuktikan dalam beberapa seminar internasional dan ditulis dalam banyak buku hasil penelitian. Pubik berhak bertanya atas dasar apa titik nol Islam Nusantara diletakkan di Barus.

Bisa saja penetapan itu terkait pemintaan referendum dari Sumatera Utara. Sejak tahun 2013, beberapa akademisi dari Sumatera Utara sudah menyusun strategi untuk minta “pisah” dari NKRI dengan alasan pemerintah pusat tidak adil terhadap Sumatera Utara. Oleh karenanya, peletakan tugu titik nol Islam Nusantara di Sumatera Utara itu bisa dianggap bagian dari upaya meredam permintaan “merdeka” dari Sumut.

Hal seperti ini sudah pernah dilakukan pemerintah pusat terhadap Aceh. Tatkala Aceh “memberontak” di awal-awal kemerdekaan RI, pemerintah memberikan status “istimewa” bagi Aceh. Ketika Aceh ribut soal agama, pemerintah memberikan status “daerah syariat”. Tatkala Aceh masih saja minta “pisah”, pemerintah memberikan hak otonomi khusus. Maka, bisa saja tugu titik nol Islam Nusantara tersebut terkait permintaan “merdeka” dari Sumut.

 

Sikap Tegas

Sebagai kepala negara, hendaknya Presiden Jokowi jangan terlalu mudah mengambil keputusan, baik menyangkut agama maupun politis. Harusnya hasil seminar skala internasional yang berhak memutuskan letak tugu peradaban Islam Nusantara. Jika memang hasil seminar menetapkan Barus sebagai titik nol Islam Nusantara, ya silakan.

Hal ini penting karena dalam catatan sejarah, baik hasil seminar maupun hasil penelitian, para pakar dari berbagai belahan dunia, mulai Asia hingga Eropa, sepakat bahwa Islam masuk ke Nusantara pertama sekali di Aceh. Hal ini dapat dibaca pada tulisan Ibnu Batutah (Tunisia), Laksamana Cheng Ho (Cina), Prof. Dr. AJ Pijkar (Belanda), Prof. Datok Burhan (Malaysia), Ismail Benjasmish (Patani, Thailand), Ahmad Al Usairy (Arab Saudi), Ahmad Syalabi (Mesir). Nama-nama tersebut merupakan para penulis dan peneliti yang sudah diakui kapasitas dan kapabelitasnya oleh dunia.

Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje, penulis Belanda ini juga mencatat bahwa Islam pertama sekali masuk ke Nusantara melalui Aceh. Beberapa guru besar di Indonesia juga mencatat hal yang sama. Sebut saja antara lain Prof. Dr. Hamka, Prof. Dr. Ibrahim Alfian (UGM), Prof. Dr. Ali Hasjmy (UIN Ar-Raniry), Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary (UI), Prof. Dr. Aboebakar Ajteh (UIN Jakarta), dan sejumlah nama lain yang tidak mungkin diurutkan satu per satu di sini. Mereka semua menulis bahwa Aceh adalah pintu gerbang Islam masuk Nusantara. Hal ini yang menjadi satu di antara sekian alasan Aceh dijuluki sebagai Serambi Mekkah.

Diakui atau tidak, penetapan Barus sebagai titik nol Islam Nusantara terkesan sebagai upaya pengubahan haluan sejarah. Nama Kota Barus memang sudah dikenal sejak abad 6 Masehi, tetapi bukan karena Islamnya, melainkan karena kota ini sebagai penghasil kamper dan kemenyan yang bagus. Sejauh ini, dunia mencatat Barus sebagai penghasil kapur barus, bukan pintu gerbang Islam di Nusantara. Hal ini tercatat dalam buku Lobu Tua Sejarah Awal Barus yang disebut-sebut sebagai salah satu rujukan penetapan titik nol Islam Nusantara. Buku yang diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia tahun 2002 ini ternyata tidak membahas soal Islam Nusantara.

Buku Lobu Tua Sejarah Awal Barus itu merupakan hadiah ulang tahun ke-25 kerja sama antara Ecole francaise d’Extreme-Orient dengan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di bawah pimpinan Hasan M. Ambary. Sekali lagi, buku yang merupakan hasil terjemahan dari bahasa Prancis Histoire de Barus; Le Site de Lobu Tua itu tidak memuat persoalan Islam Nusantara. Lantas, dari mana istilah Islam Nusantara dan penetapan Barus sebagai titik nolnya diambil? Inilah pertanyaan besar untuk sang presiden.

Publik Aceh tidak minta tugu, tetapi juga tidak suka “pengkhianatan sejarah” sehingga menimbulkan konflik antara Aceh dan pemerintah pusat seperti dua puluh tahun silam. Semoga presiden mengerti.

 

 

Herman RN, Sastrawan Aceh.

Mengajar pada Prodi PBSI FKIP Unsyiah.

Iklan

Filed under: Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: