Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Manakala Anak Aceh Berkata tentang Damai

 Oleh Herman RN  dsc00297.jpgResensi Buku

Judul Buku                 : MeusyenPenulis                        : Raysa kamila, dkk.Editor                          : AzhariDesain Sampul           : Alfi TattoPenerbit                      : Aneuk Mulieng PublishingTerbitan                      : November 2006Tebal Buku                 : 327 halaman + cover 

Kerinduan merupakan suatu hal lumrah bagi manusia normal. Rasa yang lama terpendam menginginkan sesuatu, entah itu harapan atau hanya sekedar keinginan untuk merasa, dapat disandingkan dengan kata rindu. Rindu bagi Aceh adalah sebuah harapan mendapatkan kedamian. Hal itu telah terealisasi sejak ditandatanganinya perjanjian damai antara pemerintah Repubublik Indonesia (RI) dan
Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

            Selama konflik berkepanjangan melanda bumi Iskandar muda itu ada
orang-orang yang mencoba menuangkan keadaan Aceh tersebut ke dalam bentuk tulisan, baik fiksi maupun nonfiksi. Banyak pendapat bertebaran yang ditulis oleh
orang nonAceh menyikapi situasi Aceh semasa konflik hingga masa perdamaian.
Ada yang mencoba menggambarkan kampung, ada pula yang mencoba melukiskan posisi rawan masyarakat sipil di tengah suara senjata.

Banyak dan beragam sekali pendapat-pendapat dituliskan orang ke dalam bentuk fiksi, karena dengan fiksi
orang memang dapat berkata lantang dan melebihi tajamnya tulisan nonfiksi. Oleh karena, pemaparan dalam sebuah fiksi dapat multy tafsir, penulis akan berlindung jika suatu waktu ada kecaman datang meneror dirinya. Namun, jika ditulis dalam bentuk nonfiksi, fakta dan kenyataan memang harus yang sesungguhnya. Penulis tak dapat berkelit.

Nah, jika selama ini cerita tentang Aceh hanya ditulis oleh
orang-orang di luar Aceh, bagaimana jika cerita tentang Aceh tersebut ditulis oleh asli anak Aceh yang mengalami keadaan konflik tersebut? Apa pendapat orang Aceh, terutama anak-anak usia sekolahan tentang Aceh yang konflik dan Aceh yang damai. Hal ini dapat kita lihat dalam 30 naskah cerpen yang terkumpul dalam sebuah buku berjudul “Meusyen”.

Kumpulan cerpen itu ditulis oleh 30 anak muda yang berusia 14 sampai 25 tahun. Sebagai anak yang masih berusia sangat muda, tentu gejolak rasa sangat beragam dalam hati mereka. Akan tetapi, bagaimana rasa yang ada di hati mereka terhadap sebuah perdamaian? Raysa Kamila misalnya, memendam sebuah keinginan untuk dapat duduk di pantai Lhok Nga—salah satu pantai di Banda Aceh.

Siswa kelas 1 SMA itu menggambarkan keinginan tokoh dalam ceritanya sangat sederhana, yaitu ingin duduk di pantai Lhok Nga seraya menikmati mata hari yang hampir tenggelam di kala sore. Setelah sekian lama si tokoh melarikan diri ke
Jakarta, dia mendengar kabar, kampungnya sudah aman dari desingan peluru. Maka sekarang dia ingin melepas kerinduannya terhada pantai Lhok Nga. Damai bagi si tokoh adalah dapat menikmati cahaya mata hari tenggelam dari pantai Lhok Nga.

Damai boleh saja datang, tetapi kenangan di masa konflik tidak mudah lekang. Hal ini tergambar hampir pada semua cerita dalam buku itu. Sudut pandang yang beragam merupakan sebuah permainan dalam cerita-cerita tersebut yang membuat pembaca terkadang seperti dihimpit-lepaskan oleh parapenulis. Bayangkan saja, sedang asyik-asyiknya pembaca terlena dengan cerita seorang lelaki yang ditembak oleh tentara, lalu istri lelaki itu diperkosa, dan anaknya dibunuh. Disaat pembaca sedang asyik menanam kebencian terhadap tentara, tiba-tiba judul di depannya merupakan sebuah kisah yang mengambil sudut dari paratentara yang berjuang sebagai pembela negara. Hal ini dapat kita lihat pada cerita yang berjudul, “Aceh,
Kembalikan Papaku.”

Cerita itu melukiskan seorang anak Jawa yang diboyong oleh keluarganya tinggal di Aceh. Ayah si tokoh yang berkerja sebagai tentara, selalu mengerjakan tugas yang diemban padanya. Suatu hari tentara itu ditugaskan menyisir sebuah kampung agar bersih dari pengacau. Sebagai pembela negara, tentu saja dia meras terhormat dapat membersihkan salah satu kampung dari pengacau. Sayangnya, tentara itu mati tertembak.

Sejak kematian ayahnya, anak Jawa yang masih lugu itu diajak ibunya kembali ke Jawa. Tentu saja dia akan bertanya, “Ayah mengapa tak ikut pulang?” Namun, jawaban apa yang dapat diberikan seorang ibu?

Pasca Perjanjian Damai

Setelah perjanjian damai, tentara dipulangkan, dan senjata awak GAM dipotong. Namun, apa yang terjadi dalam cerita “Sehelai Senjata” miliknya Evi Rosita? Dalam cerpen itu digambarkan senjata di tokoh bukanlah senapan seperti layaknya senjata parapejuang, tetapi hanya sehelai bendera. Apakah dia juga akan menyerahkan benderanya untuk dirobek-robek oleh Aceh Monitoring Mission (AMM) dengan mesin pemotong senjata?

Tema yang kocak tentunya dalam cerita itu.
Ada nilai dendam dalam yang disuguhkan dengan beragam corak dalam naskah-naskah Meusyen. Rasa pesimisme akan langgengnya perdamian di negeri Serambi Makkah pun tersirat dalam beberapa karya. Bahkan, ada yang masih menilai kehidupan masa perang lebih baik dari pada masa damai. Misalkan saja pada judul “Nikah”. Tokoh dalam cerita itu berpendapat bahwa di masa perang banyak yang menikah, lalu suaminya lari ke gunung, tetapi masih sempat mencuri-curi waktu untuk pulang menjenguk istri. Namun, semenjak perdamaian terjadi, sang suami yang tentara kembali ke kekampungnya, katakanlah ke
Jakarta. Sang suami itu bertugas di
Jakarta dan tidak pernah kembali ke Aceh. Bukankah menikah masa perang lebih baik dari pada menikah masa damai?

Sungguh memukau pendapat anak muda Aceh tentang sebuah perdamian. Membaca buku ini setengah-tengah dapat membuat pembaca memihak sebelah pihak. Tetapi, membaca keseluruhan judul dalam buku ini, maka sebuah kepiluan anak Aceh akan dirasakan. Meski beragam, semua temanya tetaplah meusyen.

Meusyen adalah kosa kata Aceh yang jika diIndonesiakan kurang lebih artinya rindu yang sangat mendalam. Rindu sebuah perdamian, rindu akan ayah pulang, rindu melihat mata hari terbenam, rindu melihat senyum ibu, rindu berkumpul dengan teman-teman, dan entah macam rindu apa lagi yang dapat kita lihat dalam buku yang diterbitkan Aneuk Mulieng Publishing itu.

Wajar saja, Azhari, seorang penulis cerpen Aceh yang menjadi editor buku itu berpendapat bahwa jika selama ini kita hanya mendengar pidato tentang perdamian Aceh, maka dalam buku ini, penulis berusaha memindai dirinya sehingga tidak terkesan seperti pidato, melainkan sebuah perasaan yang alami.

Bagi mereka yang ingin tahu persaan anak Aceh terhadap sebuah perdamaian, buku ini tentunya sangat layak dikonsumsi.

                                                             Herman RN, cerpenis,  penulis lepas dan                                                             Pegiat kebudayaan.

4 Responses

  1. &to berkata:

    aku juga lagi nulis novel ttg seorang jawa yang kebtulan berprofesi sbg tentara dan ditugaskan ke aceh. ia kmudian menjalin asmara dng cewek lokal

  2. lidahtinta berkata:

    Kelihatan seru, semoga dapat saya baca kelak

  3. Nana Cicio berkata:

    matahari pasti akan kembali…dan pelangi akan hadir dan membuat INDONESIA menjadi lebih berwarna…semoga matahari akan tersenyum dgn sempurna dipantai lhoknga…dan semua mata bisa memandangnya dgn tatapan penuh cinta…tanpa da perbedaan…karena bagaimanapun ga da yang salah dengan perbedaan, hanya bagaimana cara logika kita menyikapinya…

  4. om bar berkata:

    maju terus, jangan pernah berhenti berjalan karena badai, karena bbadai akan berhenti berjalan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: