Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Tunjuki Kami Jalan Pulang

oleh Herman RN
[sumber, Serambi Indonesia, 25 Agustus 2010]
SUDAH fitrahnya menyongsong bulan Ramadan dan hari raya, banyak orang mudik. Mereka butuh jalan untuk pulang ke kampung masing-masing. Tentunya jalan yang aman dan nyaman dilalui, baik perjalanan siang maupun malam.

Alangkah miris hati saya membaca berita di sejumlah media, jalan lintas Geumpang-Meulaboh mulai ada perampokan. Satu keluarga dirampok saat melintas jalan tersebut. Para korban diminta terjun ke jurang (Serambi, 19 Agustus).

Ini adalah berita menarik sejak dibukanya jalan Geumpang menuju Meubaloh, pascatsunami lalu. Karena itu, saya terus menunggu-nunggu kelanjutan berita yang dimuat di halaman depan oleh media ini. Sayangnya, entah wartawan sengaja tidak mem-follow-up beritanya atau memang polisi tidak mau berkomentar tentang itu karena perampoknya bawa senjata, sampai sekarang soal perampokan dan jaminan kenyaman jalan lintas Geumpang belum ada.

Jalur Calang
Jalan lain menuju belahan Bumi Teuku Umar dan Bumi Teuku Cut Ali adalah jalur Calang, Aceh Jaya. Jalan ini, sebelumnya penuh rakit sehingga barangsiapa yang hendak bepergian semisal Banda Aceh-Meulaboh dan sebaliknya, harus menaiki banyak rakit. Akan tetapi, lintasan tersebut menjadi lebih baik masa pemerintahan Prof. Ibrahim Hasan, MBA. menjabat sebagai gubernur. Semua rakit ‘disulap’ menjadi jembatan. Nyamanlah pengguna jalan.

Seperti diketahui, musibah mahadahsyat gempa disusul tsunami akhir 2004 lalu telah meluluhlantakkan sebagian wilayah Aceh. Terparah pesisir barat. Jalan lintasan Banda Aceh-Calang menjadi ‘laut’ seketika. Hal ini membuat mata dunia terpaku pada Aceh. Bantuan mengalir, termasuk untuk pembangunan jalan lintasan Calang tersebut.

Tentu saja dana untuk membangun jalan itu tidak sedikit. Akan tetapi, lihainya pembangunan masa Badan Rehabilitasi Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias meyakinkan masyarakat bahwa pembangunan jalan itu tuntas pada 2010. Bahkan, menjelang berakhir tugas BRR, media sering memberitakan komitmen para penguasa, baik BRR maupun pemerintah, bahwa pembangunan jalan itu tuntas dan dapat dinikmati oleh masyarakat sebelum BRR ‘hengkang’ dari Aceh. Buktinya?

Ditinggal pergi oleh BRR, kendali rehabilitasi dan rekonstruksi dipegang Pemerintah Aceh. Sejak itu, jalan lintas Calang dapat dikatakan tidak tersentuh sama sekali. Bahkan, Pemerintah Aceh malah sibuk dengan urusan tetek bengek seperti penjualan besi jembatan dan penjualan hutan. Semua tahu bahwa para pejabat itu dapat menggunakan pesawat udara ke mana mereka mau pergi, termasuk ke pesisir barat-selatan yang paling terpencil. Namun, bagi masyarakat kecil, pedagang, dan mahasiswa, jalan darat dianggap paling efektif dan sesuai ‘kantong’. Alangkah malang nasib rakyat kecil terlebih lagi mahasiswa yang kuliah di Banda Aceh. Setahun sekali hendak mencium lutut orantuanya atau untuk melihat kubur orangtua mereka di kampung, tapi mereka tidak tahu harus pulang jalan mana. Lewat Calang hancur-hancuran, lewat Geumpang ada perampokan.

Tahun lalu, saya sendiri sempat melihat dan mengalami langsung macet di lumpur Calang hingga hampir dua jam. Mobil-mobil tak tentu arah lagi. Ada yang dari Banda Aceh, tapi kepala mobil malah sudah berbalik ke Banda Aceh lagi, demikian juga yang dari wilayah barat-selatan. Lumpur lebih tinggi daripada ban mobil L-300, kala itu.

Baru-baru ini saya kembali melewati lintasan tersebut. Karena cuaca sedang bagus (cerah), pengguna jalan jadi makan debu. Demikian juga dengan masyarakat kawasan tersebut. Dapat dibayangkan doa dan kutukan mereka untuk para pemimpin negeri ini saban hari oleh sebab musim hujan mereka ‘mandi lumpur’ dan musim panas ‘makan debu’. Saya khawatir, karena doa itu sudah dilisankan setiap hari oleh banyak orang bahkan orang teraniaya pula, suatu saat azab Tuhan benar-benar mengenai para pemimpin tanah ini, tidak terkecuali anggota dewan yang katanya pembawa aspirasi rakyat. Semoga tidak ada yang mengamini kalimat ini.

Betapa ketakutan akan jalan itu tidak dibangun semakin nyata dengan pemberitaan Serambi (Senin, 23 Agustus) kemarin. Pembangunan ruas jalan di Aceh dengan sistem multiyears berakhir, demikian kata berita. Sehari sebelumnya diberitakan pula bahwa Pemerintah Aceh sedang menggalakkan hubungan bilateral untuk pembangunan jalan lintas timur, Banda Aceh-Medan.

Semakin mafhum saya bahwa pembangunan jalan lintas Calang itu sengaja diperlambat-jika tak mau disebut memang tidak diopen-agar dapat dikapling-kapling sebagai proyek tahunan. Anehnya, anggota dewan diam saat pemerintah berdalih. Lembaga yang dianggap sebagai kontrol pemerintah ternyata malah dikontrol oleh pemerintah.

Pembangunan jalan lintas Banda Aceh-Meulaboh memang sudah dibangun, tetapi hanya sampai kawasan Aceh Besar. Sejak selesai jalan di kawasan Aceh Besar itu, tidak ada lagi kelanjutan pembangunan jalan ke arah sana. Lagi-lagi untuk wilayah peisir barat, mulai Lamno, Aceh Jaya, sampai ke Aceh Selatan, mungkin juga Singkil, jadi marginalisasi pemerintah periode kini.

‘Peng-anaktiri-an’ barat-selatan semakin nyata dengan sudah selesainya pembangunan jalan lintas Gunung Seulawah dan beberapa ruas lainnya di wilayah timur padahal pembangunan jalan wilayah Calang lebih dahulu dikerjakan. Bukan berarti saya tidak menyetujui pembangunan jalan lintasan timur/utara Aceh. Saya sangat sepakat. Akan tetapi, berlaku adillah, karena adil mendekatkan diri pada taqwa (firman Allah swt.) dan menjauhkan diri dari sumpah serapah rakyat jelata.

Kejanggalan atas nama pembangunan jalan kian menyesakkan dada. Belum tuntas di wilayah Calang, kini sudah dibangun pula jalan tembus Aceh Barat melalui Pidie. Jalan lintas tersebut berujung di Gunung Aneuk Manyak, sudah selesai diaspal hotmix sekitar 15 kilometer. Bukankah ini lucu, karena jalan lintas Geumpang masih dapat digunakan. Memang jalan Geumpang itu pangkalnya ada di Beureunuen, Pidie Jaya. Namun, Pidie Jaya dan Pidie itu masih ‘sejengkal’. Hemat saya, lebih baik pembangunan jalan lintas Beureunuen-Gempang-Meulaboh yang diperbaiki, bukan malah menebang hutan untuk membuka jalan lain, yang masih tumpang tindih ujungnya dengan jalan dari Beureunuen.

Tunjukkan kami jalan pulang yang sebenarnya untuk wilayah barat-selatan. Hanya ini yang dapat diungkapkan oleh masyarakat, karena doa belum jadi kata. Padahal, jika gubernur dan wakilnya sekarang mau menyelesaikan pembangunan jalan Calang tahun ini, modal kampanye untuk Pilkada ke depan sudah ada. Bukankah kearifan indatu mengajarkan rakyat Aceh untuk selalu ingat kepada yang berjasa? Ibaratnya, “Tajak u pasie tatarek pukat, ladom bak lamat, ladom bak punca. Putéh tuleueng lon di dalam jeurat, mantong teuingat keu guna gata.”

* Penulis berasal dari barat-selatan Aceh. Domisili di Banda Aceh.

Iklan

Filed under: Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: