Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Menelaah Mukim di Aceh

oleh Herman RN

Judul Buku               : MUKIM MASA KE MASA

Penulis                      : Harley (editor)

Penerbit                    : Jaringan Komunitas Masyarakat Adat (JKMA) Aceh

Tebal                         :

Cetakan                     : Januari 2008

Mengakaji Aceh adalah mengulas sejarah pembentukan sebuah pemukiman yang teramat panjang, alot, dan berliku. Aceh yang masa lampau terkenal dengan sejarah kegemilangannya, yakni masa kerajaan Sultan Iskandar Muda, dengan luas wilayah mencakup sebagian Selat Malaka, ternyata memiliki peradaban mundur di bidang kekuasaan wilayah beberapa abad kemudian. Hal ini tergambar jelas saat Aceh menjadi bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tentunya saja hal ini mendatangkan beberapa pemberontakan baru di Aceh, salah satunya DI/TII, yang dipimpin Daud Beureueh.

Akhirnya, tahun 1950-an, Aceh diresmikan menjadi provinsi baru di Indonesia. Namun, relasi Pemerintah Pusat (Jakarta) terhadap Aceh belum berakhir. Aceh kembali dalam amuk. Untuk meredamnya, pemerintah pusat memberikan predikat “Istimewa” kepada Aceh. Konflik pun meredam.

Ternyata hal itu tidak berlangsung lama. Kekuasaan rezim Orde Baru memperlihatkan “kukunya” di Aceh. Wilayah yang sudah terbiasa dengan mukim dan gampông diubah namanya menjadi “desa”, yang sistem kekuasaannya disetarakan di seluruh provinsi yang ada di Indonesia. Tentu saja hal ini menjadi masyarakat Aceh, terutama golongan bawah terjepit, terhimpit, dan tertekan. Sistem kewedanan sentralisasi yang diterapkan rezim Orba menjadikan hasil alam sepenuhnya dikelola oleh pusat. Padahal, Aceh merupakan wilayah penyumbang hasil alam terbesar untuk negara. Hal ini dapat dilihat dari PT Arun, PT Kertas Kraff Aceh, PT Semen Andalas, juga dari hasil pertanian dan hutan. Maka pemberontakan baru pun dimulai di Aceh. Senjata kembali diangkat, rencong kembali dikeluarkan dari sarungnya. Akan tetapi, kecamuk berkahir dengan hadiah baru dari pusat, yakni Otonomi Khusus.

Buku “Mukim Masa ke Masa” mencoba menelaah semua masalah itu. Ternyata, kekuasaan dan kewilayahanlah yang menjadikan masyarakat bawah termarginalkan. Hal ini diulas habis oleh Harley dalam “Mukim Masa ke Masa”.

Buku yang diterbitkan hasil kerja sama JKMA Aceh dan ICCO itu mengajak kita menyelami Aceh masa lalu, masa sekarang, dan harapan masa datang. Karena itu, kami berpendapat, buku ini layak dibaca oleh siapa saja, bagus untuk tambahan referensi bagi yang ingin mengetahui lebih banyak tentang Aceh dan sejarah kekuasaannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: