Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Doda Idi, Syair Pendidikan Karakter

Oleh Herman RN

 

Allah hai do kudoda idi/

Tapujoe Rabbi pujoe Rabbana/

Tabalah jasa poma ngön abi/

Bèk Allah bri apui nuraka//

 ayon

MENGAPA ada mitos lelaki Aceh itu lebih suka menikah dengan perempuan Aceh tinimbang perempuan lain luar Aceh? Dalam sebuah hadih maja (peribahasa Aceh) disebutkan nibak tapeugaluy eumpang sira gop, leubeh göt tapasoe eumpang sira droe ‘daripada mengisi kantong garam orang, lebih baik memenuhi kantong garam sendiri. Hadih maja ini lebih kurang mengandung makna “Daripada menikah dengan perempuang asing, lebih baik menikahi perempuan suku sendiri.”

Ungkapan ini tentu saja terkesan primordial, rasis, ekslusif, dan mengandu nilai-nilai negatif. Namun, jika ditilik lebih jauh, ada alasan penting yang diimplisitkan dalam hadih maja tersebut. Bahwa setelah menikah, perempuan diharapkan mampu menjadi istri sekaligus ibu bagi anak-anak. Dalam sebuah jargon disebutkan “baiknya seorang anak karena asuhan ibunya, buruknya seorang anak juga karena asuhan ibunya.” Jargon inilah yang kelak menjawab hadih maja eumpang sira tersebut meskipun peribahasa itu tidak selamanya relevan menurut zaman.

Dalam kehidupan masyarakat Aceh, anak-anak sudah diberikan pendidikan moral dan karakter sejak usia dini, sejak masih dalam ayunan. Nilai-nilai pendidikan karakter dan pembinaan mental tersebut disampaikan melalui syair. Syair-syair itu dibawakan oleh kaum ibu sembari mengayunkan anaknya. Di sinilah letak kelebihan wanita Aceh sehingga selalu jadi pertimbangan bagi lelaki mana pun. Jika selama ini wanita Aceh hanya dikenal sebagai perempuan tangguh di medan perang, di sisi lain sebenarnya wanita Aceh juga seorang ibu yang piawai dalam bersastra, terutama sastra lisan.

Syair yang dibawakan kaum ibu ini disebut dengan syair peuayon aneuk. Syair ini sama seperti syair kelonan dalam tradisi Jawa atau nursery songs dalam masyarakat Inggris. Kekhasan syair peuayon aneuk terletak pada bentuk dan nilai sastra yang terkandung di dalamnya. Bentuk syair ini sama seperti syair umumnya, empat baris dalam satu bait. Namun, bentuk khas pada syair ini ada pada rima. Rima dalam syair peuayon aneuk khas sastra Aceh, rima zigzag, yakni bunyi kata terakhir pada baris pertama berima dengan bunyi kata kedua atau ketiga pada baris kedua dan berima kembali dengan kata terakir baris ketiga. “Allah hai do kudoda idang/ Seulayang blang ka putôh taloe/ Beurijang rayek hai Banta Seudang/ Tajak bantu prang tabila nanggroe// (Allah hai do kudoda idang/ Layang-layang sudah putus benang/ Cepatlah besar hai Banta Sedang/ Bantulah Perang bela negara//.

 

Pendidikan Karakter

Nilai yang terkandung dalam syair peuayôn aneuk berisi nasihat dan pengajaran. Nasihat yang termuat dalam syair peuayon aneuk mulai dari didikan patuh kepada orangtua, takzim kepada guru, tatacara bergaul, menjadi pemimpin, dan sosial bermasyarakat. Hal ini semua mencerminkan pendidikan karakter bagi setiap anak. Selain itu, nilai yang terdapat dalam syair ini antara lain mengenal Tuhan, nabi, malaikat, dan semesta.

Demikian lengkap pesan yang termaktub dalam syair peuayôn aneuk sehingga diasumsikan bahwa anak-anak Aceh sudah diajarkan pendidikan karakter dan moral sejak dari ayunan. Artinya, pendidikan karakter dan revolusi mental bagi masyarakat Aceh bukanlah hal baru, ianya sudah diperkenalkan dari generasi ke generasi sejak zaman dulu. Pendidikan karakter melalui syair ini diperkenalkan setiap ibu-ibu di Aceh tanpa kurikulum, tanpa silabus, tanpa mata kuliah, tanpa diktat, tanpa teks.

Setiap ibu di Aceh mampu membawakan syair peuayon aneuk ini berjam-jam, sejak anak mulai dimasukkan ke ayun sampai anak tersebut terlelap. Terkadang, si ibu pembawa syair bisa “lazat” sendiri dalam syair yang dilantunkannya sehingga lupa pada piring yang belum dicuci atau beras yang sedang ditanak. Begitulah hebatnya syair peuayon aneuk yang dikenal juga dengan sebutan syair doda idi.

 

Doda Idi

Istilah doda idi diambil dari bunyi lariknya. Bunyi yang paling sering ducapkan adalah Allah hai do kudoda idi. Frasa kudoda idi ini sering diulang hampir pada setiap bait. Oleh karena itu, syair peuayon aneuk disebut juga syair doda idi.

Syair doda idi merupakan sastra lisan yang hidup dan berkembang di Aceh sejak masa lampau. Tidak diketahui secara pasti siapa dan kapan syair ini pertama sekali diciptakan. Dari pola dan bentuknya, syair ini sudah ada sejak Islam pertama masuk ke Aceh. Oleh karena itu, pesan-pesan yang terangkum dalam syair ini tidak lepas dari nilai-nilai karakter keislaman. Pendidikan karakter dan revolusi mental yang ditawarkan melalui syair doda idi merupakan pendidikan universal tentang seharusnya seorang anak kepada orangtua; seharusnya seorang murid kepada guru; seharusnya seorang saudara terhadap saudaranya; seharusnya seorang teman terhadap temannya; seharusnya seorang prajurit terhadap pimpinan; seharusnya seorang pimpinan kepada rakyat dan bawahan; juga keseharusan seorang manusia terhadap semesta.

Pendidikan yang terangkum dalam syair ini sangat kompleks dan universal. Luasnya pengajaran yang terkandung dalam syair ini memberi peluang kepada setiap ibu untuk menciptakan bait-bait baru. Misalnya, bagi seorang anak yang sudah yatim, si ibu bisa saja menyisipkan perkara keyatiman tersebut sebagai nasihat bagi anaknya. Peu nyang ma peugah bèk tabantah/ Ingat ayah jinoe hana lé/ Pubuet surôh peujiôh teugah/ Nyang larang Allah bèk pubuet jahé/ (Apa yang ibu sampaikan jangan dibantah/ Ingatlah ayah sudah tak ada lagi/ Kerjakan perintah jauhi yang ditegah/ Larangan Allah jangan kerjakan jahil).

Kepiawan setiap ibu di Aceh membawa syair doda idi ini membuat posisi mereka sama dengan kaum ayah yang pintar membawakan hikayat. Artinya, syair dan hikayat menjadi ciri khas pendidikan dan pengajaran bagi ureueng Aceh sejak usia dini. Hanya saja, kini semuanya mulai bergeser seiring perkembangan zaman. Tukang hikayat sudah langka di Aceh. Demikian pula pelantun syair doda idi. Ibu-ibu yang mahir membawakan syair doda idi saat ini sudah sulit ditemukan. Kalaupun ada, nun di pelosok-pelosok kampung. Adapun di kota-kota, syair doda idi sudah tergantikan oleh musik klasik bahkan dangdut yang diputar di smartphone. Mungkin, kaum ibu di kota perlu belajar pada ibu-ibu di kampung yang masih setia dengan ayun tradisionalnya, yang belum terlalu mengenal android. Pada merekalah, kita bisa tahu tentang anak-anak Aceh yang sudah diajarkan pendidikan karakter dan revolusi mental sejak ayunan hingga ke lianglahat.

 

Herman RN, Pengkhidmat sastra.

Iklan

Filed under: Essay, , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: