Alasan Banyak Istri dan Sunnah Nabi

oleh Herman RN

SERING kita mendengar bahwa alasan poligami adalah untuk mengikuti sunnah nabi. Maksud sunnah nabi di sini meneladani Baginda Rasulullah Muhammad saw. Atas alasan ini pula, punya lebih dari satu istri tidak hanya dilakoni oleh orang biasa atau orang kaya, tetapi juga para ustaz dan mualim.

Read More »

Iklan

Ratoh Taloe, Tarian Adat untuk Nelayan

oleh Herman RN

SEKUMPULAN lelaki itu merajut tali sambil duduk. Masing-masing mereka memiliki seutas tali dua meter. Tali itu mereka rajut satu sama lain sehingga membentuk sesuatu yang simbolik. Mereka merajut tali sembari menari, tarian duduk, begitu lebih kurang.

Read More »

Doda Idi, Syair Pendidikan Karakter

Oleh Herman RN

 

Allah hai do kudoda idi/

Tapujoe Rabbi pujoe Rabbana/

Tabalah jasa poma ngön abi/

Bèk Allah bri apui nuraka//

 ayon

MENGAPA ada mitos lelaki Aceh itu lebih suka menikah dengan perempuan Aceh tinimbang perempuan lain luar Aceh? Dalam sebuah hadih maja (peribahasa Aceh) disebutkan nibak tapeugaluy eumpang sira gop, leubeh göt tapasoe eumpang sira droe ‘daripada mengisi kantong garam orang, lebih baik memenuhi kantong garam sendiri. Hadih maja ini lebih kurang mengandung makna “Daripada menikah dengan perempuang asing, lebih baik menikahi perempuan suku sendiri.”

Read More »

Pungo, Pujian Ureueng Aceh

{Serambi Indonesia, 7 Mei 2017}

oleh: Herman RN , Pengkhidmat sastra dan budaya Aceh, mengajar di PBSI FKIP Unsyiah

kelapa“Biet pungo jih.” Kalimat singkat ini sering terdengar dalam komunikasi sehari-hari masyarakat Aceh. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, kalimat itu berbunyi “Benarbenar gila dia.” Dalam bentuk lain, ada kalimat “Sép pungo, ék jipeulaku ata nyan!” Kalimat-kalimat tersebut tidak selamanya ditujukan kepada orang yang hilang ingatan atau gila, tetapi lebih sering diungkapkan bagi mereka masih waras atau normal. Bahkan, kalimat tersebut bisatertuju kepada rakyat biasa sampai kepada pejabat negara.

Read More »

Teks Sastra dan Kehidupan Sosial

Esai: Herman RN

(Serambi Indonesia, 6 Maret 2016)

KARYA sastra merupakan representasi sebuah zaman. Setiap teks sastra tidak bisa pula lepas dari kondisi sosial pengarang dan kehidupan sosial penikmat. Teks-teks sastra semisal Hikayat Prang Sabi, Hikayat Prang Kompeuni, dan sejenisnya lahir dari kondisi sosial masyarakat Aceh saat itu yang masih dalam suasana perang. Novel-novel kontemporer dewasa ini pun lahir dari kondisi setiap pengarang dan latar sosial suatu masyarakat. Sebab itu, sebuah teks sastra tidak lepas dari pengarang dan zaman.

Read More »