Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Ratoh Taloe, Tarian Adat untuk Nelayan

oleh Herman RN

SEKUMPULAN lelaki itu merajut tali sambil duduk. Masing-masing mereka memiliki seutas tali dua meter. Tali itu mereka rajut satu sama lain sehingga membentuk sesuatu yang simbolik. Mereka merajut tali sembari menari, tarian duduk, begitu lebih kurang.

“Ini tari ratoh taloe. Tarian ini dimainkan untuk mengibur nelayan,” ujar seorang lelaki menjelaskan.

Ya, begitulah namanya. Tari ratoh taloe merupakan seni tari yang berasal dari pesisir pantai di Aceh. Seni tari ini terdapat di beberapa daerah Aceh, mulai Aceh Besar sampai Aceh Barat, terutama di sepanjang kawasan pantai. Awal mula muncul tarian ini di Aceh Besar, sekitar abad 15 Masehi. Pada mulanya, tarian ini dilakukan oleh laki-laki. Meskipun pada mulanya dimainkan oleh kaum lelaki bahkan sebagian umum nelayan, dalam perkembangannya, tari ini juga mulai dimainkan oleh kaum perempuan untuk sebuah pagelaran pertunjukan kesenian.

Jumlah penari yang memainkan kesenian ini sebanyak 12 orang atau lebih. Tarian ini dipimpin oleh seorang syeh. Dilihat dari bentuk dan gerakannya, ratoh taloe memang sengaja diciptakan untuk nelayan sebagai hiburan. Keletihan mengarungi laut berhari-hari tergantikan dengan memainkan atau sekadar menyaksikan tari ratoh taloe. Itu sebabnya, tarian ini dimainkan dengan suasana riang gembira. Syair yang mengiri tarian ini pun dilantutkan dengan penuh semangat, bukan syair sedih.

Para penari duduk melipat kaki ke belakang, mereka melakukan gerak tari ratoh umumnya, yakni memainkan tangan sembari duduk. Setelah beberapa gerakan, masing-masing penari mengeluarkan seutas tali. Tali tersebut dijalin satu sama lain mulai dari penari ujung kanan sampai penari di ujung kiri. Tali yang tadinya terpotong-potong, setelah dirajut sesama penari, berubah menjadi satu kesatuan membentuk sesuatu yang simbolik.

Meskipun mereka sedang merajut tali, gerakan yang dilakukan para penari menjalin tali tersebut mengikuti gerak tari yang harmonis dan serentak. Para penari yang satu mengalungkan tali miliknya ke badan teman di samping. Demikian pula teman di sampingnya, mengalungkan talinya ke badan teman yang di samping lagi. kalung-mengalungkan tali inilah kemudian membentuk sesuatu yang khas dan simbolik sebagai wujud saling mengikat, saling bekerja sama, saling membutuhkan.

Dalam kehidupan nelayan, tanpa persatuan dan kesatuan sesama rekan, tentunya rezeki akan jauh dari harapan. Inilah yang disimbolkan oleh gerakan tarian ratoh taloe. Mereka saling mengikat satu sama lain sebagai bentuk kebersamaan. Setelah tali itu diikat satu sama lain, tiba-tiba tali itu bersambung menjadi satu dalam bentuk sesuatu. Ketika para penari merentangkan tangan ke atas dan ke bawah, tampaklah sebuah bentuk dari rajutan tali tersebut. Bentuk-bentuk yang muncul adakalanya berupa jaring ikan. Jika dilihat dari sisi yang berbeda, tali tersebut juga berbentuk bubu—alat tradisional untuk menangkap ikan. Artinya, bentuk-bentuk yang muncul dari tali yang dirajut hasil gerakan ratoh tersebut tidak jauh dari alat-alat yang sering digunakan orang mencari ikan.

 

Dari hiburan ke pertunjukan

Meskipun dulunya tari ratoh taloe semata-mata hanya sebagai hiburan bagi para nelayan, sekarang kesenian ini sudah menjadi tari pertunjukan. Dalam waktu tertentu, tari ratoh taloe juga sudah mulai dipertandingkan. Para pemainnya pun kini bukan hanya laki-laki dewasa saja, tetapi juga mulai dimainkan oleh remaja wanita dan anak sekolah.

Selain menggunakan media tali, tarian ini juga diiringi syair-syair religi dalam bahasa Arab dan bahasa Aceh. Syair-syair tersebut dilantunkan oleh syeh. Para penari kemudian mengulangi bait tertentu sembari tetap dalam gerakan tari. Dari syair yang dilantunkan, terkesan bahwa tari ini diciptakan oleh Syeh Ahmad Bardan, sebab namanya disebut dalam pengantar syair tari Ratoh Taloe.

Hoo cahya alah hot

Lam bhot yaho Allah

Hee yaho le yahot

Lam hai lambot

Syeh Ahmad Badhon Badhon

Allah jalla la e laho sada

Karena gerakan tari ini hanya dilakukan sambil duduk, kesenian ini tidak membutuhkan tempat yang terlalu luas. Dulu, para penari yang sebagian nelayan hanya membutuhkan sedikit tanah datar untuk melakukan tari ini. Mereka menari di tempat teduh, tidak jauh dari bibir pantai. Sekarang, tarian ini mulai dibawa ke atas panggung. Lokasi yang dibutuhkan cukup untuk sejumlah penari saja.

Selain itu, kostum yang digunakan juga tidak terlalu mencolok. Para penari cukup mengenakan kaos putih dan celana putih seperti yang digunakan para penari seudati. Awal mula kemunculannya, tarian ini tidak diiringi musik. Kekuatan tari ratoh taloe ada pada gerakan tangan para penari. Mereka menggerakkan tangan secara harmonis dan tersistem sehingga tali yang tadinya terpisah satu sama lain bisa dijalin membentuk sesuatu yang utuh. Makna yang hendak diungkapkan di sini antara lain, dengan bersama sesuatu yang terpisah bisa disatukan; dengan kebersamaan, sesuatu yang berat bisa menjadi ringan.

Dalam perkembangannya, tari ratoh taloe juga sudah mulai diiringi musik tradisional rapai. Kebiasaan orang dahulu, mereka memainkan tarian ini menjelang gelap atau di malam hari. Sekarang, tarian ini bisa dimainkan kapan saja sesuai permintaan dan kebutuhan.[sumber: buletin tuhoe JKMA Aceh edisi 2017]

Iklan

Filed under: Essay, , , ,

2 Responses

  1. yellsaints berkata:

    Ratoh taloe ini sama dengan tari tarik pukat kan? Wah,,, ternyata awalnya para penarinya laki2 ya? Sekarang malah ditariin sm perempuan dgn penampilan mencolok.

  2. lidahtinta berkata:

    Beda kedua tarian itu pada syairnya. Dalam tari tarek pukat dibawakan syair tarek pukat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: